
"Jadi di sini tempatnya..." Gumam Revan melihat gedung tua yang gak di gunakan lagi. Lokasinya memang tak jauh dari jalan raya, tapi pagar besar yang membatasi nya membuat orang orang enggan untuk masuk ke sana. Di tambah lagi lokasi seperti itu biasanya di jadikan sebagai markas para geng motor atau kriminal lain.
"Baiklah, aku akan masuk." Ujar Revan dan hendak melangkah masuk namun langsung di tarik oleh Eden.
"Jangan terburu buru dong bro... Kau tau mereka tuh bukan orang biasa kan? Aku yakin Avren sudah merencanakan sesuatu." Kata Eden.
Aira mengangguk setuju. "Setidaknya kita harus membuat rencana."
"Begini saja, Revan akan masuk duluan dan kita coba masuk dari arah belakang. Di saat yang tepat nanti kami akan masuk dan menyerang mereka. Saat itu kau langsung cari dan selamatkan Raile. Untuk mereka, biar kami yang urus." Jelas Erano.
Revan mengangguk setuju. "Baiklah. Mohon bantuan nya."
Erano, Eden dan Aira mengangguk. Sekarang saatnya mulai misi penyelamatan. Revan menarik nafas panjang meyakinkan dirinya. Prioritas utama nya sekarang hanya menyelamatkan Raile. Untuk sisanya ia serahkan pada rekan rekan nya.
Saatnya beraksi. Tak akan Revan biarkan ada seorang pun yang menyakiti saudara nya itu.
******
"Revan sudah masuk. Apa kita langsung serang aja?" Tanya Aira yang kini mengamati dari salah satu jendela belakang gedung itu.
Erano menggeleng singkat. "Nanti dulu. Kita harus amati pergerakan mereka, berapa banyak lawan yang menanti kita di sana."
"Baiklah..." Aira mengeluarkan dua pistol dari saku nya dan kembali mengisi nya dengan peluru. Senyuman terukir di wajah nya, memberi kesan manis tapi juga menakutkan. "Sudah lama aku gak pake dua pistol ku ini. Terakhir kali ku pake waktu kita kabur dari markas. Apa... Kali ini aku bisa menggunakan nya untuk membunuh mereka?"
Erano yang mendengar itu mendengus, "lakukan sesuka mu. Tapi, jangan lukai yang tidak bersalah. Beberapa dari mereka mungkin juga korban."
Aira mengangguk mengerti. "Baiklah." Bisa saja masih bawahan yang di kirim Erano sekarang adalah esper juga yang memiliki kemampuan khusus atau sekedar korban yang di gunakan Avren sebagai senjata. Tentu Erano dan lainnya tak bisa membunuh mereka begitu saja.
"Ano! Aira!" Panggil Eden sambil melompat turun dari salah satu jendela. Beruntung kemampuan nya sudah seperti ninja yang bisa lompat sana sini tanpa takut. Tapi tetap saja, yang di lakukan Eden sempat membuat Erano terkejut awalnya.
__ADS_1
"Woy! Kau lompat dari atas gitu kalo jatuh nanti gimana?" Omel Erano setelah Eden berhasil turun dengan selamat.
Eden yang mendengar itu justru hanya menggaruk belakang kepala nya sambil meringis menunjukkan gigi putih nya. "Maaf maaf aku bakal lebih hati hati kok. Ngomong ngomong..." Eden memandang jendela tempat nya melompat tadi dan kembali memandang kedua rekan nya. "Raike di jadikan umpan. Ada 4 orang di sana dan tiga di antaranya mungkin lebih muda dari kita. Satu orang lagi adalah Himaki. Kau tau, seperti dalam data yang pernah ku curi dulu, dia bergabung Dark Devil untuk membalas orang-orang yang sudah membunuh adik nya. Kayaknya dia salah langkah deh."
Erano memasang pose berfikir. "Jika begitu, bahkan dia tak tau jelas tentang rahasia Dark Devil?"
"Hanya beberapa."
Hanya beberapa... Jika begitu bisa saja dia juga hanya korban. Melalui masa lalu yang buruk dan kebencian yang ada pada nya membuat Himaki bergabung dengan anggota Dark Devil walau tak tau semua rahasia tentang organisasi mafia itu. Masih ada kemungkinan untuk menarik nya keluar.
"Aira, kau atasi orang Jepang itu. Untuk tiga pemuda itu biar aku dan Eren yang urus." Erano menatap ke arah Eden. "Kita pastikan Revan berhasil menyelamatkan Raile dulu. Tetap lindungi dia."
"Baiklah bukan masalah! Saat nya beraksi!" Ucap Eden semangat dan langsung masuk kembali ke dalam gedung bersama dengan Aira.
Sementara Eden langsung menyiapkan senjata nya dan masuk melalui jalur yang berbeda dengan kedua rekan nya.
Di saat Revan sudah menemukan Raile dan menyelamatkan nya, ia harus siap. Menggunakan kemampuan nya untuk mencegah anggota Dark Devil mencelakai Revan dan Raile.
Saat melihat ada anggota Dark Devil yang mendekati Revan, Erano langsung bersiap dengan kemampuan nya. Mereka hanya perlu mendengar ucapan nya, maka dengan cepat akan langsung terpengaruh dengan kemampuan nya.
Tapi... Bagaimana jika Raile ikut terpengaruh? Ia tak perlu khawatir dengan Revan yang bisa menangkal serangan nya dengan listrik miliknya. Tapi tidak dengan Raile.
Erano memutuskan untuk mengamati lebih dulu sambil memperhatikan tindakan Revan.
Saat salah satu anak itu masuk, tampak Revan yang mundur beberapa langkah dan menggenggam tangan Raile. Listrik merah tampak memercik dari tangan nya yang seolah dia alirkan pada tubuh Raile.
"Kami hanya melakukan tugas dari tuan Avran. Membawa senjata nya kembali. Tapi sebelum itu... Kami mau main main dulu!" Pian langsung berlari cepat ke arah Revan. Namun di luar dugaan nya, Revan justru masih terdiam seakan tak ingin melawan sedikitpun.
Erano mengerti sekarang. Jadi ini rencana Revan. Dia sengaja mengalirkan listrik itu sebagai pelindung agar Raile juga tak terpengaruh kemampuan nya.
__ADS_1
"Cerdik juga." Seringaian terbentuk di bibir merah Erano. "Saatnya mulai."
"[Penghentian]"
Saat itu juga Pian terjatuh begitu mendengar suara itu. Revan masih tidak berkutik, diam di tempat nya dan hanya memandang dengan ekspresi datar. Lain hal nya dengan Raile yang nampak terkejut melihat Pian yang secara tiba-tiba terjatuh.
Erano menarik nafas lega ternyata berhasil. Dengan cepat ia langsung mendobrak pintu dan masuk ke dalam.
"Rev!" Penggil Erano.
"S-siapa kau?" Tanya Raile yang tampak terkejut dengan kedatangan Erano yang tiba tiba.
Pandangan Erano teralih pada Raile yang masih ada di balik Revan. Senyuman terukir saat melihat manik emas pemuda itu. "Aku Erano teman Revan. Tenang saja, kau gak perlu takut. Aku gak nggigit kok!" Ujar nya sambil mengulurkan tangan.
"A-aku..."
Sudah jelas dia terkejut dan kebingungan dengan kedatangan nya.
"Raile kan? Kakak Revan. Aku sudah tau tentang mu. Baguslah kau tidak apa apa. Revan sangat khawatir pada mu tadi." Ucap Erano sambil memberikan tatapan yang cukup sulit di artikan pada Revan.
Sedangkan pemuda ber iris merah ruby itu hanya berdecak kesal dan memalingkan wajah. "Niatnya aku juga gak mu minta bantuan kalian loh." Balas Revan.
Erano yang mendengar itu membatin. 'Eh tsundere nya kambuh nih? Dah jelas jelas dia khawatir tadi.'
Di sisi lain, Raile mengangguk mengerti. Jika pemuda ber rambut silver itu adalah teman Revan, sudah jelas dia ada di pihak nya. Namun dari ekspresi uangd I tunjukkan Raile, sudah jelas banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan nya.
Raile bertanya. "Tapi bagaimana dia bisa langsung terjatuh begitu mendengar ucapan mu? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Ku jelaskan nanti. Yang penting kita harus keluar dari sini dulu."
__ADS_1
"Tidak secepat itu." Namun, belum sempat mereka melangkah meninggalkan ruangan, dua orang lagi datang, lengkap dengan senjata di kedua tangan mereka. "Gak akan kami biarkan kalian lolos!" Ujar Gen marah.