
Angin berhembus di tengah malam. Memberikan kesan dingin pada siapapun yang merasakan nya. Tapi saat ini berbeda, saat yang seharusnya menjadi malam kebebasan bagi Farel, Saki dan Naru, justru harus berhadapan dengan agen muda dari Shadow Agen.
Darimana mereka tau jika mereka -Dark Devil- akan melarikan diri sekarang?
Tatapan tajam yang mengisyaratkan kemarahan dan kebencian diberikan oleh Pian sebagai kakak tertua dari PiGenSai bersaudara, karena harus kehilangan salah satu adik nya.
"Tenang saja, dia aman kok. Dan asal kalian tau, kami selalu ada satu langkah lebih lebih maju di hadapan kalian." Ujar Raile sambil tersenyum. Entah mengapa untuk sesaat ia jadi merasakan bagaimana peran menjadi tokoh antagonis itu. Yang selalu berpikiran keji tanpa memikirkan perasaan orang lain. Terasa cukup aneh baginya.
"Balikin adik ku!!" Ujar Pian yang tanpa basa basi langsung berlari sambil mengarahkan belati nya, berniat menusuk Raile.
Sementara pemuda bermanik emas itu langsung menghindar dengan mudah nya. Pengalaman Raile dalam bertarung tentu melampaui pengalaman Pian, tapi bukan berarti anak yang memiliki tubuh lebih pendek dari Raile itu akan menyerah begitu saja. Terlebih lagi jika menyangkut masalah keselamatan adiknya. Bagaikan singa yang melindungi anak nya, Pian tak akan menyerah sebelum ia berhasil membawa kembali saudara nya itu bersama nya.
Tidak mau tinggal diam, Farel, Saki dan Naru ikut membantu Pian melawan para muda itu. Tendangan dan pukulan di luncurkan nyaris bersamaan, membuat Raile sedikit kewalahan.
"Kalo mau nyerang tuh, jangan keroyokan!!"
Brug!
Tidak mau membiarkan rekan nya itu melawan komplotan penjahat itu seorang diri, sebagai saudara yang baik, Riz langsung melompat memberikan tendangan yang mengenai Farel dengan telak.
Farel yang terkena serangan dadakan Riz langsung terjatuh. Kepala nya berdenyut sakit bersamaan dengan pandangan nya yang mengabur. Ia mengerjapkan mata nya, mencoba untuk memulihkan pandangan nya.
"Sialan!!" Saat pandangan nya sudah kembali pulih, tanpa buang waktu ia langsung meluncurkan serangan pada Riz yang terus mencoba menghindar. Kemampuan nya memang tak sebanding, tapi di sini, ia di untungkan dengan kelincahan nya yang membuatnya dapat menghindari serangan lawan nya itu.
Dar! Dar!
"Awas!" Seru Saki dan langsung menarik Naru menghindar.
Dari kejauhan, Sein menembakkan peluru dari pistol nya yang hampir saja mengenai Naru, jika saja Saki tidak dengan cepat menarik pria itu. Tentu saja, Sein tidak akan membuang kesempatan untuk ikut serta dalam pertarungan kali ini.
Walau untuk saat ini mereka masih kalah jumlah dari Dari Devil, tapi mereka tetap saja tidak akan menyerah, apalagi untuk menangkap para mafia seperti Dark Devil.
Di sisi lain, Sai yang lebih unggul dalam serangan jarak jauh sedikit takut melihat pertarungan di hadapan nya. Pikiran nya kacau. Ia khawatir akan kondisi Gen dan dimana dia sekarang, tapi di sisi lain ia juga takut jika kakak nya akan terluka.
"Aku harus meminta bantuan!" Sai merogoh saku celana nya, mengeluarkan handphone nya, menekan nomor Avren di sana. Namun, saat ia baru saja akan mendekatkan handphone nya itu ke telinga nya...
Dar!!
__ADS_1
Seseorang menembak handphone Sai. Sebuah peluru melesat dengan kencang menghancurkan handphone Sai seketika, yang untung nya tidak mengenai telinga Sai. Ia langsung mundur beberapa langkah untuk mencari jarak aman. Mata nya memperhatikan sekitar, mencari asal tembakan yang mengarah pada nya. Namun tak menemukan siapapun di sana.
"Siapa yang melakukan ini?" Gumam nya sambil terus mencari."
Dar! Dar!
Tembakan kembali terdengar membuat kedua pihak sempat bertanya tanya siapa yang melakukan itu.
"Apa ada yang meminta bantuan?" Tanya Sein. Raile dan Riz menggeleng sebagai jawaban. Jika begitu, apa di lihat Dark Devil?
Tapi jika itu di pihak Dark Devil, tidak mungkin dia akan menyerang anggota nya sendiri bukan?
Dar!
"Akh!!" Rintihan kesakitan terdengar dari mulut Saki yang langsung membungkuk dan memegangi kaki nya yang tertembak. Darah mengalir dari luka tembak di laki nya memberikan rasa sakit yang menjalar.
"Sialan! Siapa itu?!" Seru Naru sambil mengedarkan pandangan nya ke sekitar. Situasi yang gelap seperti ini membuatnya kesulitan melihat siapa pelaku penembakan itu sebenarnya.
Tapi, situasi seperti ini justru menjadi kesempatan bagus untuk Shadow Agen menangkap lawan mereka. Di saat pertahanan menurun dan salah satu anggota mereka terluka, ini akan memudahkan nya untuk melawan.
Langsung saja Raile memberikan tendangan berputar yang tepat mengenai kepala Pian, membuat pemuda itu terjatuh.
"Sekarang, mau lawan gimana dik? Kau sudah tertangkap." Ucap Sein yang ada di belakang Pian.
"Ck." Tidak ada pilihan, anak ber rambut pirang itu harus mengaku kalah.
"Lepaskan kak Pian!!!" Sein menoleh dan melihat Sai yang berlari ke arah nya sambil membawa sebuah tongkat kayu.
Bruk!
"Aduh!!" Pekik Sai saat secara tiba tiba ia terjatuh karena Riz yang mengandung kaki nya. Langsung saja pemuda itu mengunci tangan Sai di belakang dan mengikat nya.
Sai mencoba memberontak. "Lepasin!!!"
"Woy! Lepasin adik ku!!!" Seru Pian.
"Kami bakal lepasin kok! Di penjara nanti. Jadi tenang aja.. Kami gak bakal apa apain kok!" Ujar Riz sambil tersenyum lebar. Lagipula bagaimanapun mereka masih anak anak, tidak baik jika melakukan kekerasan pada mereka.
__ADS_1
Namun, dalam hati juga ia merasa miris, saat tau anak seusia mereka harus terlihat dalam tindakan kejahatan, apalagi juga melakukan nya.
Namun belum semua dari mereka tertangkap. Raile masih saja berusaha menghindari serangan yang diberikan Farel dan Naru. Jujur saja, ia mulai kelelahan sekarang.
"Rasakan ini bocah!"
Bruk!
"Ugh!" Sebuah pukulan keras langsung mengenai perut Raile membuat pemuda itu terjatuh. Tangan kanan nya memegang perut nya yang terasa sakit dan mual membuatnya terbatuk beberapa kali. Tenaga nya sudah habis untuk melawan, sedangkan lawan nya itu semakin mendekat ke arah nya.
Raile membelalakkan mata nya saat Farel secara tiba tiba menodongkan pistol ke arah nya. Seringan kejam tercetak di wajah pemuda itu melihat lawan nya yang tak berdaya.
"Ya, sepertinya kau harus mati di sini, Raile."
Dar!
Raile menutup mata nya rapat rapat namun, ia kembali membuka mata nya lagi saat menyadari tak ada rasa sakit yang ia rasakan.
Di hadapan nya, seorang pemuda berpakaian hitam berdiri menodongkan pistol ke arah lawan nya. Seakan waktu melambat, pistol yang seharusnya Farel gunakan untuk menembak Raile, hancur terkena tembakan dari sosok misterius itu.
Farel langsung menghindar agar tidak terkena pecahan pistol itu.
"Ck! Datang seorang lagi rupanya." Langsung saja Naru mengeluarkan sebuah belati dari dalam saku nya, lalu langsung berlari berniat menikam sosok pemuda itu.
"Awas!!" Seru Raile saat melihat itu. Namun yang terjadi setelahnya benar benar di luar perkiraan nya.
Gerakan yang begitu cepat.
Pemuda itu sudah berada di belakang Naru dan memukul tengkuk pria itu.
"AAKKH!" Percikan listrik terlihat menyengat tubuh Naru, membuat tubuh pria itu mati rasa dan terjatuh.
"Berani kau!!!" Dari belakang nya, Farel berlari sambil membawa sebuah tongkat kayu yang hendak ia gunakan untuk memukul pemuda itu. Namun sayang nya, pemuda itu langsung menghindar dan memukul wajah Farel dengan keras.
"Siala-" Kata kata nya terpotong saat pemuda itu menodongkan pistol ke arah nya.
"Semuanya sudah berakhir."
__ADS_1
TBC