Shadow Agen

Shadow Agen
Game Start!


__ADS_3

Suasana sunyi menyapa saat pemuda bermanik ruby itu telah kembali dalam pejam nya. Kembali dalam ketenangan di dunia mimpi nya, melupakan sejenak rasa sakit yang ia rasakan.


Tangan Raile terulur mengusap lembut surai hitam pemuda itu. Bayang bayang saat warna rambut itu berubah menjadi putih masih teringat jelas dalam pikiran nya.


Perasaan bersalah itu kembali muncul, membuat perih di hati seperti tersayat pisau, mendorong bulir bening naik ke pelupuk mata nya. Ia tidak pernah tau penderitaan macam apa yang di alami Revan selama ini, hingga membuatnya memiliki semacam kepribadian ganda. Rasa sakit seperti apa yang dia tahan selama ini.


Tapi pemuda itu masih saja bertahan dengan mengandalkan satu tujuan dan alasan. Dirinya, yang bahkan selalu membenci nya selama ini.


Raile terdiam, rasa bersalah terus menghantui dirinya. Melihat sang adik dalam kondisi seperti ini dan harus melupakan semua ingatan tentang nya cukup menyakitkan juga... Ia tak bisa membayangkan apa yang Revan rasakan selama ini.


"Bagaimana cara ku memperbaiki nya?" Tanya Raile lirih.


Tapi tunggu, jika Revan diam diam bergabung dengan Shadow Agen jelas bukan tanpa alasan kan? Selain itu, percobaan seperti ini harus di hentikan. Bisa saja, selain Revan, di masa depan akan ada anak anak lain yang senasib dengan nya.


"Haah iya juga. Aku harus menghentikan percobaan itu." Raile memandang ke arah Revan. "Itu juga yang kau mau kan?"


"Seingat ku Riz bilang bekerjasama dengan salah satu anggota Dark Devil. Mungkin aku bisa meminta bantuan nya juga." Ucap Raile. Namun... "Tapi aku gak punya nomor nya. Selain itu aku juga kekurangan info tentang nya."


Kira kira siapa yang bisa membantu di saat seperti ini dan tak akan menarik kecurigaan orang lain?


"Sepertinya dia bisa."


Raile langsung menelfon orang yang ia pikirkan, mengingat dari sikap nya, sepertinya tak masalah jika meminta bantuan pada nya.


******


Bip bip bip...


Suasana ruangan yang cukup sepi membuat Rei dapat lebih teliti mendengarkan suara suara di sekitar nya. Samar Samar, dapat ia dengar suara yang tentu tidak asing bagi nya.


"Suara itu..." Kedua pemuda itu saling bertatapan.


"Bom!!" Ujar keduanya bersamaan.


"Sudah ku duga tidak akan semudah ini."


Riz yang telah selesai mengamankan kedua orang itu mendekati Rei. "Malah diam aja. Cepat cari!"


Panik, tapi juga mencoba untuk mengendalikan diri agar tetap tenang. Mereka harus mencari bom itu sekarang sebelum meledak dan menghancurkan mereka semua.


"Rei di sini!" Panggil Riz yang telah menemukan bom nya. Dengan cepat mereka mencoba untuk menonaktifkan nya.

__ADS_1


"Berhasil!"


"Tidak semudah itu. "


Keduanya menoleh pada sumber suara. Seorang pria mengenakan jaket kombinasi warna orange biru berjalan dengan santai menuju ke arah mereka. Ia menggenggam dua buah pistol di tangan nya. Seringaian kejam tercetak di wajah nya, sambil menatap remeh dua pemuda di hadapan nya.


"Kau... Bukan nya kau sudah di penjara?" Tanya Riz kesal sambil mengepalkan tangan nya.


Pria itu terkekeh. "Tidak semudah itu untuk memenjarakan kami. Dan lihat saja... Permainan baru akan di mulai!"


DAR!!


TRING!


Beruntung refleks Rei cukup bagus, ia langsung menangkis sebuah peluru yang melesat ke arah nya dengan belati yang sebelumnya ia simpan di saku nya.


Tak jauh dari diri nya, seorang pria mengenakan jaket putih dengan garis kuning cerah dan kaos merah terang menatap tajam ke arah nya. Tangan kanan nya terulur ke depan, menggenggam erat sebuah pistol yang masih mengeluarkan sedikit asap tipis dari moncong nya.


"Untuk kali ini, tak akan ku biarkan kalian lolos." Ujar Saki sambil memberikan tatapan tajam pada kedua pemuda itu. Jelas sekali terlihat kebencian dan dendam di mata nya. Ia gak akan kalah lagi untuk kali ini.


"Hey hey... Garang amat tuh muka. Santai dikit dong.. Rileks.. Mari kita bincang baik baik... Tak baik loh main keroyok anak kecil..." Riz mencubit pipi Rei tiba tiba. "Apalagi anak anak comel macam kami"


Sementara Rei hanya menyingkirkan tangan pemuda itu dari pipi nya.


"Ololo... Karena kalian comel jadi kami pengin habisi dengan cepat. Setelah nya kami akan memajang kepala kalian sebagai hiasan rumah. Kan abadi tuh comel nya~" Balas Farel dengan senyuman kejam nya.


"Alamak jahat pula kau nih. Sungguh kejam, batu belah batu ber tangkup... Tangkup lah aku.. Telan lah aku... Mereka semua nih dah jahatin aku terus di sini... hiks..." Ucap Riz sambil duduk bersimpah dan satu tangan di atas dahi.


Rei yang melihat itu, "....." Riz, kau sudah tidak waras ya? Drama sekali.


"Maaf adik adik... Kami sedang tidak mau bermain drama. HABISI SAJA MEREKA LANGSUNG!!" Seru Naru yang baru saja datang.


"Widih baru datang langsung nyolot aja. Sabar bang... Ntar cepet tua loh..."


"Emang dasar nya dah tua." Sambung Rei.


Naru berdecak kesal. Ditambah lagi kedua rekan nya justru menahan tawa sambil memandang ke arah nya, membuat perempatan imajiner muncul di pelipis nya.


"Oi! Kita seumuran lah! Jangan memandang ku begitu! Lagian Farel yang paling tua di sini. "


"Dih. Cuma berapa menit doang." Ucap Farel.

__ADS_1


"Tetap aja kan."


"Beda lah... "


Sementara Saki justru menepuk dahi nya. Kenapa malah berdebat seperti ini sih? Ini bukan saatnya untuk berdebat!


"Woy sudah cukup!! Cepat habisi mereka sebelum mereka ka-" Farel menunjuk ke arah tempat kosong yang seharusnya ada dua orang di sana. "Bur..."


"Wih bisa ngilang..." Ucap Farel.


"Ngilang dari hongkong?! Tuh mereka kabur! Kalian sih debat terus! Jadi kabur kan mereka!" Saki kesal. Sementara kedua rekan nya hanya memalingkan muka.


"Dah ah kejar!!"


Sementara itu Rei dan Riz terus berlari menghindari kejaran tiga singa-- eh, orang yang terlihat marah karena berhasil menipu mereka dengan permainan drama murahan yang menyebalkan.


Ketahuilah, dikerjai anak kecil itu gak enak.


DAR!


DAR!


DAR!


Peluru terus di tembakkan pada dua pemuda yang terus berlari di depan ketiga pria itu. Rei berbalik membalas tembakan mereka. Namun sayang nya tidak kena.


"Rei sini!"


Melihat Riz melambaikan tangan nya, Rei mengangguk dan berlari menghampiri nya.


Di sisi lain, Riz mencoba mendorong tumpukan besi panjang yang di sandarkan di dinding. Besi beri itu langsung rubuh begitu di dorong oleh Riz, menutupi jalan.


BRUG!!


"Hehe! Ta ta om om galak~" Ucap Riz sambil menjulurkan lidah nya dengan ekspresi mengejek, lalu berlari pergi.


Farel berdecak kesal. "Ck! Mereka berhasil kabur!"


"Masih belum!" Saki melompat memanjat tumpukan besi itu dan berhasil melewati nya dengan mudah.


Naru dan Farel yang melihat itu hanya menatap kagum. "Fuih~ dah kek ninja aja."

__ADS_1


"Kita cari jalan lain aja." Ajak Naru. Farel lun mengangguk. Lebih baik mencari jalan lain daripada mengambil resiko jatuh atau tertimpa.


TBC


__ADS_2