Shadow Agen

Shadow Agen
Curiga


__ADS_3

Di markas Dark Devil, tepatnya di ruangan nya, terlihat Avren yang sedang memandang layar ponselnya. Salah satu anak buahnya menelfon dirinya tapi langsung terputus begitu saja. Ada apa?


Menghela nafas "tak berguna"


Avren berjalan ke ruangan Revan. Namun, baru beberapa langkah ia keluar dari ruangannya, ada sebuah suara yang terdengar.


"Berhenti menjadi iblis jika kau masih ingin hidup"


Seketika ia berhenti. Ia menengok ke kanan dan kiri tapi tak ada siapapun di sana. Hanya ada dirinya di koridor yang cukup sepi. Mungkin hanya perasaannya saja. Ia pun kembali berjalan.


Namun, selagi berjalan, ia tetap memikirkan tentang bawahannya itu. Tak ada yang berani menelfon nya kecuali jika ada hal penting. Atau jangan jangan Revan berhasil kabur? Ia pun segera berjalan ke ruangan Revan. Namun...


Brug!!


"Aduh!!" Pekik seorang pria yang secara tiba tiba menabrak Avren saat keluar dari ruangan nya yang kebetulan berada di sebelah ruangan Avren.


Orang itu adalah Sein. Ia yang saat itu sedang membawa setumpuk dokumen pun langsung mengambil dokumen yang terjatuh. "Maafkan aku tuan..." Ucap Sein sambil sedikit membungkukkan badannya.


"Ck! Makanya kalo jalan lihat lihat! Dasar tak berguna!! " Ucap Avren dan berniat pergi. Namun, Sein langsung mencegah nya.


"Tuan, tunggu dulu. Saya baru saja mendapat informasi jika pameran lukisan akan dilaksanakan tak lama lagi. Banyak lukisan dengan harga jual tinggi. Bagaimana jika kita ke sana?" Tawar Sein.


Avren hanya menatap malas. "Aku tidak tertarik. Silahkan jika kau menginginkannya."


"Tapi tuan... "


"Aku sedang sibuk!!!" Bentak Avren akhirnya yang langsung membuat Sein bungkam.


Dengan cepat, Avren langsung membuka pintu, dan saat pintu terbuka, ia melihat pemuda ber iris ruby itu yang menatap kosong dirinya dengan rantai yang masih terpasang di tubuhnya.


'Sepertinya aku berpikir berlebihan' batin Avren.


Pria itu berjalan mendekati Revan. Ia menatap tajam pada pemuda ber rambut hitam yang hanya menatap nya kosong. Tangan nya bergerak mengecek rantai yang mengikat tubuh pemuda malang itu.


Tak ada kerusakan sama sekali.

__ADS_1


Oke, kali ini sepertinya dia terlalu khawatir. "Kau tak melawan hah? Biasanya kau akan langsung marah" Ucap Avren.


"Aku lelah menghadapi makhluk kejam sepertimu" Ujarnya acuh.


Avren menatap remeh. "Sekarang kau bisa bicara seenak nya. Tapi akan ku pastikan kau menyesali nya" Menjambak rambut Revan. "Jika kau berani kabur, akan ku pastikan kau benar benar menyesal." Ucap Avren dan langsung pergi meninggalkan Revan.


"Ck! Aku pasti akan bebas. Lihat saja pembalasanku!" Ujar Revan.


Namun, di saat berikutnya, ia juga menarik nafas lega. Ia beruntung bisa sampai di sini tepat pada waktunya. Sedikit saja keterlambatan, ia akan dihajar habis habisan karena itu. Belum lagi jika ia justru semakin disiksa dan dilakukan percobaan lagi.


Sungguh merepotkan..


Beginilah nasibnya yang menjadi manusia percobaan dan senjata oleh para mafia kejam dan tak memiliki ampun itu. Beruntung Sein sempat mengulur waktu untuknya masuk ruangan tadi. Jika tidak, bisa gawat.


Namun, sejenak ia berfikir, apakah Avren masih bisa di sebut sebagai manusia?


Sementara itu...


Di sebuah perpustakaan, terlihat seorang pemuda bermanik gold yang sedang memegang buku sambil melamun.


Tak lama kemudian, Riz berjalan masuk mendekati Raile yang baginya seperti patung itu.


"Hai Raile!!!" Sapa Riz sambil menepuk pundak pemuda itu yang langsung membuatnya terkejut.


"HUA!!! Keterlaluan Riz!! Beruntung aku tidak punya penyakit jantung. Kalo punya gimana??!!" Ucapnya terkejut.


"Hahahahah!!!! Habisnya kau ngelamun kaya gitu kaya patung atau... Ah! Robot Jagara"


"Ha? Ah sudahlah lupakan. Kenapa kau kemari?" Tanya Raile yang langsung menghentikan tawanya.


Duduk di samping Raile. "Lagi apa di sini?" Tanya Riz. Pertanyaan yang aneh dan tak masuk akal baginya.


Jelas jelas dia di perpustakaan. Kalo bukan untuk membaca, mau apa lagi?


"Baca lah. Masa makan." Kata Raile.

__ADS_1


Menghela nafas. "Bilangnya gitu, tapi tatapannya lain. Raile, tatapan mu kosong loh. Kau memikirkan sesuatu kan? Kau memikirkan Revan?"


Raile memalingkan muka. "Ck! Buat apa pikirin orang itu? Aku cuma kepikiran tentang orang baru yang bergabung dengan Shadow Agen. Siapa dia? Kenapa rasanya aku penasaran dengannya?"


Riz mengangguk anggukkan kepalanya. Sebenarnya, dirinya juga memikirkan hal yang sama. Ia belum bertemu dengan anggota baru itu dan cukup membuatnya penasaran. Tapi yang lebih membuatnya penasaran lagi, kenapa Raile begitu penasaran.


Biasanya Raile tak terlalu peduli dengan hal seperti itu. Tapi sampai membuatnya melamun memikirkan itu, jelas ada sesuatu yang lain. Apa mungkin dia harus mencari tau?


"Riz?" Panggil Raile. Riz pun menoleh.


"Ah ya? Ada apa?"  Tanya nya.


"Justru sekarang kau yang melamun. Sudahlah aku mau pulang."


"Huh! Aku melamun juga ketularan kamu kali."


"Emangnya melamun bisa menular? Kau kira itu penyakit apa? Pake menular segala."


"Bukan, tapi kau nya saja yang membuatku sakit."


Mengernyitkan dahi. "Ha?"


"Sakit mata melihat wajahmu yang standar."


Raile yang mendengar itu, "....." Apa dia bilang? Benar benar menyebalkan!!


Raile pun langsung mendekati Riz dan meluncurkan jitakan padanya.


"Aduh! Apa apaan Raile! Sakit tau!!" Keluh Riz.


"Salahmu sendiri!" Ucap Raile dan langsung berjalan pergi.


Sementara Riz malah terkekeh pelan. "Marah niye..."


Namun, dalam pikiran Raile masih saja terbelit tentang anggota baru itu. Apa yang membuatnya begitu penasaran dengannya? Pasti ada alasan lain.

__ADS_1


TBC


__ADS_2