Shadow Agen

Shadow Agen
Pencurian berlian (part 2)


__ADS_3

Rei dan Raile pun berlari menuju bagian samping gedung dan ikut membantu membawa paket yang ada di sana. Sedangkan Riz, dia terlihat sedikit bingung harus melakukan apa. Akhirnya, ia pun berjalan santai menuju pintu.


"Hai paman... Permisi... Riz yang ganteng mau lewat... " Ucapnya santai.


"Kau anak siapa? " Tanya salah satu penjaga.


"Anak burung. Ya anak orang lah... Ada barang yang lupa ayahku bawa. Jadi boleh masuk kan?" Tanya Riz.


"Um ya silahkan. "


Riz pun berjalan santai sambil tersenyum manis 'ternyata tak terlalu sulit. Aku terlalu khawatir pada hal yang tidak tidak.'


Saat sampai di dalam, suasana ramai pun menyambut. Riz. Pun memutuskan untuk mengambil tempat duduk. Tak lama kemudian, terlihat seorang pria menggunakan kemeja orange dengan jas hitam mendekat dan duduk di hadapan Riz.


"Hey, kau datang sendiri nak? " Tanya pria itu.


"Ah, aku bersama ayahku. Dia menyuruhku untuk menunggu di sini. " Ucap Riz.


'Yaampun Riz... Alasan lo kek anak kecil amat.. ' lanjutnya dalam batin.  Padahal dia sendiri yang mengatakannya.


Tapi ia tak mengetahui jika yang dihadapannya itu adalah ketua Dark Devil. Organisasi mafia terbesar di sana. Atau lebih tepatnya... Dia tak menyadarinya.


"Perkenalkan, namaku Avren. " Ucapnya memperkenalkan diri.


"Aku Riz. Senang berkenalan dengan anda. " Ujar Riz sambil menjabat tangan Avren. Tapi setelah itu tubuhnya sedikit menegang. Tunggu, dia bilang Avren? Jangan bilang Avren ketua Dark Devil.


'Gawat. Jangan sampai dia tau aku anggota Shadow agen'


"Ada apa? Apa ada yang salah? " Tanya Avren.


"Tidak. Apa anda datang sendiri?"


"Tidak. Bersama... Anakku. Ya, dia sebentar lagi datang. " Ujar Avren. Dan benar saja, datang seorang pemuda ber iris merah dan duduk di samping Avren.


Riz membelalakkan matanya saat melihat siapa anak itu.


Ya, dia adalah Revan. "Dia anakku, atau.. Lebih tepatnya senjataku. "


Riz hanya terdiam. Posisinya saat ini benar benar tidak menguntungkan. Apapun bisa terjadi padanya sekarang. Ia memandang Revan yang hanya memandang kosong. Iris matanya terlihat merah gelap seakan tak ada cahaya di dalamnya. Begitu dingin. Apa yang dikatakan Rei benar? Perlakuan macam apa yang diberikan pada Revan?


Riz menarik nafas dalam dan menghembuskan nya berusaha menghilangkan canggung dan takut yang menguasainya. Ini benar benar hari terburuknya. Terlebih lagi, dari perkataan Avren tadi sudah jelas identitas asli nya terbongkar.


Riz melihat ke arah lain dimana Raile dan Rei berada. Setidaknya ia tahu jika mereka mungkin akan menolong nya jika terjadi sesuatu.


Pelelangan pun dimulai. Terlihat banyak orang yang antusias menawar harga untuk beberapa barang mewah. Riz yang sebenarnya tak peduli memberitahu Raile dan Rei tentang kondisinya dan sekali kali memandang ke arah Avren.


Dan tibalah dimana saat MC menawarkan barang terakhir. Yaitu sebuah berlian indah yang cukup besar. Riz meminta kedua rekannya untuk bersiap, tapi saat ia kembali menengok ke arah Avren... Revan sudah tidak ada disana. Kemana dia? Kapan dia pergi? Sejak kapan? Riz yang terlihat panik menengok kesana kemari mencari keberadaan pemuda bermanik ruby itu. Tapi ia tak menemukannya dimanapun.


"Raile, Rei... Hati hati. Revan menghilang" Ucap Riz di telfon.


"Bagaimana bisa? Bukannya kau bilang dia ada di depanmu? " Tanya Raile.


"Aku juga tidak tahu. Dia menghilang begitu saja. "


"Baiklah, kami akan mencarinya. Kau hati hati. "

__ADS_1


"Baik."


******


"Revan menghilang. Cari diam pasti dia akan mencuri berliannya. " Ucap Raile dan ditanggapi anggukan kuat dari Rei. Mereka pun berlari mencari keberadaan Revan.


Mereka mencari ke berbagai tempat di gedung itu, tapi tak juga menemukannya. Sampai di suatu ruangan... "Jangan bergerak!! " Seru Rei sambil menodongkan pistol yang ia pegang.


Revan sedikit terkejut sebelum akhirnya menetralkan ekspresinya. "Rei... " Revan hendak kabur sebelum Rei berhasil mencegahnya.


"Tunggu sebentar. Aku tak akan melukaimu." Ucap Rei. Sambil memegang tangan Revan.


"Kau tak perlu melakukan ini." Ucapnya. Ditatapnya iris mata Revan yang terlihat gelap.


"Maaf. Aku terpaksa. Sebenarnya aku sendiri juga tak ingin. "


"Jika begitu berhenti. Dia tak mengawasi mu, kau bisa kabur sekarang. "


Revan hanya terdiam dan menggeleng. "Selama dia memegang kendalinya, aku tak bisa kabur, Rei. Dia bisa membunuhku kapanpun."


"Apa maksudmu? " Pandangan Rei tertuju pada kalung yang terikat di leher Revan. "Apa karena kalung itu? Dia berhasil menyempurnakan percobaannya? "


"Ya. Maaf... Tapi bisa bantu aku? " Revan menyerahkan sebuah flashdisk pada Rei. "Ini data penting di Dark Devil serta rencana mereka. Aku tak ingin ada lebih banyak orang yang terluka. Aku tak bisa berbuat banyak, jadi... Mohon bantuannya. " Ujar Revan.


"Terimakasih. Kami akan mencari cara untuk membebaskan mu. "


"Sama sama. Dan terimakasih juga. Sampai jumpa"ujar Revan dan pergi dari sana.


Rei hanya terdiam memandang kepergian Revan. Segitu tak inginnya kah Avren kehilangan 'barang berharga' nya? Dan...


Pets


"Apa yang terjadi? Apa kau bertemu Revan? " Tanya Raile. Rei hanya terdiam dan menarik tangan Raile pergi. "Ada hal yang lebih penting. Selamatkan orang orang di gedung ini. Mereka dalam bahaya. " Ucap Rei.


"Dalam bahaya?"


***


Riz menatap tajam ke arah Avren. Sebenarnya dirinya sedikit takut, terlebih lagi dia hanya sendiri di sini berhadapan langsung dengan ketua mafia? Tiadakah hari yang lebih buruk dari ini? Yang benar saja. Ia berpikir beruntung sekali nasib Raile dan Rei yang bebas.


"Apa rencanamu sebenarnya? Dimana Revan? " Tanya Riz.


"Hm? Mungkin hanya ke toilet."


"Jangan cari alasan! Pasti mencuri berlian itu bukan?"


"Banyak mafia di tempat ini. Bukan hanya aku yang mengincar. Jadi... Bisa saja ada orang lain bukan? "


Riz memandang sekitarnya. Ya, Avren memang benar. Banyak mafia yang menyamar di sini. Apalagi barang barang yang di lelang merupakan barang yang memiliki harga jual tinggi. Sudah dipastikan banyak mafia atau komplotan penjahat lain yang akan mencurinya.


Pets


Lampu mati dan terlihat orang orang mulai panik. Terdengar suara teriakan dan tak lama kemudian lampu kembali menyala. Terlihat MC yang pingsan dan yang lebih mengejutkan lagi, berliannya telah hilang dicuri.


"Sudah kuduga ini pasti ulahmu! "

__ADS_1


"Jangan asal menuduh, anak kecil. Kau tak punya bukti. Lagipula, apapun bisa terjadi. Dan beruntung aku tak membunuhmu saat ini juga. " Ucap Avren dan beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Riz yang membeku di tempat.


Apa apaan tadi itu? Kenapa dia tak bisa melawan kata katanya? Seharusnya dia menangkap mafia itu. Tapi yang dia lakukan sekarang hanya terdiam. Diam tanpa sanggup melakukan apapun. Apa apaan ini?


Tiba tiba ponselnya berdering menyadarkan Riz dari lamunannya. Ia pun mengangkatnya.


"Riz, dimana kau? "


"A.. Aku... Aku masih di tempat pelelangan. "


"Keluar sekarang juga. "


"Baik."


Setelah menerima telfon dari Raile, ia pun beranjak pergi untuk menemui kedua rekannya itu.


Sesampainya di luar, ia melihat kedua rekannya yang sedang menunggu dengan wajah kusut. 


"Ada apa? Kalian tak berhasil menangkap Revan? " Tanya Riz.


"Aku tak menemukannya dimanapun." Jawab Raile kesal.


Ya, jelas dia kesal karena lagi lagi misinya gagal. Ia takut dirinya akan dihukum atasannya. Tapi yang lebih membuatnya kesal karena gagal menangkap target utamanya.


"Sebenarnya aku bertemu dengan Revan tadi. "


Riz dan Raile langsung memandang ke sumber suara. Rei hanya membalas dengan tatapan datar.


"Apa maksudmu? Kau sengaja membiarkannya lolos lagi?!" Tanya Raile emosi.


"Maaf, tapi jika kita menangkapnya, ada kemungkinan dia akan mati disaat itu juga. "


"Ha? Apa maksudmu? " Tanya Riz memiringkan kepala.


"Avren tak ingin kehilangan 'barang berharganya' yang telah sempurna hingga sengaja memasang semacam kalung yang bisa mengalirkan listrik. Jika kita menangkap Rev, kemungkinan Avren akan membunuh nya saat itu juga untuk menjaga rahasia. Nyawanya dalam bahaya dan apa kalian akan membiarkannya dihabisi seperti itu? " Raile dan Riz terdiam setelah mendengar penjelasan dari Rei. Ada benarnya juga. Sekejam itukah Avren sampai tak ingin rahasianya terbongkar?


"Tapi.. Apa Revan memiliki kemampuan lain? Maksudku, saat aku bertemu dengan Avren tadi, aku hanya berpaling sebentar untuk memberitahu kalian dan Revan sudah menghilang. " Tanya Riz.


"Aku kurang tau untuk yang satu itu. "


"Yasudahlah. Haah... Lagi lagi kita pulang dengan kegagalan... Menyebalkan. Ditambah aku berhadapan langsung dengan ketua mafia lagi. Untung aku tak dibunuh. Menyebalkaann... " Keluh Riz kesal.


"Tidak juga." Rei mengeluarkan Flashdisk yang diberikan Revan tadi. "Rev memberikan ini padaku. Setidaknya kita mendapat bocoran data darinya. " Ucap Rei.


"Revan memberikannya?" Tanya Raile dan mengambil Flashdisk itu.


"Yap. Ya... Inilah untungnya punya teman seperjuangan... "


"Tak perlu bangga punya teman mafia. " Ucap Raile. Dan mereka pun kembali ke markas.


Andai kau tau siapa yang kau katai Raile..


***


'Setidaknya salah satu rencanaku berhasil. Ini baru dimulai. Aku akan membalas semua yang kau lakukan padaku dan anak anak lain, Avren.'  batin Revan sambil berjalan ke ruangannya. Ya, itu baru salah satu rencananya. Masih banyak lagi rencana yang dia siapkan untuk mengalahkan Avren.

__ADS_1


TBC


__ADS_2