
Kringgg!!!!
Bel pulang sekolah berbunyi. Waktu pulang sekolah adalah waktu yang paling di tunggu oleh kebanyakan murid yang langsung ingin pulang ke rumah atau pergi bersama teman menyegarkan kembali pikiran mereka yang lelah selepas seharian belajar.
Itu juga berlaku untuk Riz yang langsung membereskan semua buku nya secepat kilat. Tak sabar rasanya ingin membaringkan tubuh nya di kasur atau mungkin berlatih di ruang latihan Shadow Agen.
"Ah... Akhirnya selesai juga! Kita pulang yuk Ile!" Ajak Riz sambil berjalan mendekati pintu.
Sedangkan Raile yang baru selesai membereskan buku buku nya menggeleng singkat. "Aku mau ke perpustakaan bentar. Ada buku yang mau ku pinjam. Aku takut ketinggalan pelajaran soalnya." Tolak Raile.
Mendengar penolakan saudara nya itu, Riz tampak sedikit kecewa. "Mau ku temenin?"
"Gak perlu. Kau duluan saja. Kita bertemu di markas Shadow Agen nanti."
"Baiklah... Jangan lama lama!" Ujar Riz dan berjalan pergi meninggalkan Raile.
Kebanyakan murid sudah pulang membuat koridor terasa sepi. Langkah kaki Raile menggema di sepanjang koridor menuju perpustakaan. Jujur saja, suasana sepi seperti ini yang justru Raile sukai. Ia tak terlalu suka keributan yang kadang membuat telinga nya sakit.
"Andai aja setiap hari kaya gini..." Gumam Raile. Walau gak mungkin sih anak anak di sekolah bakal tetap tenang.
"Permisi, apa kau yang bernama Raile?"
Mendengar seseorang memanggil nama nya, Raile langsung berbalik. Di belakang nya ada seorang pria separuh baya yang memandang ke arah nya sambil tersenyum hangat.
"Iya, saya Raile. Ada perlu apa?"
*******
Di sebuah rumah, seorang gadis nampak sedang mencoba menyembuhkan Revan. Gadis itu memiliki rambut hitam panjang yang di ikat dengan ikat rambut biru muda yang senada dengan iris mata nya.
"Baiklah selesai. Bagaimana? Apa masih sakit?" Tanya gadis itu pada Revan setelah selesai menggunakan kemampuan nya untuk menyembuhkan Revan.
Revan menggeleng singkat. "Tidak. Terimakasih banyak." Ujar nya sambil tersenyum tipis. "Ngomong ngomong kau juga esper?" Lanjut Revan. Karena jelas jika orang biasa tak mungkin bisa melakukan itu.
"Yaps! Tepat sekali! Nama ku Aira. Kemampuan ku dapat menyembuhkan orang lain. Salam kenal Revan!" Ujar nya dengan nada ceria.
"Salam kenal." Setelahnya Revan langsung menatap Erano yang dengan santai duduk sambil memakan biskuit dan meminum segelas teh. Dan sempat sempat nya juga sambil memainkan game di handphone nya.
__ADS_1
"Jadi Erano, bisa jelaskan sekarang?" Ujar Revan mencoba untuk cepat.
"Hey hey buru buru banget kaya lagi di kejar maling aja." Sahut Aira.
Erano menghela nafas. Ia meletakkan secangkir teh yang tadi di pegang nya. "Baiklah. Terserah kau percaya atau tidak, tapi aku, Aira dan... Makhluk astral di sana juga esper sama seperti mu." Erano menunjuk ke arah Eden yang baru keluar dari kamar.
"Woy! Aku bukan makhluk astral!" Seru Eden kesal, namun tetap melanjutkan langkah nya menuju dapur.
Sungguh menyebalkan, baru keluar langkah di katain makhluk astral.
Revan hanya menoleh sekilas dan kembali memandang Erano. Apa mereka memang sering seperti itu? Entah mengapa mengingatkan nya dengan Raile dan Riz yang kadang juga bersikap seperti itu, membuat dirinya tertawa sendiri.
"Baiklah ku lanjutkan. Sama seperti mu, kami juga manusia percobaan dari Dark Devil. Kami berhasil kabur juga karena bantuan mu."
"Bantuan ku?"
Erano mengangguk. "Kau membantu kami kabur, tapi justru kau yang tertangkap. Aku menghapus ingatan mu saat itu, jadi wajar kau tak mengingat nya." Jelas Erano.
Tapi tunggu, bukannya kekuatan Erano tak berpengaruh pada nya? "Bukannya tadi listrik ku memblokir serangan mu? Lalu bagaimana dulu aku bisa terpengaruh?"
Erano meminum minuman nya dan menyeringai. " Itu karena dulu aku lebih kuat daripada kamu. Jadi aku bisa menembus pertahanan listrik mu. Tapi sayangnya sekarang tidak." Erano tersenyum. "Kau semakin kuat saja ya... Aku senang... Melihat mu bahagia bisa bertemu dengan keluarga mu sekarang."
Namun entah mengapa masih ada yang kurang. Revan sedikit mengalihkan pandangan nya ke arah Aira yang sedang duduk santai sambil memakan biskuit.
Erano hanya bilang ia membantu Erano dan Eden. Lalu bagaimana dengan gadis itu? "Kau sendiri... Apa sama?"
Mendengar pertanyaan yang di tujukan pada nya, Aira dengan cepat menelan makanan nya. "Tidak. Aku lebih tua dari kalian. Aku berhasil kabur tiga tahun sebelum kalian masuk Dark Devil. Saat itu aku memanipulasi rasa sakit anggota mafia yang ikut misi bersama ku dan memanfaatkan kesempatan untuk kabur. Kemampuan ku menyembuhkan dan memanipulasi rasa sakit. Aku bisa menghilangkan atau menambahkan rasa sakit sesuai dengan keinginan ku."
Jadi begitu... Dengan kemampuan nya akan mempermudah nya untuk kabur saat anggota lainnya terluka.
"Aku dan Aira tak sengaja bertemu setelah kami kabur dari Dark Devil. Dia yang membantu kami selama ini. Dengan kata lain, dia sudah seperti kakak ku. Cuma aku malas saja memanggilnya kakak karena sifatnya yang kadang kekanak kanakan." Ujar Erano terlalu jujur.
Aira hanya bisa mengumpat tak jelas ucapan pemuda ber rambut perak itu. Ingin menyangkal... Tapi ada benarnya. Terlalu jujur itu menyebalkan. Walau bohong memang gak baik sih...
"Jadi begitu... Kesimpulan nya... Kalian melakukan itu untuk balas dendam?"
Erano menjentikkan jari. "Tepat sekali! Kami ingin menghancurkan mereka selama nyam dengan begitu, tak akan ada lagi anak anak yang menderita bukan? Maka dari itu... Kami membutuhkan bantuan dari setiap esper yang berhasil kabur. Semakin banyak orang... Semakin bagus juga bukan?"
__ADS_1
Mereka memiliki tujuan yang sama dengan Revan. Tapi apa benar mereka bisa di percaya? Tapi... Entah mengapa ia merasa apa yang mereka katakan ada benarnya... Apa memang ia harus bekerjasama dengan mereka? Tapi.. Jika begini apa yang harus ia katakan pada Raile dan Riz?
"Rei juga ada di sini loh..." Ujar Eden sambil berjalan mendekat ke arah mereka dsn mengambil duduk di sebelah Erano.
Jadi benar mereka yang menyelamatkan Rei... "Dia... Ada di sini? Bagaimana keadaan nya sekarang?"
"Dia baik baik saja, hanya perlu pemilihan dari luka nya."
Mendengar ucapan Aira, Revan menarik nafas lega. Ia senang sahabat nya itu baik baik saja.
"Jadi... Bagaimana? Kau mau kan?" Bujuk Erano sambil menatap penuh harapan.
"Aku ma-"
Kling kling...
Secara tiba tiba handphone Revan berbunyi menandakan ada telepon masuk. Revan langsung mengambil handphone nya, melihat itu dari Riz, ia langsung mengangkat nya.
"Ada apa Riz?"
"Rev... Raile ada bersama mu tidak?" Tanya Riz di sebrang telepon.
"Tidak. Kenapa?"
"Revan tidak ke Shadow agen sekarang. Tadi dia bilang mau meminjam buku di perpustakaan dan meminta ku duluan, bertemu di markas Shadow Agen. Tapi sampai sekarang belum datang juga."
Seketika tubuh Revan menegang. Wajah nya menjadi agak pucat karena panik. "Bagaimana bisa? Kau sudah mencari ke rumah? Atau rumah teman nya? Kau sudah menghubungi nya? "
"Sudah. Tapi aku tak menemukan nya di manapun! Handphone nya pun tidak aktif."
Revan semakin khawatir. Ia tau banyak yang ia lupakan tentang Raile. Tapi ia yakin, kakak nya itu tak akan pergi tanpa memberi kabar seperti ini.
"Aku akan mencoba mencari nya."
"Baiklah, mohon bantuan nya! Semoga dia baik baik saja."
"Aku juga berharap begitu." Ujar Revan dan memutuskan sambungan telepon.
__ADS_1
Melihat kekhawatiran Revan, Erano berta nya. "Ada apa?"
"Raile... Menghilang."