Shadow Agen

Shadow Agen
Kekecewaan


__ADS_3

Riz melangkahkan kaki nya perlahan memasuki rumah, berharap tidak ada yang menyadari melulangan nya.


Di jam jam segini, seharusnya kakek nya sudah pergi ke kedai untuk berjualan. Lalu Fio dan Raile pasti sudah berangkat sekolah. Seharus nya ia aman.


Riz menghembuskan nafas lega saat tak melihat satupun orang di sana. Namun saat hendak melangkah, ia merasakan ada yang menahan baju nya dari belakang membuat Riz membeku seketika.


"M-maaf maaf aku tidak bermaksud bolos! Aku bisa jelaskan! Ampun!" Mohon Riz sambil menyatukan kedua tangan nya. Ia kira sudah aman tapi ternyata ketahuan juga!


Namun ia merasakan sedikit kejanggalan. Tidak ada suara yang ia dengar. Riz pun menoleh dan saat itu juga ekspresi wajah nya berubah drastis.


"Bajuku kesangkut paku..." Ucapnya dengan nada datar. Riz terkekeh menyadari kekonyolan nya sendiri. Beruntung tidak ada yang melihatnya, atau sudah jelas ia akan di tertawakan nanti.


"Dasar paku sialan! Ku cabut dan ku buang ke ujung samudra ntar! Bikin kaget aja. Huh!" Omel Riz kesal.


Dengan santai pemuda bermanik mata blue Sky itu berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Namun ia sedikit mengerenyitkan dahi saat melihat pintu ruangan di sebelah kamar Raile terbuka.


Apa kakek nya sedang membersihkan tempat itu? Mengingat itu adalah kamar Revan dan setahu nya tidak ada yang memiliki kunci pintu kamar itu selain kakek nya.


Riz mempercepat langkah nya menuju ruangan itu. Namun saat sampai di sana, mata nya membulat saat melihat pemuda bermanik emas yang justru ada di dalam.


'Raile.. Bagaimana bisa dia masuk ke sana? Darimana dia dapat kunci nya?' batin Riz.


Riz melangkah perlahan, mencoba mendekati pemuda itu. Dapat terlihat tubuhnya yang sedikit gemetar. Nafas pemuda itu pun mulai tidak betaturan dan salah satu tangan nya yang memegang kepala nya. Tapi di hadapan nya, terdapat sebuah album yg jelas ia tau itu milik Revan.


Oh tidak. Apa Raile sudah mengetahui semuanya sekarang? Apa ingatan nya sudah kembali?


Entah Raile harus senang atau khawatir. Senang jika memang ingatan nya sudah kembali, tapi juga khawatir dan takut tentang apa yang akan terjadi setelah mengetahui jika orang yang paling dia benci selama ini adalah adik. Kandung nya sendiri.


"Raile... Sedang apa kau di-"


"Kau sudah tau tentang semua ini kan?" Potong Raile cepat membuat Riz bungkam seketika.


"Jawab Riz." Mata Raile masih terfokus pada foto foto di album itu. Tanpa mengalihkan pandangan nya, Riz tau jelas kekecewaan dan kekesalan di manik emas yang mulai berkaca kaca itu.


"A-aku bisa jelaskan. Tapi kenapa kau ke sini? Bukannya yang punya kunci-"


"JAWAB PERTANYAAN KU RIZ!" Seru Raile seketika membuat Riz tersentak.


"I-iya aku sudah tau. Tapi aku juga tak bermaksud menyembunyikan nya dari mu. Kami cuma gak mau kau kesakitan karena nya. Semua ini kami lakukan juga untuk kebaikan mu Raile..." Jawab Riz akhirnya.

__ADS_1


Sungguh, ia tak bermaksud melukai perasaan saudara nya tentang ini. Mengingat bagaimana kondisi Raile saat menyinggung masalah Revan, mana tega Riz memberitahu nya. Ditambah sakit di kepala nya karena amnesia. Ia tak ingin melihat saudara nya itu kesakitan atau mendadak pingsan karena itu.


Namun lain hal nya dengan itu, menyembunyikan rahasia sebesar ini bagi Raile cukup menyakitkan. Ditambah lagi, perasaan kehilangan yang sejak dulu ia rasakan, namun tak bisa mengingat atau mengetahui apa maksud perasaan itu.


Pantas saja, saat bertemu dengan Revan, selain rasa benci juga ada perasaan lain yang tersimpan di baliknya.


Lantas Raile terkekeh. Air mata sudah menetes dan mengalir membentuk anak sungai yang membasahi pipi nya.


"Demi aku? Tapi kau tau perasaan ku selama ini? Menyimpan benci pada saudara kandung ku sendiri?" Raile menarik nafas untuk sedikit mengurangi sesak di dada nya. "Tega ya, Riz. Kau menyembunyikan semua ini dari ku. Menurutmu dengan menyembunyikan semua ini, masalah akan selesai?"


"Bukan begitu..." Sungguh, tidak tau harus bagaimana lagi Riz menjelaskan ini pada Raile. Ia tak tau akan berakhir seperti ini.


Ia tau memang tak menyenangkan saat ada seseorang yang menyembunyikan sesuatu dari mu. Apalagi yang disembunyikan itu adalah hal penting seperti ini.


Terlebih lagi yang menyembunyikan nya adalah keluarga nya sendiri. Walau ia tau cepat atau lambat Raile akan mengetahui nya, tapi ia sungguh tak menyangka akan mengetahui rahasia itu dengan cara seperti ini.


Kesal, marah, kecewa, merasa di hianati. Itulah yang Raile rasakan selama ini. Ditambah lagi, saudara kandungnya sendiri yang sudah membunuh sahabatnya. Apa ia akan memaafkan nya begitu saja?


Raile memegang kepala nya. Ingatan nya kembali berputar saat di mana ia kehilangan Neon karena Revan. Tentu ia tak bisa memaafkan nya semudah itu bukan?


"Bagaimana bisa... Bagaimana bisa orang yang paling ku benci itu saudara ku sendiri... "


"Ini bohong kan? Ini tidak benar kan? Pembunuh itu adik ku? Pasti bohong kan?"


"Dengarkan aku Raile! "


"Sejauh mana yang kau tau tentang nya? Apa saja yang kau rahasiakan dariku?!" Air mata Raile tidak bisa ia tahan lagi untuk tidak mengalir. Seberapa banyak yang semua orang sembunyikan dari nya.


"Jawab Riz!!"


"Oke aku akan menjawab nya. Tapi tolong tenang dulu, jangan seperti ini Raile!" Riz berjalan mendekati Raile dan duduk di kasur sebelah pemuda itu.


"Kau ingat saat kecelakaan yang menewaskan orang tua mu? Saat itu kau kehilangan ingatan mu, khususnya tentang Revan. Rei juga sudah menjelaskan nya padaku. Saat itu Revan di culik oleh ketua mafia itu dan di jadikan sebagai manusia percobaan."


Raile menoleh ke arah sepupu nya itu. "Manusia percobaan? "


Riz mengangguk. Ia melanjutkan penjelasan nya. " Revan di jadikan manusia percobaan oleh mafia itu. Dia selalu di siksa. Aku juga sudah menyelidiki nya, dan semua itu benar. Alasan ku tidak pulang beberapa hari ini juga karena itu. Aku bekerjasama dengan salah satu anggota Dark Devil untuk mendapatkan semua data dan bukti itu. "


Raile menatap tak percaya. "Kau bekerjasama dengan anggota Dark Devil? Bagaimana jika ada agen yang tau te tang ini?"

__ADS_1


"Selama tidak ada yang bilang, tidak akan ada yang tau. Lagipula agen Sein juga membantu ku saat itu." Riz menghela nafas nya. "Namanya Hinaki, saat itu juga kami bertemu dengan Revan yang baru saja menyelamatkan Rei yang tertangkap."


Ah iya. Raile sempat melupakan keberadaan Rei. Sejak misi saat itu, Rei menghilang dan tidak ada kabar. Tak ia sangka jika memang benar tertangkap.


"Lalu, di mana Revan sekarang?" Tanya Raile.


Riz terdiam. Ia tidak tahu apakah ini waktu yang tepat untuk membongkar semua rahasia yang selama ini ia sembunyikan dari saudaranya itu.


Tapi bagaimanapun, cepat atau lambat kebenaran juga akan terungkap.


"Dia di Shadow Agen. Bersama kita."


Raile mengerenyitkan dahi tak percaya. " Maksud mu? "


"Ren, adalah Revan. Dia bergabung dan menggunakan penyamaran seperti itu untuk menyembunyikan identitas asli nya. Aku juga tau belum lama ini, Raile..."


Raile terdiam. Jadi itu alasan nya mengapa ia merasa sangat khawatir dengan Ren, padahal ia baru sebentar mengenal anak itu. Tapi ternyata, ikatan persaudaraan lah yang membuatnya merasa seperti itu.


"Jadi selama ini..."


"Adik mu ada bersama mu. Dia selalu melindungi mu. Raile, tolong maafkan Revan... Aku yakin dia terpaksa membunuh Neon. Dia sudah banyak menderita selama ini." Bujuk Riz. Ia berharap dengan ini, Raile bisa memaafkan Revan dan hubungan mereka akan baik kembali sepergi dulu.


Namun, tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan. Raile masih terdiam. Kesunyian menyelimuti mereka kala itu.


"Bisa tinggalkan aku sendiri? "


"Tapi Raile-"


"Kumohon." Potong Raile cepat. Riz hanya menghela nafas dan melangkahkan kaki nya keluar ruangan itu. Membiarkan sepupunua sendiri di kamar sang adik.


"Takdir macam apa ini? Orang yang paling ku benci adalah saudara kandung ku sendiri? Semua orang menyembunyikan itu... Apa yang harus ku lakukan setelah ini.... "


Brug


Raile menjatuhkan dirinya ke ranjang sang adik, menutup mata nya dengan lengan nya, mencoba menahan air mata yang mengalir walau usaha nya gagal.


Tangan nya mengepal kuat. Semua emosi seakan menyatu dan saling berantakan dalam dada nya. Kepala nya berdenyut sakit dan nafas nya mulai memberat. Seakan oksigen mulai menjauh dari nya. Sampai akhirnya Raile membiarkan kegelapan membawa nya ke alam mimpi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2