
"Ku jelaskan nanti. Yang penting kita harus keluar dari sini dulu."
"Tidak secepat itu." Namun, belum sempat mereka melangkah meninggalkan ruangan, dua orang lagi datang, lengkap dengan senjata di kedua tangan mereka. "Gak akan kami biarkan kalian lolos!" Ujar Gen marah.
"Wah... Kalian bersaudara ya?" Tanya Erano dengan santai nya melihat dua pemuda yang menodongkan senjata pada nya seakan tak ada rasa takut sama sekali.
Sedangkan Gen dan Sai terkejut melihat Pian yang tergeletak di lantai. Apa Pian sudah di kalahkan begitu saja? Tangan Sai mengepal kuat melihat saudara nya yang Di kalahkan begitu saja.
Gen berdecak kesal. "Kami gak bakal biarin kalian lolos!!" Teriak Gen sambil menembakkan peluru ke arah ketiga pemuda yang ada di depan nya. Namun...
BZZTT
Listrik merah menyambar memantulkan peluru itu sebelum mengenai mereka. Gen tampak terkejut melihat itu. Ia memang pernah mendengar Revan memiliki kemampuan khusus. Ditambah lagi dengan kejadian sebelum nya, ia jadi semakin yakin akan hal itu. Tapi melihat listrik yang dapat dia kendalikan dengan mudah, sudah jelas kemampuan nya meningkat sekarang.
"Kak Gen hati hati." Ujar Sai di belakang nya.
"Kayaknya agak telat kau bilang itu."
Sai membulatkan mata nya mendengar suara yang berasal dari belakang nya. Belum sempat ia menoleh, sebuah tingkat besi menghantam kepala nya dengan keras, membuat nya terjatuh tak sadarkan diri.
"Sai!" Seru Gen terkejut. Ia benar-benar tak menyadari kedatangan orang itu. Satu orang pemuda berdiri di belakang nya sambil menyeringai. Keadaan justru berbalik sekarang, justru dia yang terkepung.
"Nah... Sekarang waktu nya mengakhiri ini." Tubuh Gen menegang. Rasa takut menguasai dirinya saat kata kata itu terucap.
Apa yang akan mereka lakukan pada dirinya?
__ADS_1
"[Penghentian]"
Setelah mendengar kata kata itu entah mengapa pikiran nya kosong, seakan Gen kehilangan kendali akan tubuh nya.
Erano berjalan mendekat dan berbisik di depan telinga Gen. "Sekarang, tidurlah."
BRUG
Langsung saja, setelah kata itu terucap, tubuh Gen tumbang dan terjatuh ke lantai. Semua selesai sekarang.
"Fuh... Akhirnya selesai juga." Ujar Eden sambil memutar tongkat besi yang di gunakan nya untuk memukul Sai tadi.
Erano justru menatap nya datar. "Kau seenaknya pukul pakai tongkat besi gitu, kalau dia kenapa napa bagaimana?"
"Ehehe... Lagian kan dia kan mafia. Gak ada salahnya juga kali. Keseharian nya juga berbuat kejam mulu."
Oke, sepertinya tak seharusnya ia melawan Erano debat di saat seperti ini. Sudah jelas ia yang akan kalah nanti nya. Ditambah... Mereka melupakan satu orang yang masih menatap bingung dari balik badan Revan.
*******
Di sisi lain, Aira terus menembakkan peluru nya ke arah Himaki yang terus menghindar. Senyuman terukir di wajah nya yang manis. Pasalnya, sudah lama ia tak menemukan lawan yang sebanding dengan nya. Bahkan Erano dan Eden kadang menahan diri saat berlatih dengan nya.
Sebaliknya dengan Aira yang bersemangat, Himaki justru terlihat sudah mulai kelelahan. Kemampuan dan gerakan Aira yang begitu cepat, ditambah Aira yang tak henti nya menembakkan peluru ke arah nya membuat nya terus menghindar dan melawan terus menerus cukup membuat nya kelelahan.
"Lebih baik kau menyerah saja dan keluar dari organisasi itu!" Seru Aira sambil meluncurkan tendangan.
__ADS_1
Namun sayangnya tendangan itu berhasil di tahan oleh Himaki. "Memang apa untung nya jika aku keluar hah? Mengurangi musuh mu?"
"Mungkin, tapi bukan hanya itu. Mungkin kita bisa jadi rekan?"
"Rekan?" Himaki terkekeh. "Kau pasti bercanda bukan? Untuk apa kalian mengajak anggota mafia sebagai rekan kalian?"
Aira tersenyum. Rencana nya untuk membuat Himaki memihak pada nya mulai bekerja. "Semua orang bisa mendapatkan kesempatan kedua bukan? Ditambah, kau pasti tak ingin apa yang terjadi pada adik mu dulu terulang lagi. Kalo di pikir pikir, kau benci pada orang-orang yang sudah membunuh adik mu kan? Tujuan kita tak beda jauh. Tujuan kami mewujudkan dunia dimana tak ada lagi orang yang menderita karena para mafia dan kriminal itu. Jadi, kau mau kerjasama dengan. Kami?"
Himaki membulatkan mata nya. Bagaimana mereka bisa tau tentang adik nya, bahkan masa lalu nya?
Ia sedikit ragu, namun yang di katakan gadis itu ada benar nya. Dunia pasti akan lebih indah tanpa para kriminal dan mafia. Kejadian itu juga tak akan terulang lagi.
Tapi... Jika ia ketahuan memihak mereka, Avren pasti tak akan mengampuni nya.
"Aku-"
"Kau takut dengan Avren? Tenang saja, kami juga akan melindungi mu." Tambah Aira.
Himaki menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan. "Baiklah, tapi sebelum itu, siapa kalian sebenarnya?"
Aira tersenyum. "Kami... Anggap saja kelinci percobaan yang melarikan diri dari sangkar nya. Tujuan kami ingin menghancurkan Dark Devil sampai akar akar nya. Menghentikan semua percobaan gila mereka agar tak ada lagi korban." Jelas Aira.
Banyak yang ingin Himaki tanyakan, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Jika di lihat dari tujuan mereka, sepertinya Aira dan teman teman nya bisa di percaya.
"Baiklah... Aku akan bergabung bersama kalian." Jawab Himaki akhir nya.
__ADS_1
Aira tersenyum puas. "Baguslah. Jika begitu, ayo temui yang lain! Kalau begitu misi selesai!" Ujar Aira senang.