
Awalnya ia kira sudah tidak ada lagi harapan nya untuk bebas dan kembali merasakan kebahagiaan. Tapi, tak ada yang tau bagaimana takdir akan berjalan. Tak ada yang tau bagaimana takdir akan membawa jalan hidup nya.
Saat dirinya sudah sangat putus asa dan kehilangan harapan untuk selamat, di tengah kesengsaraan dan rasa sakit yang ia pendam sendiri, tanpa di sangka, pertolongan datang yang membuatnya tetap selamat.
Ukuran tangan dari seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya, namun enyah mengapa dirinya merasa tak asing dengan orang orang itu. Apakah ini bukan sebuah kebetulan?
Ia memang tidak tau bagaimana takdir akan membawa hidup nya, tapi tak pernah terbayang juga dalam benaknya hal seperti ini akan terjadi.
Di sebuah kamar dengan desain minimalis namun terkesan mewah, Rei-pemuda itu terbaring di sebuah ranjang yang empuk. Mata nya terpejam damai membawa nya terhanyut dalam dunia mimpi yang indah. Semua luka di tubuh nya sudah di obati, membuat beberapa bagian tubuh nya terbalut plaster dan perban. Miris rasanya melihat bagaimana kondisi pemuda itu sekarang. Seakan begitu rapuh dan bisa hancur kapan saja.
Di ruangan itu, juga ada seorang pemuda ber rambut pirang yang sedang duduk di dekat jendela, memandang ke luar sembari menikmati hembusan sang bayu yang mengusir gerah.
Suasana yang begitu tenang di ruangan itu membuat sang pemuda menutup mata nya, membiarkan dirinya terhanyut. Sampai suara pintu terbuka menarik atensi nya untuk mengalihkan pandangan.
"Bagaimana kondisi nya, Eden?" Tanya seorang pemuda yang baru memasuki ruangan pada pemuda Eden.
Eden melirikkan mata nya ke arah Rei yang masih terlelap. "Masih tidur orang nya. Tapi tenang aja, gak ada luka serius. Cuma beberapa luka sayatan, memar dan luka bekas suntikan. Tapi aku sudah mengobati nya kok. Cuma perlu pemulihan saja." Jelas nya.
Erano, pemuda itu hanya mengangguk anggukkan kepala nya. Baguslah jika kondisi nya sudah lebih baik. "Kau tetap jaga dia ya, langsung bilang aja kalo nanti butuh apa apa." Jawab nya kemudian.
Eden mengangguk dan tersenyum. " Tentu. Kebetulan kau bilang begitu.. Aku jadi pengin ayam geprek dekat perempatan itu loh... Atau mungkin baso enak kali ya? Ah seblak oke juga. Kalo minuman nya cukup jus jeruk. Jeruk nya murni ya, bukan cuma pemanis doang. Jangan lupa sama camilan. Ada minimarket kan deket sini beliin keripik sekalian ya." Pinta nya panjang lebar.
__ADS_1
Seketika perempatan imajiner muncul di dahi Erano. Entah mengapa ia menyesali kata kata nya barusan. "Ck. Beli sendiri sono!"
"Dih! Tadi suruh jagain. Lagian yang nawarin juga ente sendiri kan? Jadi.... Tepati lah kata kata anda sendiri Ano. Atau... Kau bukan tipe orang yang mau mempertanggung jawab kan ucapan sendiri? Oh tidak! Aku di phpin teman sendiri. Hiks sungguh jahat!" Ujar Eden dengan gaya yang kelewat lebay nya.
Ingin rasanya Erano melempar sepatu ke wajah sahabat nya itu, tapi takut dosa karena asal baling anak orang. Takut di omelin emak nya ntar. Jadi, sebagai anak yang baik, tanggung jawab dan murah hati, Erano lebih memilih untuk mengalah. "Baiklah aku beli kan!" Ujarnya dan berbalik pergi.
Eden yang mendengar itu tersenyum lebar sambil melambaikan tangan nya. "Hati hati di jalan Ano~ makasih traktiran nya~" Ucap nya. Memang sudah menjadi hobi Eden untuk menggoda dan membuat kesal sahabat nya itu.
Namun kini pandangan nya kembali terarah pada Rei yang masih terlelap. Langkah nya membawa nya mendekat, mendudukkan dirinya di tepi ranjang pemuda itu. Tangan nya bergerak mengusap surai rambut Rei.
"Tak ku sangka sampai separah ini." Tangan Rei yang satu nya meremas kaos di dada nya, seakan menahan sakit. "Kejam sekali yang mereka lakukan. Sejak dulu... Avren tidak pernah berubah."
Raile, Revan dan Riz sudah menjelaskan semua yang mereka temukan di gedung Alpha saat itu. Penjelasan mereka tentu membuat Raka cukup terkejut. Adakah orang dengan kemampuan seperti itu? Tapi jika di pikir pikir, ini cukup masuk akal juga.
Selain itu, Revan sendiri pun sudah menjadi bukti nyata dadi percobaan manusia itu. Demi me dapat kekuatan untuk kekuasaan, Dark Devil rela mengorbankan banyak nyawa anak anak tak bersalah untuk di jadikan nya sebagai percobaan untuk menjadi senjata penakluk.
Revan sendiri yang mengalami nya jelas tau semua penderitaan dan rasa sakit yang ia rasakan selama di sana. Walau ingatan nya masih belum pulih total, tapi setidaknya ia tau, ia masih bertahan di sini juga karena niatnya tekat untuk kembali merasakan kebahagiaan dan kembali pada keluarga nya.
Tapi... Jika memang benar mereka yang mencuri data adalah para percobaan Dark Devil yang berhasil meloloskan diri, dimana mereka sekarang?
Entah mengapa rada cemas menghampiri dirinya. Ia hampir melupakan tentang Rei yang masih ada di Dark devil. Bagaimana keadaan nya sekarang? Ditambah lagi, Avren pasti akan lebih siaga setelah kejadian itu.
__ADS_1
Puk
Revan sedikit terkejut saat merasakan tepukan di bahu nya. Saat menoleh, ia dapati Raile dan Riz uang tersenyum padanya.
"Kita pasti akan menemukan pencuri itu dan mengungkap semua pertanyaan itu. Kami akan selalu membantu mu kok!" Ujar Raile menyemangati.
"Yoi! Tenang aja, asal ada aku, si Riz yang paling keren lagikan ganteng, gak ada yang gak mungkin!"
Kruyukkk...
Secara tiba tiba suara itu terdengar dari perut Riz yang keroncongan. Ah, mereka sampai lupa makan karena menjalankan misi.
"Haduh... Beli makanan sana." Suruh Raile sambil tepuk dahi.
Riz cuma nyengir sambil menggaruk belakang kepala nya. "Iya baiklah..." Riz berjalan mendekati Raile dan merangkul sepupunya itu. "Tenang.. Kalian juga ku belikan kok!" Lanjut nya sambil berlari pergi. Namun di kejauhan, dirinya berbalik. "Terimakasih untuk traktiran nya ya Raile! " Seru nya.
Tunggu, traktiran nya? Lantas Raile langsung memeriksa saku nya. "Woy dompet ku!!" Jerit nya. Tapi terlambat, Riz sudah pergi duluan.
Sedangkan Revan hanya menahan tawa melihat tingkah kedua saudara nya itu.
Namun di saat itu juga ia senang, karena bisa kembali merasakan kebahagiaan yang selama ini ia dambakan.
__ADS_1