
Terkadang tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana. Hal yang tidak terduga bisa saja muncul begitu saja. Kepercayaan yang sudah mereka berikan, senyuman dan keceriaan yang pemuda itu tunjukkan pada mereka selama ini hanyalah topeng untuk menutupi niat dan sifat aslinya.
Sungguh penting untuk selalu waspada dan menaruh kecurigaan pada orang orang di sekitar, bahkan orang terdekat sekalipun. Karena tidak ada yang tau, bahkan sahabat sejati pun bisa jadi musuh dalam selimut yang hanya mencari waktu yang tepat untuk menunjukkan sifat asli mereka.
Situasi saat ini benar benar tak menguntungkan bagi Rei dan Riz. Riz yang tidak bisa melawan karena terjebak dengan pistol yang menempel di kepala nya, dan Rei yang tidak tahu harus melakukan apa. Semuanya harus di pikirkan baik baik untuk mengambil tindakan. Kesalahan kecil saja, nyawa yang menjadi taruhan nya.
Rei tidak ingin apa yang di alami Revan kini di alami Riz juga. Sebuah keberuntungan Revan selamat walau harus kehilangan ingatan nya. Tapi tidak semestinya kali ini pun, Riz akan bernasib sama sepertinya. Bisa saja lebih buruk dan harus meregang nyawa, atau justru sebaliknya. Tidak ada yang tahu.
"Kenapa? Kalian tidak bisa melawan? Apa kalian menyerah? Gak seru dong... Masa aku baru datang, permainan sudah berakhir gini." Ucap Thory sambil tersenyum ke arah dua pemuda itu.
"Lepaskan Riz!!" Ujar Rei. Walau ia tau hal itu mustahil untuk pemuda keji itu lakukan.
"Melepaskan nya?" Thory terkekeh. "Aku justru akan membuatnya menjadi percobaan seperti bunga bunga ku! Pasti seru."
Rei mengepalkan tangan nya kuat. "Kau sudah gila ya?!"
Bukannya kesal atau marah, Thory justru menunjukkan ekspresi gembira. "Ya... Gila karena mendapat bahan yang bagus untuk percobaan ku."
"Sialan!"
Kring kring
Namun secara tiba-tiba handphone Thory berdering membuat ekspresi pemuda itu seketika berubah.
"Ada apa?" Tanya Thory
"Maaf, kita ada masalah. Banyak data telah di curi! Bahkan gedung yang di gunakan untuk menyimpan data itu sudah di hancurkan." Balas seseorang dari sebrang telefon.
Thory berdecak kesal. Tangan nya mengepal kuat pistol yang di pegang nya, membuat Riz semakin takut jika saja pelatuk itu di tekan.
"Bagaimana bisa ini terjadi?! Dasar tidak berguna!" Thory tersenyum. Tapi kali ini bukan senyuman manis, melainkan senyuman kejam yang ia tunjukkan. "Sepertinya ada yang mau bermain main dengan ku." Lanjutnya.
Bzzt
Namun ekspresi nya seketika berubah saat mendengar suara percikan listrik yang disusul lampu yang beberapa kali berkedip.
"Ada apa ini?"
Thory menoleh pada dua pria yang tampak kelelahan. Ia hanya menaikkan bahu sebagai jawaban. Namun tak lama...
BBZZZTTT!!
"AWAS!!"
BLARR!!
Dengan cepat Thory langsung melompat menghindari sambaran petir merah yang entah darimana datang nya. Melihat kilatan listrik merah itu, ia sudah bisa menebak siapa pelaku nya.
Seringaian terbentuk di wajah nya. "Akhirnya kau datang juga."
Sementara itu, Riz yang terlepas dari tahanan Thory langsung menjauh dari pemuda itu. Ia mengedarkan pandangan nya ke sekitar. Apa tadi itu Revan? Tapi bukankah Revan sedang ada di rumah sakit sekarang? Tapi, dilihat dari warna kilatan listrik itu, jika bukan Revan siapa lagi? Ditambah tidak mungkin juga petir mendadak menyambar dari langit tepat ke arah mereka.
"Apa tadi itu Revan?" Tanya Rei. Riz hanya menaikkan bahu. Ia sendiri kurang yakin.
"Hoy!! Jangan bersembunyi seperti itu! Cepat keluar sekarang!!" Teriak Thory, tapi tidak ada jawaban. "Jika tidak, aku akan-"
Bzzzttt!!!
Lagi lagi listrik menyambar dan nyaris saja mengenai Thory. Ia menodongkan pistol nya ke arah datangnya listrik itu, namun lagi lagi menghilang tanpa jejak. Sungguh, ini membuatnya kesal.
__ADS_1
"Sepertinya akan berbahaya jika kita terus di sini sekarang. Lebih baik kita pergi untuk saat ini." Ucap Farel. Thory berdecak kesal. Tapi melawan pun tak ada gunanya untuk saat ini.
Thory mengalihkan pandangan nya pada dua pemuda seusia nya yang memberikan tatapan tajam. "Lain kali, tak akan ku biarkan kalian hidup." Ujarnya dan berlari pergi.
"Hey jangan kabur kalian!!" Rei berniat mengejar mereka, namun
Bzzzttt!!!
"Awas!!"
Riz langsung menarik tangan Rei, membuat pemuda itu mundur. Jika saja Riz tidak menarik tangan nya, mungkin saja ia sudah terkena sengatan listrik itu tadi.
"Ck. Mereka jadi kabur." Keluh Rei.
"Setidaknya kita lolos sekarang. Daripada ketangkap malah di bunuh kan? Sudahlah, kita kejar mereka lain waktu. Lagipula... Aku penasaran apa tadi itu benar-benar Revan atau bukan."
Ah benar juga. Mereka juga harus memastikan nya. Kondisi nya saat ini jelas tidak baik untuk nya menggunakan kemampuan nya itu.
"Baiklah, ayo pergi."
*******
Tap tap tap tap tap
Keempat lelaki itu terus berlari, menjauhi lokasi itu. Dalam hati Thory kesal karena gagal mendapatkan bahan percobaan baru. Tapi di sisi lain, ia juga masih ingin hidup lebih lama lagi.
"Ck! Dasar manusia percobaan yang menjengkelkan. Seenaknya saja asal serang begitu." Ujar Thory kesal. Sementara ketiga pria di belakang nya hanya terdiam dan terus berlari.
Ketahuilah, nyawa mereka lebih penting mereka masih ingin hidup lebih lama.
Namun, tidak ada yang tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bzzztttt!!!
"Ck. Sialan! "
Listrik menyambar mengenai tumpukan kayu dan besi yang di sandarkan di dinding salah satu rumah warga, membuat besi dan kayu itu terjatuh memblokir jalan. Beruntung Thory, Naru dan Farel berhasil menghindar, tapi sayangnya Saki terjebak di balik nya.
"Saki? Kau baik baik saja?" Tanya Farel dari sebrang sana.
"Aku baik baik saja. Pergi saja dulu, aku akan mencari jalan lain."
"Kau yakin?"
"Ya. Lagipula kota sudah jauh dari anak anak itu. Aku akan menyusul!"
Farel memandang Naru dan Thory. "Baiklah!" Setelah itu mereka langsung berlari pergi. Sementara Saki mencari jalan lain untuk menyusul mereka.
Namun, saat dirinya memasuki sebuah lorong yang cukup gelap, angin dingin secara tiba tiba bertiup membuatnya merinding dan menggigil di saat yang bersamaan. Ia melambatkan langkah nya. Tidak mungkin ada hantu di sini, bukan?
Bzztt
Suara percikan listrik terdengar membuat langkahnya terhenti. Tangan nya merogoh saku celana nya bersiap mengambil pistol dan menembak jika saja ada yang datang.
"Keluar kau sekarang juga!" Seru nya.
Dari balik bayangan gedung, seorang pemuda bermanik merah gelap berjalan ke arah nya. Terlihat perban yang melilit kepala pemuda itu. Kepala nya sedikit tertunduk, membuat poni rambutnya yang sedikit lebih panjang menutupi mata nya.
"Kau... Apa yang kau lakukan di sini hah?!" Tanya Saki yang entah mengapa merasa takut. Namun, di saat berikutnya ia membulatkan mata. Perlahan, rambut pemuda itu berubah warna menjadi putih. Kilatan listrik terlihat mengalir di tubuh nya.
__ADS_1
Revan mengangkat wajah nya, menunjukkan seringaian kejam yang terlukis jelas di wajah nya. Tubuh Saki semakin gemetar karena takut. Tapi ia terus mencoba menutupi nya. Pistol ia todongkan ke arah pemuda itu, siap untuk menembak kapan saja.
Tapi sayangnya, itu sepertinya tidak membuat Revan takut sama sekali.
"Sungguh lucu."
DAR!
Peluru di tembakkan, namun berhasil di tangkis oleh listrik pemuda itu.
"Mainan seperti itu tak akan bisa melukai ku kali ini."
"Ck. Sial!"
DAR DAR DAR!!
Saki lagi lagi menembak ke arah Revan, tapi hasilnya sia sia. Peluru itu selalu berhasil di tangkis pemuda itu.
Bzztt!
Kilatan listrik merah terlihat namun pemuda itu langsung menghilang dalam sekejap. Saki memandang sekitar nya, mencari keberadaan pemuda itu. Namun,
"Mencari ku?"
Seakan membeku di tempat, Saki tidak bisa bergerak sekarang. Ah, tidak. Tidak berani bergerak sekarang.
Jleb
Tubuhnya menegang saat benda logam itu menerobos masuk dalam tubuh nya. Rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelum nya menjalar di tubuh nya. Setelah itu, cairan merah pekat mulai mengalir keluar membasahi pakaian nya.
Revan menarik belati yang baru saja ia tusuk kan ke perut pria itu.
Saki yang tidak ingin mendapat serangan lagi langsung meluncurkan tendangan, menahan rasa sakit yang ia rasakan.
Revan melompat menghindar tapi itu saja tak akan membuat permainan pemuda itu berakhir. Senyuman semakin lebar di wajah nya. Terlebih lagi melihat target nya yang terlihat kesakitan sambil memegang perut nya yang berlumuran darah.
"Sialan kau!" Ujar Saki.
"Hehe~ apa itu sakit? Aku sering merasakan itu dulu loh~" Ucap Revan sambil berjalan perlahan mendekati Saki.
Pria itu mencoba berlari pergi, namun..
Bzztt!!
"Akh!"
Brug!
Sambaran listrik mengenai nya, membuat Pria itu terjatuh. Tubuh nya seakan mati rasa. Apakah ini akan menjadi akhir hidup nya?
Revan berjalan mendekati pria itu dan menarik rambut nya, membuat Saki terpaksa mendongak karena nya.
"Mari kita akhiri saja permainan ini sekarang."
JLAZZ!
Hanya dengan satu tebasan, kepala pria itu terpotong, menggelinding dari tubuh nya. Darah mengalir deras membasahi jalanan, membentuk genangan di sana. Tapi bukannya merasa jijik, justru seringaian semakin lebar tercetak di wajah Revan.
"Hahahahah!! Inilah akibatnya jika berani bermain main dengan ku." Revan menjeda ucapan nya. "Sekarang, siapa yang akan menjadi target ku selanjutnya?"
__ADS_1
'Cukup.'
TBC