
27 Januari 2009
Dear diary
Aku senang rencana ku berhasil untuk membuat kak Ile senang! Aku senang saat melihat orang lain bahagia. Kak Ile kakak terbaik yang pernah ku miliki! Kadang aku berfikir.. Bagaimana jika saja aku kehilangan kak Ile suatu saat nanti. Aku pasti akan sangat sedih... Maka dari itu, selagi aku bisa, aku akan terus bersama kak Ile! Sampai kapanpun!
"Walau aku melupakan mu untuk saat ini..."
2 Februari 2009
Hari ini sungguh hari yang buruk! Aku terjatuh saat sedang bermain dan baju ku kotor kena lumpur. Aku mau bersihin, tapi ada mobil yang melaju ke arah ku. Awalnya aku kira mungkin aku akan celaka, tapi kak Ile menarik ku dengan cepat dan menyelamatkan ku. Aku langsung menangis di pelukan kak Ile saat itu karena takut dan terkejut. Kalau saja kak Ile tak ada di sana, mungkin aku sudah tertabrak. Kak Ile selalu melindungi ku, seperti super hero!
"Walau saat ini justru aku membenci mu dan berulang kali membahayakan nyawa mu."
17 Februari 2009
Hari ini aku sakit... Ayah dan ibu pergi bekerja dan hanya ada kak Ile di rumah. Dia merawat ku dengan baik, bahkan menyuapi ku dan membujuk ku dengan ekspresi lucu saat aku menolak meminum obat. Bahkan kak Ile menceritakan dongeng padaku waktu mau tidur. Rasanya nyaman waktu sama kak Ile. Kak Ile kakak terbaik yang pernah ku miliki. Senyuman dan kehangatan nya... Aku gak akan pernah mau kehilangan kak Ile.
"Walau sekarang aku tidak pernah bersama mu bahkan saat kau sakit dan menderita."
8 Maret 2009
Aku selalu takut saat sendiri. Saat tau tidak ada orang di sekitar ku. Rasanya sakit dan kesepian. Bayangan saja membuatku takut. Aku selalu mikirin ada orang jahat yang bakal datang dan menangkap ku. Malam ini hujan deras, ayah dan ibu masih belum pulang. Suara petir menyambar dan mendadak mati lampu. Aku takut... Aku langsung teriak saat itu juga. Dan saat itu juga kak Ile datang dan langsung memeluk ku. Dia tersenyum sambil mengusap kepala ku, membuatku gak takut lagi. Kak Ile... Kumohon jangan pernah tinggalkan aku sendiri...
"Walau sekarang aku tak pernah lagi bersama mu. Tak pernah lagi ada di sisi mu saat kau merasa ketakutan..."
18 April 2009
Kenapa ayah dan ibu harus pergi... Kak Ile juga masih belum bangun. Aku takut... Aku takut sendirian seperti ini... Aku harus gimana... Aku gak mau kehilangan kak Ile juga. Apa yang harus ku lakukan?
"Aku pun sama... Tidak tahu apa yang harus ku lakukan setelah ini..."
__ADS_1
Raile mengepalkan tangan nya kuat setelah membaca diary sang adik yang sempat ia simpan tadi.
Ia masih berada di kamar yang sama, berbaring di atas kasur, enggan untuk beranjak dari sana. Tenaga nya seakan menguap hilang entah kemana. Perasaan nya campur aduk.
Raile menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan. Mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tangan nya bergerak menghapus jejak air mata yang mengalir di pipi nya.
Ia melihat sekitar nya, mandang foto foto yang terpajang di dinding. Wajah ceria dan manis dari sang adik dan keluarga nya.
Entah mengapa hati Raile merasa sakit. Sejauh ia mengenal Revan, ia tak pernah melihat nya tersenyum. Apalagi senyuman ceria seperti itu.
"Apa memang seharusnya aku memaafkan nya saja?" Gumam Raile.
Kepingan ingatan saat kecelakaan itu kembali muncul dalam kepala nya. Selain itu, tentang apa yang Riz katakan tentang Revan yang di jadikan sebagai manusia percobaan. Entah apa yang pemuda itu telah alami selama ini.
Terakhir kali ia melihat iris mata nya terlihat kosong. Tapi ia tak menyadari nya saat itu.
Sungguh, ia kakak yang buruk membiarkan adik nya menderita selama ini, dan malah membenci nya.
Tapi apa yang bisa ia lakukan saat ini? Walau sudah mengetahui fakta jika Revan itu adik kandung nya, ingatan nya pun perlahan mulai kembali. Tapi hatinya masih cukup berat untuk memaafkan anak itu setelah apa yang dia lakukan pada sahabat nya.
Bukannya akan jadi masalah jika orang lain tau? Ah, ya. Wajar saja jika Revan menggunakan penyamaran jika begitu.
Tapi.... Bagaimana dengan Dark Devil dan anggota mafia lain nya? Jika mereka menemukan Revan akan berbahaya bukan?
"AARRGGGHHH!!! AKU BENAR BENAR BINGUNG!!!"
Raile menutup wajahnya dengan bantal, mencoba mengurangi kekesalan dan perasaan campur aduk di hati nya. Ditambah lagi kepala nya yang mulai terasa sakit memperparah kondisi nya.
Namun, ia teringat sesuatu. "Riz bilang, Revan di Shadow Agen kan? Mungkin aku bisa menanyakan tentang semua ini pada nya. Setidaknya aku harus tau dari orangnya langsung."
Raile berjalan keluar dari kamar itu dengan hati hati agar tidak ketahuan oleh sepupu nya.
__ADS_1
Sebenarnya tak masalah jika Riz tau, karena bagaimana pun pemuda bermanik biru itu juga tau lebih banyak dari nya. Tapi entah mengapa ia tak ingin melibatkan sepupunya itu kali ini.
********
Seorang pemuda bermanik hijau berjalan santai di Koridor markas Dark Devil, tersenyum ceria mengabaikan beberapa orang yang menatapnya heran.
Tujuan nya kali ini adalah ruangan dari ketua mafia itu sendiri. Tak butuh waktu lama, langkahnya terhenti di depan sebuah pintu. Ia mengangkat salah satu kaki nya dan menendang pintu ruangan itu sampai terbuka.
Avren yang kala itu sedang menikmati secangkir kopi hitam, secara tidak elit nya harus menyemburkan kembali kopi yang sedang di minum nya.
"Woy! Kau mau membuat ku jantungan atau bagaimana?! Masuk ruangan itu ketuk pintu atau sekurang kurang nya membuka pintu perlahan. Jangan asal dobrak gitu bocah!" Omel Avren kesal.
Sedangkan pemuda itu hanya menghembuskan nafas lelah dan berjalan mendekati pria itu. Lalu mendudukkan dirinya di atas meja milik pria itu.
Dalam hati Avren berkata, 'nih bocah gak sopan bener. Datang gak pake salam langsung dobrak dan sekarang duduk di atas meja. Gak diajarin sopan santun kali ya?'
Tapi sayang sekali, kata kata itu hanya bisa ia telan sendiri. Pemuda di hadapan nya bahkan terlihat santai saja.
"Kau sudah membebaskan mereka kan, pak tua? "
Seketika perempatan imajiner muncul di dahi Avren.
Avren yang mendengar itu, "...." Bisakah kau berhenti memanggilku pak tua? Aku tak setua itu!!
Tapi sayang, sekali lagi ia hanya bisa menelan umpatan nya itu. Avren mengangguk. " Ya. Mereka bisa kembali menjalankan misi sekarang." Namun tangan Avren mengepal. "Namun sayang sekali, percobaan kita kabur. Semua orang di sini tidak berguna!"
Thory, pemuda itu terkekeh. "Salahmu sendiri cari anak buah gak guna semua." Namun ekspresi Thory seketika berubah. "Tapi kita juga memiliki satu halangan di sini."
Avren melirik anak itu. "Apa? "
"Orang yang membuat Revan berani kabur. Raile...." Thory mengepalkan tangan nya.
__ADS_1
"Kita harus membunuh anak itu."
TBC