
Matahari bersinar terik, padahal waktu masih menunjukkan pukul 07.30. Seorang pemuda bermanik blue sky menghentikan lari nya di sebuah gang sempit di dekat pertokoan. Ia menyeka keringat yang mengalir di dagu nya. Ia harus cepat menyelesaikan urusan nya sebelum Raile menyadari tentang itu.
Bagaimana dengan sekolah? Tenang saja, sebelumnya Riz sudah izin jika ia tak masuk hari ini. Beruntung wali kelasnya adalah anggota Shadow Agen, tentu ini memudahkan nya untuk keluar sekolah saat ada misi atau urusan seperti ini.
"Gila... Masih pagi dah panas banget kek gini..." Keluh nya.
Riz memandang sekitar nya. "Kayaknya ada cafe dekat sini deh... " Gumam nya dan berjalan keluar. Benar saja, ada sebuah cafe tak jauh dari lokasi nya.
Riz melangkahkan kakinya menuju cafe itu. Cafe yang sebenarnya sering dijadikan tempat nongkrong oleh para kriminal di Delaria City. Namun itu bukan masalah bagi nya.
Tanpa buang waktu, Riz langsung memesan milkshake dan duduk di sebuah meja di pojok ruangan, mengabaikan tatapan tajam beberapa orang di sana yang ia yakini adalah anggota mafia.
Riz menghela nafasnya. Mengalihkan pandangan nya dari orang orang yang memberikan tatapan aneh ke arah nya.
"Menyebalkan." Gumam nya pelan.
"Permisi, boleh aku duduk di sini?"
Riz menoleh. Rupanya masih ada yang memiliki sopan santun di sini.
"Tentu." Jawab nya singkat.
Seorang pria ber iris mata silver kini duduk di hadapan nya. Dari paras nya, Riz dapat menyimpulkan jika itu adalah orang Jepang.
"Sepertinya kau baru di Delaria City." Riz membuka pembicaraan.
"Ah, ya. Aku datang ke sini karena pekerjaan." Jawab nya. Sebagai orang Jepang yang baru datang ke kota ini, bahasa nya cukup lancar juga.
"Pekerjaan apa?"
Pria itu sedikit tersenyum. "Maaf, aku tidak bisa memberitahu mu."
Riz tertawa kecil. "Tak masalah. Maaf aku bertanya begitu saja."
"Tidak masalah. Ngomong ngomong, apa kau tidak bersekolah?" Tanya pria itu. Mengingat Riz masih mengenakan seragam sekolah sekarang.
Ah ya, seharusnya ia ganti baju dulu tadi. Ini terlalu mencolok untuk pengintaian nya.
__ADS_1
"Aku... Ada sedikit urusan di luar sekolah."
Sungguh alasan yang konyol!
Pria itu hanya mengangguk anggukkan kepala nya. Anak muda jaman sekarang tentu punya ribuan alasan untuk membolos. Setidaknya itu yang ia pikirkan.
Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Pria itu tampak meminum minuman nya, lalu kembali memandang pemuda di hadapan nya.
"Kau sudah lama ada di Delaria City, kau pasti tau tentang Dark Devil kan?"
Riz sedikit tersentak. Sebenarnya bukan hal aneh jika orang luar mengetahui tentang Dark Devil. Delaria city sendiri terkenal akan tingkat kriminal terbesar di dunia. Jadi sudah sewajarnya banyak orang yang tau. Tapi walau begitu, bukan berarti tidak ada turis yang akan datang ke kota ini.
Walau terkenal akan sisi gelap nya, tapi sebenarnya Delaria city merupakan kota yang indah dengan berbagai tempat wisata yang menarik perhatian pengunjung.
Riz mengangguk mendengar pertanyaan itu. "Tentu. Kudengar Dark Devil itu organisasi mafia terbesar di Delaria city." Ucap Riz. Ia menjeda ucapan nya dan meneguk milkshake nya. Memandang sekitar dimana orang orang masih menatap nya dengan tatapan aneh.
Wah... Dirinya jadi pusat perhatian sekarang...
Riz mengecilkan suara nya dan melanjutkan kata kata nya yang sempat terjeda tadi. "Walau ada fakta lain yang lebih kejam di balik nya."
Pria itu mengangkat sebelah alis nya. "Apa?"
Pria itu tersentak. Ekspresi wajah nya seketika berubah. Tangan nya menyentuh dagu memasang pose berfikir. "Apa salah satunya anak ber iris mata merah ruby yang tubuh nya mengalirkan listrik?"
Hampir saja Riz menyemburkan minuman nya. Mata nya membulat menatap lekat iris silver pria itu. Iya yakin yang pria itu maksud adalah Revan. "Iya! Darimana kau tau itu?"
Pria itu mendekatkan kepala nya ke telinga Riz. "Karena aku pernah bertemu dengan nya di rumah sakit. Sebenarnya aku anggota Dark Devil. Tapi untuk saat ini, aku tidak tau apa yang harus ku lakukan. "
Pria itu memijat pelipis nya. Sudah dapat dilihat jelas dari ekspresi dan reaksi nya, pria itu sudah mengalami suatu hal yang membuat dirinya menyesal telah bergabung dengan organisasi mafia itu.
Tapi tunggu, apa mungkin pria di hadapan nya ini adalah pembunuh bayaran yang Avren minta untuk membawa Revan kembali ke Dark Devil?
Sungguh kebetulan sekali.
Riz terkekeh. Ia menghela nafas dan meminum minuman nya lagi. Lalu menyandarkan punggung nya pada senderan kursi.
'Sepertinya pria ini bisa di ajak kerjasama.' batin Riz.
__ADS_1
"Hey, mau kerjasama dengan ku? Aku anggota Shadow Agen. Organisasi agensi dan pelindung Delaria City dari para kriminal dan mafia. Kau ragu kan? Jangan sampai terjebak semakin jauh dalam kegelapan."
Pria itu menatap lekat manik biru langit di hadapan nya. Dari tatapan nya terlihat cukup meyakinkan.
Pria itu masih terdiam. Sepertinya ia sedikit ragu untuk memilih sekarang. Melihat diam nya pria itu, Riz sedikit tersenyum kikuk. Apa dirinya bersikap terlalu akrab? Semoga ia tak membuat pria di hadapan nya merasa tak nyaman.
"Baiklah, aku Terima tawaran mu. Lagipula aku tidak ingin ada orang lain yang bernasib sama seperti adik ku." Ucap pria itu sambil tersenyum.
Riz tersenyum puas dengan itu. Dengan begini, akan ada yang membantu nya untuk lebih cepat menyelesaikan rencana nya. Terlebih lagi Sekutu yang ia dapat kali ini anggota Dark Devil itu sendiri. Sungguh menguntungkan.
Walau begitu, ia tetap tak bisa menurunkan kewaspadaan. Jangan sampai orang itu justru menyerangnya balik atau memanfaatkan dirinya. Bagaimanapun Riz tetap barus berhati hati dengan anggota Dark Devil.
"Ngomong ngomong, aku Himaki. Siapa nama mu?"
Riz tersadar dari lamunan nya.
Ah, ia. Mereka sudah berbicara panjang lebar, tapi belum sempat berkenalan. Sungguh konyol.
"Aku Riz. Senang berkenalan dengan mu."
Himaki hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia kembali meminum minuman nya dan memandang ke sekitar. Memang benar seperti apa yang di katakan. Kebanyakan orang yang datang ke cafe ini adalah anggota mafia atau kriminal lain nya.
"Jadi, bagaikan jika kita mulai saja rencana nya sekarang?"
"Sepertinya jangan bicarakan itu di sini. Aku khawatir ada anggota Dark Devil di sini yang mungkin saja akan melaporkan nya pada ketua karena memergoki ku dengan musuh nya."
Riz tertawa. "Ada benarnya juga. Aku tau tempat yang aman, ayo ikut dengan ku."
Mereka langsung menuju ke kasir dan membayar minuman mereka, lalu beranjak pergi menuju tempat yang Riz tentukan. Setidaknya tempat itu lebih terjamin keamanan nya.
Himaki masih terdiam. Ia hanya mengikuti langkah pemuda di depan nya. Bayang bayang mengenai kematian adiknya dan apa yang Revan dan Ice katakan saat itu masih tercetak di dalam pikiran nya.
'Apa memang ini yang terbaik?' batin Himaki.
Sementara, Riz sedikit melirik pria di belakang nya. Ia tak menyangka akan bertemu dan bekerjasama dengan anggota Dark Devil seperti ini. Dari tatapan dan ekspresi wajah nya, sepertinya dia memang bisa di percaya.
Terkadang hal yang tak terduga bisa terjadi kapanpun. Dan inilah salah satu nya.
__ADS_1
Seulas senyum terbentuk, ada harapan besar dalam hati nya. ' semoga dengan bantuan nya, masalah ini akan cepat berakhir. '
TBC