
07.50 Dark Devil.
"Pagi Tuan..." Sapa Soni sambil sedikit membungkuk. Dia membawa sebuah senapan di tangan nya, sepertinya dia mau berlatih menembak.
Avren yang di sapa hanya menganggukkan kepala nya dan masuk ke ruangan nya. Di dalam nampak Thory yang sedang bercanda dengan Pian, Gen dan Sai yang saling melempar ejekan dan gurauan.
Avren menghela nafas lelah dan berjalan mendekati kursi nya dan mendudukkan dirinya di sana. Sepertinya dia terlempar ke dunia bocah. Rasanya ingin mengusir anak anak itu dari hadapan nya, tapi di sisi lain ia juga tak ingin berdebat dengan Thory.
Melihat kehadiran Avren, Pian, Gen dan Sai tampak sedikit tegang. Ya, sebelumnya mereka hanya menganggap tuan mereka itu selalu tegas dan kejam, jadi hanya rasa hormat dan takut yang di tunjukkan, setelah mengetahui sikap Avren yang tak akan segan melakukan hal keras atau menjadikan mereka sebagai percobaan juga.
Namun lain hal nya dengan Thory yangs dalam tak peduli sama sekali.
Avren menghela nafas dan mengambil secangkir kopi yang memang sudah di sediakan oleh pelayan nya setiap pagi, bersama sebuah koran. Pria bermata jingga itu hanya membalik balik halaman koran, tak tertarik untuk membaca mya. Sampai akhirnya ia berhenti pada salah satu halaman.
"Kebocoran data penting negara kembali terjadi! Di duga pelaku nya adalah Dark Devil." Itu yang tertulis di sama, membuat Avren berdecak kesal. Sungguh, kali ini ia tak melakukan apapun.
Belakangan ini memang banyak kasus kebocoran data penting, tak terkecuali data Dark Devil sendiri. Avren berdecak kesal, para senjata nya kali ini justru melangkah lebih maju dari nya.
"Kau kesal ya, pak tua?" Tanya Thory tiba tiba tanpa berbalik dan masih fokus pada ketiga teman nya itu.
"Jangan memanggil ku pak tua, dasar bocah!" Seru Avren. Dia sudah cukup kesal, tapi bocah zamrud itu justru membuat nya semakin kesal.
"Mereka lebih maju sekarang. Apa kau tidak mau menambah kemampuan salah satu senjata mu yang paling setia?" Kini Thory berbalik menatap Avren dengan mata berbinar.
Melihat itu saja membuat mu muak! Ingin rasanya Avren mencongkel mata pemuda itu, jika saja dia tak berguna untuk organisasi ini.
"Bilang saja itu kau. Kebanyakan orang justru tak ingin jadi percobaan, tapi kurasa itu tidak berlaku untuk manusia gila seperti mu." Cetus Avren sambil meminum kopi nya.
Thory terkekeh. "Aku melakukan ini juga untuk kebaikan Dark Devil kan? Dengan menghancurkan Shadow Agen, dendam ku akan terbalaskan, di sisi lain kau juga di untungkan karena tidak akan ada lagi yang mengganggu Dark Devil untuk menguasai Delaria City."
Ucapan panjang Thory ada benar nya. Kedua nya sama sama di untungkan dalam hal ini. Selain itu, tujuan mereka juga sama. Untuk menghancurkan Shadow Agen, musuh mereka selama ini.
__ADS_1
"Baiklah, akan ku lakukan. Cepat ikut aku." Ujar Avren, bangkit dari tempat duduk nya dan berjalan menuju pintu.
"Tapi... Bukankah kau harus memberikan mereka hadiah atas apa yang sudah mereka lakukan?"
Langkah Avren terhenti. Ah, ia melupakan tiga pemuda itu. Tapi jelas mereka tak berhak menerima apapun dari kegagalan misi bukan? Avren hendak menolak, namun pandangan nya teralih pada Thory yang memberikan tatapan tajam.
"Baiklah, ada beberapa perhiasan di laci meja ku. Terserah mau kalian jual atau apakan, aku tak peduli." Ujar nya dan kembali berbalik.
Wajah Pian, Gen dan Sai tampak berbinar. "Terimakasih banyak tuan!" Ucap mereka bersamaan.
Thory tersenyum manis dan berdiri, mengikuti Avren, meninggalkan ketiga pemuda itu di dalam.
"Hey hey... Kau nggak ikhlas ya?" Tanya Thory.
Avren mendengus kesal. "Tidak juga." Lebih baik ia lupakan daripada harus berdebat dengan anak menyebalkan itu.
Avren berjalan menuju ruangan yang selalu ia gunakan untuk melakukan percobaan. "Di mana dokter itu?" Tanya nya begitu menyadari kesunyian di ruangan itu.
"Pergi tuh. Terus gimana dong?" Tanya Thory sedikit cemberut.
"Kau tidak lupa aku juga bisa melakukan nya kan?" Avren langsung masuk ke ruangan itu di susul Thory yang masih agak cemberut.
"Aku lebih suka dokter itu." Ujar nya.
Avren tidak menjawab. Ia bertanya tanya kemana orang itu pergi tanpa memberitahu nya? Biasanya dia selalu meminta izin jika ingin pergi ke suatu tempat.
*****
"Kau lama sekali. Aku cape tau nunggu nya." Keluh Farel yang terlihat sedang membaringkan tubuh nya di sofa. Pipi nya sedikit ia gembung kan tanda ia sedang kesal.
Naru yang melihat itu tertawa kecil, melihat sikap kemana kanakan 'kakak' nya itu.
__ADS_1
"Maaf, dia datang sedikit terlambat tadi. Tapi itu lebih baik daripada tidak dapat sama sekali kan?" Naru berjalan mendekati Farel dan duduk di sofa sebelah nya. Ia menunjukkan sebuah flashdisk yang di bawa nya, membuat senyuman Farel merekah.
"Baguslah, setidaknya pak tua itu ada gunanya juga. Sekarang kita bisa tau cara mengendalikan mereka." Ujar Farel dengan senyuman lebar nya. "Tapi... Kau yakin tidak ada yang mengikuti mu kan?"
Naru menggeleng. "Kurasa tidak ada, kau tidak perlu khawatir. Lagipula, siapa juga yang bakal menebak toko ice cream seperti ini ternyata adalah markas rahasia kita?"
Ada benarnya. Di lihat dari lokasi dan suasana toko ini yang terlantar, kotor dan berantakan, belum lagi dengan banyak nya jaring laba laba, seakan tak pernah ada orang yang masuk, kecil kemungkinan akan ada orang yang menyadari nya.
Di tambah dengan lokasi ruangan ini yang berada di dalam tanah, membuat orang lain tak akan sadar tentang keberadaan mereka.
Farel mengambil laptop nya dan menancapkan flashdisk nya. Ada beberapa folder yang tersimpan di sana. Dengan cepat mereka membuka salah satu nya.
Benar saja, data di dalam nya adalah salinan dari semua percobaan yang sudah Avren lakukan. Bahkan semua data tentang Revan pun ada di sana.
"Baguslah... Dengan ini kita bisa dengan puas membalas dendam atas kematian Saki." Ujar nya. Namun, mereka tidak menyadari jika sebenarnya sedaritadi ada yang sedang mendengarkan percakapan mereka.
Revan mengepalkan tangan nya kuat menahan emosi. Jadi data yang di dapatkan Naru itu memanglah data tentang percobaan yang di lakukan pada nya saat di Dark Devil dulu. Jika begini, kelemahan dan cara mengendalikan nya pun akan terbongkar.
Tidak... Tidak lagi. Revan tidak ingin menjadi senjata lagi...
"Keterlaluan... Mereka benar benar mau memanfaatkan hasil percobaan itu!" Marah Erano.
"Kita harus menghentikan nya!" Seru Eden akhirnya.
BRAK!!
Pintu di dobrak yang seketika mengejutkan semua orang yang ada di dalam.
"Hoi! Jangan harap kalian bisa menggunakan data itu untuk mengendalikan kami!" Seru Erano setelah mendobrak paksa pintu itu, bahkan sampai terlepas dari engsel nya.
Terlihat jelas ekspresi kesal dalam wajah mereka.
__ADS_1
Mereka sudah lelah terus dikendalikan. Mereka sudah lelah terus di jadikan sebagai alat. Dan sekarang, tentu mereka taka kan membiarkan itu terjadi lagi.