Shadow Agen

Shadow Agen
Penyelidikan


__ADS_3

"Dasar lemah! Apa hanya segini kemampuanmu?! Lebih serius lagi! Lakukan dengan cepat! Dasar tak berguna!!"


Kata kata kasar dilontarkan pada pemuda ber iris ruby yang sedang sibuk menghindari dan menangkis beberapa serangan dari lawannya.


10 lawan 1 apakah itu wajar?


Tidak wajar untuk orang normal. Namun, setelah semua percobaan dan penyiksaan yang dialaminya, apa Revan masih bisa dikatakan sebagai orang normal?


Ia harus memanfaatkan kekuatan nya.


Beberapa peluru mengarah padanya. Namun, Revan berhasil menghindari nya dengan mudah. Tubuhnya lebih ringan dan lincah digerakkan. Latihan kali ini memang sedikit lebih berat. Namun, Revan harus bisa memanfaatkan nya untuk benar benar bebas dari sini.


Tujuannya kini bukan hanya kebebasan. Tapi juga menghancurkan organisasi mafia ini agar tak ada lagi orang yang bernasib sama dengan nya.


"Cepat lakukan!!" Seru Avren sembari menekan pengendali di tangan nya yang mengalirkan listrik pada kalung yang dikenakan Revan.


Rasa sakit itu lagi. Benar benar mempersulitnya. Tak bisakah orang itu berbaik hati sedikit? Namun, seketika Revan membalik pemikiran itu. Karena, sepertinya mustahil jika masih ada kebaikan dalam orang itu.


Revan menggenggam erat belati di kedua tangannya. Terlihat petir merah menyambar keluar menyelimuti belati itu. Cukup mengerikan sebenarnya.


Dengan cepat, pemuda itu berlari menuju dua orang di hadapannya. Kedua orang itu pun bersiap menghadang. Namun, gerakan Revan terlalu cepat dan ia berhasil menebaskan belatinya pada kedua orang itu.


Darah mengalir keluar dari luka di dada mereka. Bukan hanya itu, mereka pun langsung jatuh dan tak bisa bergerak akibat mati rasa karena listrik yang disalurkan Revan tadi. Dengan kata lain, serangan tak seberapa yang langsung melumpuhkan lawannya.


Avren menyeringai melihat itu. Ia senang karena 'percobaan' nya hampir sempurna. Namun, sayang sekali ia tak tau jika itu akan berbalik pada dirinya sendiri. Bagai pedang bermata dua yang siap menyerang balik lawan nya.


Sementara itu, di markas Shadow Agen...


"Kasus pertama, siapakah agen baru yang berhasil membuat Raile begitu penasaran?"


Riz kali ini berpenampilan seperti detektif yang mengenakan topi dan kaca pembesar. Sedangkan Raile yang di sampingnya hanya menghela nafas lelah dengan tingkah saudaranya itu.


Tidak bisakah bersikap normal sedikit? Apalagi dia bertanya ke setiap orang. Dan lebih parahnya lagi, dia sedang ada di sekolah. Apakah anak ini lupa jika identitas mereka sebagai agen dirahasiakan?


Duk


"Aduh!!"

__ADS_1


Sebuah pukulan meluncur tepat ke puncak kepala Riz. Membuat anak itu berhenti. Sementara Raile, si pelaku hanya menatap datar.


"Apa kau lupa kalau kita merahasiakan identitas kita?" Tanya Raile sedikit berbisik.


"Hehehe... Bukan gitu Raile, aku hanya penasaran saja. Tak biasanya kau begitu penasaran dengan anggota baru. Saat Rei bergabung saja kau cuek. Tapi ini justru penasaran. Sebenarnya ada apa?" Tanya Riz yang sukses membuat Raile terdiam.


Kenapa dia begitu memikirkannya? Biasanya saja dia tak begitu mempedulikan hal seperti itu. "Aku juga tidak tahu Riz yang menyebalkan... Rasanya ada yang aneh saja."


Memasang pose berfikir. "Mungkin dia terhubung denganmu atau ada sesuatu yang membuatmu begitu penasaran? Apa yang kau rasakan?"


"Sudah kubilang aku hanya merasa aneh dan sedikit penasaran saja. Sudahlah." Ucap Raile dan langsung pergi meninggalkan Riz yang masih termenung.


'Apa mungkin berkaitan dengan Revan? Ah tapi tidak mungkin sepertinya' batin Riz. Sayang sekali dirinya kurang peka. Padahal sudah tepat tapi karena keyakinan yang kurang membuatnya jadi ragu.


Saat sampai di markas Shadow Agen...


Rei terlihat membawa beberapa berkas dan berjalan santai menuju ruang atasannya. Namun saat sampai persimpangan...


Brug!


"Rev?"


Rei menoleh dan melihat Raile berdiri di hadapannya. Gawat, hampir saja dia keceplosan. "Ah, maksudku... Ini kedua kalinya semua barang ku jatuh begini." Ucap Rei dan kembali membereskannya. Raile pun ikut membantu.


Namun dari belakang... "Pandangan pertama, awal aku berjumpa~ na nana nana naaa~ cie~ kok kaya lihat dua kekasih yang saling bertabrakan dan akhirnya saling suka ya? Kaya adegan sinetron saja. " Ejek Riz yang kebetulan lewat.


"Diam lo! Cepat bantuin!" Ucap keduanya kompak. Riz pun langsung membantu membereskannya.


Setelah selesai, " Maaf ya Raile, aku tak melihat mu tadi." Kata Rei meminta maaf sambil sedikit membungkukkan badan nya.


"Ah tidak apa apa kok. Tapi Rei... Tadi kau bilang kedua kalinya? Dan kata 'kebiasaan' itu... Oke, siapa yang sebelumnya menabrak mu?" Tanya Raile. Sementara Riz yang di belakangnya langsung menyiapkan buku catatan dan kembali bersikap seperti detektif.


"Hanya agen lain. Kupikir orang yang sama. " Jawab Rei tenang mencoba untuk tidak terlihat mencurigakan. Karena jelas sekali tidak mungkin kan jika ia mengatakan Revan lah yang menabrak nya dan pemuda itu sudah menjadi anggota agen sekarang.


Riz tampak meneliti. "Betul kah? Jika begitu, kau tahu tengang agen baru itu? Apa kau sudah bertemu dengan nya? Kenapa kami tak pernah melihat nya di sini?" Tanya Riz bertubi tubi. Sekarang Rei kebingungan harus menjawab apa.


"Aku belum pernah bertemu dengannya. Aku juga tidak tahu. Mungkin semacam agen rahasia yang bertugas secara diam diam?" Jawabnya. Tidak terlalu bohong juga kan?

__ADS_1


"Baiklah jika kau tidak tahu. Sekali lagi maaf ya... Mau ku bantu?" Tanya Raile menawarkan bantuan.


"Oh boleh. Terimakasih ya..." Jawab Rei dan memberikan beberapa berkas pada Raile.


Sementara Riz, "eh, gitu aja? Hoi, aku belum selesai bertanya tau!!" Protes Riz. Tapi akhirnya mengikuti mereka juga.


Rei menarik nafas lega. Masih belum saatnya Raile mengetahui tentang Revan yang menjadi agen. Lain kali dirinya harus lebih berhati hati tentang ini.


Sementara itu di markas Dark Devil...


Revan yang baru saja selesai latihan masih terlihat kelelahan. Keringat membasahi tubuhnya dan terlihat beberapa luka di tangannya. Walau hanya luka goresan kecil, tapi itu cukup sakit juga.


Mendadak terdengar pintu dibuka dan Sein yang berjalan masuk dan menutup pintunya lagi. Jika begini sudah bisa ditebak pasti akan ada misi yang dia jalankan.


"Jadi, ada misi apa?" Tanya Revan langsung pada intinya.


"Aku bahkan belum mengatakan nya. Kau lumayan juga." Balas sein. Ia melihat kondisi Revan sekilas. "Kau yakin mau menerima nya?" Tanya nya lagi yang masih agak ragu.


"Ya. Lagipula aku muak disini. Anggap saja sedikit hiburan. Aku rindu dunia luar." Jawab Revan. Membuat Sein terkekeh pelan. "Kenapa?"


"Tidak apa apa. Sepertinya kau benci sekali ada di tempat ini."


" Bukannya itu sudah jelas? Sekaligus... Balas dendam tak ada salahnya bukan?"


Sein mengangguk dan melepaskan rantai yang menahan Revan. "Waktumu kali ini hanya 4 jam. Kau yakin bisa menyelesaikan nya? Sebelum nya saja Avren sempat curiga bukan?"


"Aku akan lebih hati hati dan menyelesaikan nya dengan cepat. Jika tidak seperti ini, bagaimana aku bisa menghancurkan organisasi mafia ini?"


Tersenyum. "Tujuanmu sedikit berubah ya..."


"Masih sama." Jawabnya singkat. Dan itu juga menjadi akhir pembicaraan di saat itu.


Berikutnya, Sein mengamati sekitarnya dan saat dikiranya sudah aman, mereka pun menyelinap keluar.


'Siapakah yang akan menjadi korban kali ini?'


TBC

__ADS_1


__ADS_2