
Raile dan Revan menjelaskan semua nya dengan rinci mengenai apa yang terjadi tadi. Tentang bagaimana Revan bertemu dengan Erano, tiba tiba Riz menelfon, merancang rencana untuk menyelamatkan Raile dan sampai akhirnya Raile berhasil di selamat kan.
Riz hanya mendengarkan dengan serius dan beberapa kali menanyakan hal yang membuat nya penasaran. Termasuk tentang rencana mereka kedepan nya yang akan memulai latihan dan pengumpulan data.
Awalnya pemuda ber iris Blue Sky itu sempat menolak saat Revan mengatakan rencana mereka untuk sedikit membocorkan informasi mengenai Dark Devil yang ada pada Shadow Agen.
pasalnya, akan jadi masalah besar jika ada agen lain yang sampai tau. Apalagi jika yang tau adalah agen senior atau justru ketua. Tamat sudah riwayat mereka.
Tapi akhirnya setelah di jelaskan, Riz pun setuju untuk ikut membantu mereka dan merahasiakan rencana ini. Ditambah dengan adanya beberapa mata mata, mungkin akan lebih mudah juga mencari informasi yang akan memudahkan rencana mereka. Bukan hanya dari Shadow Agen, tapi juga informasi dari Dark Devil.
Waktu mereka tak banyak lagi sekarang, dengan adanya penyerangan itu mereka juga sadar, Dark Devil juga sudah mulai bergerak dan merencanakan sesuatu untuk mengalahkan mereka.
Riz sempat menyarankan untuk meminta bantuan Shadow Agen juga. Tapi Raile dan Revan sempat menolak. Pasalnya, untuk saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memberi tahu masalah ini pada agen lain di Shadow Agen.
Kebanyakan dari mereka masih belum bisa di percaya, ditambah dengan penghianat yang selama ini bersembunyi di dalam organisasi itu, walau Thory sudah mengungkapkan identitas nya, bukan berarti mereka melemahkan kewaspadaan dan percaya begitu saja. Bisa saja masih ada yang lain di sana.
Selain itu, mereka juga tentu tidak bisa melibatkan terlalu banyak orang. Mereka tak ingin masalah ini akan memakan korban nantinya jika semakin banyak orang yang terlibat.
Di sisi lain, Riz juga sudah memberitahu mengenai apa yang sudah di lihat nya tadi.
Mengenai Thory yang sebenarnya adalah Esper dan kemampuan macam apa yang di miliki nya.
__ADS_1
Namun yang masih jadi pertanyaan, kenapa orang yang ada bersama Thory seakan begitu hormat pada nya?
Revan dan lainnya sudah tau jika Thory juga anggota yang cukup penting bagi Dark Devil. Tapi sampai berkata seperti itu pada orang lain, seakan dirinya memiliki derajat yang cukup tinggi dalam organisasi itu.
"Jika tujuan kalian mengumpulkan para Esper yang merupakan percobaan Dark Devil, apa Thory juga termasuk? Kayak nya dia lebih terlihat sebagai musuh kita kali ini." Tanya Riz mengingat apa yang sudah di lakukan Thory sebelum nya.
"Sepertinya tidak. Justru... Dia yang harus di waspadai." Revan menjeda ucapan nya. Tangan kanan nya menyentuh kepala nya yang mulai terasa sakit. "Dia... Juga punya peran penting. Bisa saja dia juga terlibat dalam rencana Avren."
"Revan benar. Apalagi dia yang menyembunyikan identitas asli nya selama ini... Dan menyembunyikan kemampuan khususnya seakan dia menerima percobaan yang Avren lakukan begitu saja." Ucap Raile.
"Tapi jika begitu, dia sendiri pun juga bisa jadi senjata bukan? Lalu kenapa harus Revan?" Tanya Riz.
Riz berdecak kesal. "Mau enak nya doang tuh."
Tapi... Semua pasti ada alasannya. Alasan kenapa Thory melakukan itu.
*****
"La lala la lala la la la... Na nana na nana na na na~" Seorang pemuda bersenandung sambil menyiram bunga mawar hitam kesayangan nya. Bibir nya tersenyum manis dan mata nya berbinar menunjukkan iris zamrud yang indah.
Ia mendekatkan dirinya pada bunga di hadapan nya, menghirup aroma wangi khas mawar itu.
__ADS_1
"Sepertinya mood mu lagi baik. Apa rencana mu berhasil?" Tanya seorang pria yang baru saja memasuki ruangan. Ia langsung mendudukkan dirinya di sebuah sofa dan memantik korek api yang membakar ujung rokok nya.
Thory, pemuda ber iris zamrud itu berbalik, masih mempertahankan senyuman manisnya. "Begitulah. Walau aku kesal Himaki juga ikut. Berkurang sudah satu teman ku."
BRAK!
Pria itu, Avren. Yang mendengar ucapan Thory langsung menggebrak meja. "Apa?! Bagaimana bisa?"
Thory yang mendengar Avren tiba tiba menggebrak meja terkejut sampai hampir saja menjatuhkan penyiram tanaman yang tadi di pegang nya.
"Woy! Biasa aja kali, gak usah buat kaget segala pak tua!" Protes Thory kesal.
Avren hanya mendengus kesal. "Diamlah! Bocah itu memang tak berguna. Sangat mudah di pengaruhi."
Thory yang mendengar itu menatap datar. Ia pun membatin, 'bukannya yang suka mempengaruhi itu kau ya?'
"Setidaknya dia masih bisa sedikit di gunakan. Kita juga masih bisa memanfaatkan nya nanti. Bagaimanapun dia masih ada hutang budi karena sudah menyelamatkan nya bukan?" Thory tersenyum licik. Memanfaatkan gak seperti itu bukan cara yang bagus. Tapi untuk orang yang memiliki masa lalu kelam seperti Himaki, memanfaatkan hutang budi nya seperti nya tak ada masalah.
"Baiklah lupakan, untuk sekarang setidak nya rencana kita tetap berjalan. Kita hanya perlu menunggu semuanya siap dan kendalikan mereka untuk kembali pada kita. Sebagai senjata harus menurut dengan pembuat nya bukan?" Ujar Thory sambil tersenyum kejam.
Avren mengangguk. Benar yang di katakan bocah di hadapan nya. Revan dan lainnya tidak tahu, jika sebenarnya selama ini Dark Devil terus mengawasi mereka.
__ADS_1