Shadow Agen

Shadow Agen
Khawatir


__ADS_3

"Haah akhirnya selesai juga..." Sein menghembuskan nafas lega sambil menyandarkan tubuh nya ke dinding. Melawan semua orang itu hanya berdua saja cukup membuatnya kelelahan.


"Ya... Akhirnya semuanya beres.  Tapi bagaimana lainnya ya?" Tanya Riz yang baru saja mengikat mereka semua.


Sein terdiam.  Ia juga tidak tau bagaimana kondisi lainnya. Semoga saja semuanya baik baik saja.  Tapi... Setelah di ingat ingat bukannya tadi ada suara tembakan?


"Tunggu, tadi ada suara tembakan bukan?" Tanya Riz.


"Benar juga!  Ayo cepat!! " Sein langsung menarik tangan Riz membuat pemuda itu hampir terjatuh karena kurang menjaga keseimbangan.


Main tarik begitu saja. Memangnya dia kira Riz itu apa?


"Woy woy!!  Hati hati!!!" Protes Riz tapi malah di abaikan.


Tentu saja ia khawatir dengan Revan.  Ia baru ingat jika batas waktu nya sudah habis bagaimana kondisi Revan sekarang? Avren pasti sudah mengetahui nya bukan? Ditambah suara tembakan tadi,  apa mungkin ada anggota Dark Devil yang menyerang?  Jadi dengan kata lain orang orang yang dirinya dan Riz lawan tadi hanyalah sebagai pengalih perhatian.


Sungguh,  Sein ingin merutuki dirinya sendiri yang kurang peka dengan itu.  Masalah seperti ini saja dia tidak peka,  apalagi tentang masalah perempuan?


Dengan  cepat, Sein menarik Riz ke lokasi gedung itu. Namun,  sesampainya di depan ia tidak melihat Rei di manapun.  Rasa khawatir dalam dirinya semakin besar.


Bertambah sudah kekhawatiran nya. Dimana anak itu?  Apa dia ikut masuk ke dalam?


"Coba hubungi Rei. Aku akan coba ke dalam." Pinta Sein.  Riz mengangguk.  Sein pun langsung berlari masuk ke dalam berharap kekhawatiran nya tidak benar.


Pria berkacamata itu terus berlari menyusuri setiap ruangan mencari keberadaan dua pemuda itu.  Namun tidak juga ketemu.


"Raile!!  Ren!!  Kalian di mana?" Sein berseru memanggil keduanya.  Jujur saja,  ia tidak bisa berfikir jernih sekarang.  Posisi nya sungguh tidak menguntungkan.  Jika terjadi sesuatu pada Revan sudah jelas ia yang akan kena marah agen Raka. 


Di sisi lain,  jika ia ketahuan sudah jelas akan di hajar habis habisan oleh Avren.  Belum lagi rasa bersalah karena Revan yang di siksa.


"Agen Sein!!" Terdengar suara Raile memanggilnya.  Dengan cepat,  Sein pun langsung berlari menghampiri pemuda itu.


Ia cukup terkejut saat sampai di lokasi.  Terlihat tiga pria yang terbaring tidak sadarkan diri dengan tangan dan kaki yang terikat.  Di sisi lain,  Raile yang terlihat sangat khawatir dan Revan yang juga tidak sadarkan diri.


Tunggu, apa? Apa terjadi sesuatu pada Revan?


Dengan cepat,  Sein pun langsung menghampiri mereka. "Raile ada apa?  Kau baik baik saja?" Tanya Sein khawatir.


Raile mengangguk. " Iya aku baik baik saja.  Tapi,  Ren... Mendadak dia kesakitan dan pingsan.  Aku khawatir dia kenapa napa." Jelas Raile.


Ia memperhatikan kalung yang terpasang di leher nya. Kalung itu sudah aktif yang artinya Revan pingsan karena sengatan listrik dari Avren.

__ADS_1


"Ada apa? Ren baik baik saja kan?" Tanya Raile khawatir.


Sein mengangguk pelan.  Sejujurnya ia sendiri tidak tau harus menjawab apa pada Raile.  Ia bersyukur setidaknya identitas asli Ren tidak diketahui oleh Raile.


"Lebih baik kita cepat membawa nya ke rumah sakit." Ujar Sein sambil menggendong Revan.  Raile pun mengangguk dan mengikuti senior nya itu.


Sementara,  Riz masih belum bisa menghubungi Rei.  Dicoba berulang kali pun tetap nihil.


Ia cukup khawatir.  Apalagi jika kasus seperti ini jelas berkaitan dengan Dark Devil. Ia takut jika rekan nya itu sampai tertangkap.


"Duh...  Ngilang kemana sih tuh anak?  Gak diculik karena ditawarin permen kan?" Pikir Riz.


Memang nya dia kira Rei itu anak kecil?


Walau kenyataan nya memang di culik sih...


"Riz!"


Riz langsung menoleh.  Detik itu juga ia cukup terkejut melihat Ren yang di gendong Sein dengan keadaan  tidak sadarkan diri.


"Ada apa dengan nya?" Tanya Riz sambil mendekati nya.


Riz sedikit memperhatikan. "Langsung bawa ke rumah sakit saja."


Sein mengangguk.  Tapi seketika langkah nya kembali terhenti. "Dimana Rei?"


Lantas Riz menggeleng. " Gak ketemu. Ku telfon juga gak angkat.  Semoga aja gak di culik."


****


Seorang pria berkaos kuning dengan jaket hijau berjalan menuju suatu ruangan.  Tangan nya sedikit berkeringat dan wajah nya terlihat tegang sekaligus khawatir.


Ia baru saja menerima laporan jika ketiga rakan nya sudah tertangkap.  Ditambah lagi, apa yang menjadi 'barang berharga' bagi tuan nya juga kini bersama dengan Shadow Agen. Entah apa yang akan Avren lakukan padanya saat ia menyampaikan hal itu nanti.


Langkah nya terhenti tepat di depan suatu ruangan.  Dalam hati ia jelas merasa ragu untuk masuk. Tapi mau bagaimana lagi? Berharap saja ini bukan akhir hidup nya.


Tok tok tok!


Pintu di ketuk meminta izin untuk masuk.


"Masuklah." Sahut sebuah suara dari dalam.

__ADS_1


Perlahan,  pria itu membuka pintu dan masuk.  Terlihat jelas pria ber iris jingga yang sedang duduk dan menatap nya tajam.  Itu membuat nyali nya ciut seketika. 


"Bagaimana perkembangan nya?" Tanya Avren masih dengan ekspresi yang sama.


Soni, pria itu, menarik nafas mencoba membuat dirinya setenang mungkin. "Kami gagal membawa nya kembali tuan. Rekan ku yang lain juga tertangkap." Ucap nya sedikit menundukkan kepala.


BRAK!


Avren memukul meja dengan kuat membuat suara pukulan itu menggema di ruangan. Seperti yang Soni duga, ia pasti akan di marahi habis habisan sekarang.


"Bagaimana bisa tertangkap hah?! Dasar tidak berguna!! Kupikir kalian bisa mengatasi nya tapi ternyata tidak!" Bentak Avren di tengah emosi nya.


"Maaf tuan. Saya... Akan mencoba untuk membebaskan mereka."


Avren berdecak kesal. "Lakukan dengan cepat."


"Baik tuan!" Ucap nya mantap dan berbalik. Namun ia baru ingat jika dirinya juga sempat menangkap seseorang tadi. "Tuan, saya sempat menangkap satu orang anggota Shadow Agen."


Avren mengangkat sebelah alis nya. "Bawa kemari." Perintah Avren.  Soni hanya mengangguk dan segera membawa Rei.


Tidak butuh waktu lama, seorang  pemuda dibawa masuk dengan kondisi tangan yang terikat di belakang.  Mulut nya di bungkam menggunakan kain membuat pemuda itu sulit untuk berbicara.


Avren menyeringai melihat pemuda yang mencoba memberontak itu. "Bagus. Setidaknya kali ini kau melakukan sesuatu yang berguna. Tinggalkan dia di sini."


Soni mengangguk dan langsung melangkah keluar. 


Sementara itu, Avren memandang pemuda di hadapan nya. Ia melepaskan kain yang menutup mulut Rei.


"Sialan! Lepaskan aku!!!" Seru Rei kesal.


"Lepaskan? Tidak tidak, aku membutuhkan diri mu untuk membantu rencana ku."


"Apa maksud mu hah?!"


"Melakukan percobaan pada senjata ku."


"Maksud mu Revan? Awas saja jika kau berani melukai nya!"


Avren tertawa kecil. "Aku tidak peduli selama rencana ku berjalan dengan lancar."


TBC

__ADS_1


__ADS_2