Shadow Agen

Shadow Agen
Penghianat


__ADS_3

Di malam yang sama, waktu yang berbeda. Seorang pemuda berlari memasuki sebuah gang sempit menyembunyikan dirinya dari keramaian warga agar tidak tertangkap basah atas apa yang baru saja di lakukan nya.


Asap membumbung tinggi dari salah satu ruangan di sebuah gedung, menarik perhatian orang orang di sekitar nya. Kobaran api beberapa kali juga terlihat menyembur keluar, membakar barang barang yang ada di dalam ruangan itu.


Raile menarik nafas dalam. Harus menyelinap supaya tidak ketahuan dan menghindar dari keramaian itu cukup sulit. Pemuda itu menyeka keringat yang mengalir di pelipis nya, menyandarkan punggungnya pada dinding di gang itu.


"Sekarang bukan waktu nya untuk istirahat. Kita harus cepat menyelesaikan ini." Ujar Ice tiba tiba membuat Raile nyaris saja berteriak karena terkejut.


Ini dirinya yang terlalu lengah, atau Ice nya yang memang datang tanpa suara sampai membuatnya terkejut seperti itu?


Tapi ketahuilah, dirinya sudah cukup kelelahan sekarang. Kini ia menyesal karena menganggap Ice itu pemalas karena sering melihatnya rebahan dengan santai seakan tak memiliki beban hidup. Di balik ke tenangan nya, rupanya kemampuan dan stamina pria ber iris aquamarine itu jauh di atasnya. bahkan dia tak terlihat lelah sama sekali saat ini.


ingatkan dirinya untuk tidak mengatai Ice pemalas lagi di kemudian hari.


"Nanti dulu kak Ice, biarkan aku istirahat sebentar." Ujar Raile sambil mengatur nafasnya.


"Semakin cepat kau menyelesaikan ini, semakin cepat juga kau beristirahat. Sudahlah tak usah banyak mengeluh. Kau lakukan ini juga untuk Revan kan?"

__ADS_1


Raile mengangguk. Tapi setidaknya... biarkan ia istirahat walau cuma sebentar!!!


Namun sayangnya keberuntungan tidak berpihak pada Raile sekarang. Ice langsung menarik tangan pemuda itu dan berlari menuju lokasi selanjutnya.


Sementara itu, di malam yang sama, Riz dan Rei terus mencoba mengalahkan ketiga pria anggota Dari Devil itu. Sebuah pukulan keras Riz luncurkan dan mengenai pelipis Saki, membuat pria itu meringis kesakitan. Kepala nya terasa pusing dan sakit, membuat pandangan nya sedikit berkunang kunang.


"Ah, pusing ya? Apa aku memukul mu terlalu keras, pak tua?"


Saki berdecak kesal. Namun, baru saja ia hendak melawan, sebuah suara yang tak asing bagi nya terdengar.


"Rupanya kau asik bermain sendiri ya..."


"Thory, sedang apa kau di sini?" Tanya Riz pada pemuda itu. Thory hanya tersenyum dan melompat turun dari pagar dan berjalan santai mendekati Riz. Riz sedikit memandang heran karena Saki bahkan tidak mencoba menangkap atau melawan anak itu.


"Kalian tidak memberitahu ku kalo di sini ada pesta. Aku kan juga ingin bergabung." Menatap Saki dengan seringaian kejam di wajah nya. "Bukankah begitu?"


Riz menatap heran. Tapi pandangan nya kembali beralih pada Saki yang berada tak jauh dari nya. "Baguslah. Setidaknya sekarang ada tambahan bantuan. Ayo kita beri si tua ini pelajaran Thor-" Seketika ucapan Riz terpotong saat Thory secara tiba tiba menodongkan pistol tepat di kepala Riz.

__ADS_1


"Siapa bilang aku akan membantu mu?"


Semua orang di lokasi itu seketika terdiam. sungguh hal yang tidak terduga.


"A-apa maksud mu Thory?!" Tanya Riz kesal.


"Lepaskan Riz! Dasar penghianat!" Ujar Rei menatap kesal pemuda itu. Siapa sangka, teman mereka justru berhianat dan secara terang terangan memihak Dark Devil di depan mereka.


Thory tersenyum "Tidak, sejak awal aku memang tidak memihak Shadow Agen. Aku di sana hanya untuk mencari data."


"KETERLALUAN!!" Rei segera bangkit dan berniat menyerang Thory. namun,


klik


"Jika kau mendekat, akan ku tembak dia sekarang juga."


Seketika langkah Rei terhenti. Ia memandang Riz yang terlihat ketakutan tak berdaya. Di saat seperti ini, ia tidak tau harus bagaimana. Mereka sudah benar benar terjebak sekarang. Siapa sangka, orang yang awalnya mereka kira rekan ternyata adalah penghianat yang memihak musuh.

__ADS_1


TBC


__ADS_2