Shadow Agen

Shadow Agen
Pertemuan dengan Erano


__ADS_3

Matahari mulai naik seiring waktu semakin siang. Seorang pemuda ber iris ruby berjalan di trotoar sambil mengamati jalan sekitar nya. Mata nya tertuju pada sebuah rumah makan kecil di dekat sebuah gang.


"Sepertinya itu tempatnya ya..." Gumam Revan sambil melangkahkan kaki nya ke sana. Namun, sebelum memasuki tempat itu, seorang wanita keluar sambil membawa plastik sampah. Sepertinya dia ingin membuang sampah.


Ya, ini jadi kesempatan untuk Revan bertanya. "Permisi, apa saya boleh bertanya beberapa hal?"


Wanita itu sedikit memperhatikan, lalu mengangguk. "Tentu. Mau tanya apa dik?"


"Semalam, apa ada dua orang pemuda yang ke sini? Salah satu nya ber rambut silver?" Tanya Revan.


Wanita itu tampak mengingat ingat. "Iya. Mereka sama sama membeli nasi padang semalam. Kenapa?"


"Tentang laki laki ber rambut silver itu, apa anda tau dia pergi ke mana atau mungkin rumah nya? Kebetulan saya teman sekolah nya ingin mengerjakan tugas bersama, tapi tidak tau di mana rumah nya." Bohong Revan.


"Oh, Erano? Sepertinya tidak jauh dari perempatan di depan sana masuk ke sebuah gang kecil di kiri jalan. Mungkin di daerah sana. Soalnya dia cukup sering membeli makanan di sini, jadi saya tau sedikit tentang nya." Jelas wanita itu.


Jadi nama nya Erano... Informasi yang cukup bagus. "Baiklah terimakasih bu, sudah memberitahu." Ujar Revan sambil tersenyum.


Wanita itu mengangguk. "Sama sama"


Walau tidak tahu di mana tepatnya rumah Erano, setidaknya Revan mendapatkan informasi yang bagus. Ini akan mempermudah tugas nya. Tanpa buang waktu, Revan langsung menuju tempat yang wanita itu tunjukkan tadi. Ia berharap bisa bertemu dengan Erano dan menyelesaikan kasus ini. Selain itu... Juga mengungkap kenapa Erano sampai mencari tahu tentang dirinya.


'Seharusnya tidak jauh lagi bukan?' pikir Revan.


"Kau mencari ku?"


Seketika Revan menoleh dan di belakangnya sudah ada Erano yang tersenyum. Sejak kapan pemuda itu ada di sana?


"Sejak kapan kau-"

__ADS_1


"[Penghentian]"


Bzztt


"Akh!" Percikan listrik muncul di sekitar kepala Revan seakan menjadi pelindung untuk melindungi dirinya dari serangan Erano.


Erano yang melihat itu sedikit terkejut namun kemudian seringaian muncul di bibir nya. "Rupanya benar, kemampuan ku tak mempan pada mu. Listrik mu memblokir gelombang suara ku." Ujar nya sambil berjalan mendekati Revan.


Revan sempat berfikir, apa dia bisa mengendalikan pikiran? Tapi di sisi lain ia beruntung kemampuan nya mengendalikan aliran listrik bisa memblokir serangan Erano sehingga dia tak terpengaruh dengan kemampuan pemuda ber rambut perak itu.


"Siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa punya kemampuan itu?" Tanya Revan langsung pada intinya.


Erano sedikit menghela nafas. "Ternyata kau sama seperti dulu. Selalu to the point kalo ngomong." Ucap Erano. Sejak dulu Revan memang selalu berbicara langsung ke inti. Ternyata kebiasaan itu tak berubah bahkan setelah mereka lama tak bertemu.


Revan menaikkan sebelah alis nya. "Sama seperti dulu?"


"Kau... Tak ingat ya?" Seringaian Erano sedikit meluntur. "Tapi baguslah kau baik baik saja sekarang. Tapi aku jadi penasaran bagaimana kemampuan mu sekarang."


Secara tiba tiba Erano mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku celana nya dan bergerak menerjang Revan. Beruntung refleks Revan cukup cepat dan ia langsung menghindar saat itu juga, walau sisi tajam pisau itu sempat menggores sedikit pipi nya. Perih rasa nya, tapi ia tak memikirkan itu sekarang.


Apa sebenarnya yang Erano mau? Kenapa tiba tiba dia menyerang nya? Dan pertanyaan yang Erano tanyakan tadi seakan mereka sudah berteman lama atau cukup akrab, tapi kenapa Revan tak bisa mengingat nya sama sekali?


"Hyaatt!" Revan menghindar dan memberikan tendangan sebagai serangan balik, namun sayangnya bisa di tahan oleh Erano.


Erano memutar pisau nya dan kembali menyerang Revan. Dengan cepat Revan kembali menghindar dan meluncurkan pukulan pada Erano.


"[Penghentian]"


"Akh!"

__ADS_1


Lagi lagi Erano menggunakan kemampuan nya. Walau tak bisa mempengaruhi Revan, tapi gelombang suara yang di hasilkan berbenturan dengan listrik milik Revan membuat dampak yang cukup menyakitkan bagi Revan.


Kesempatan itu tak di sia siakan oleh Erano yang langsung menendang perut Revan dengan kuat.


BRUK!


Revan terdorong dan menabrak dinding di belakang nya, membuat keseimbangan nya hilang dan seketika terjatuh.


"Uhuk uhuk..." Rasa sakit di perut nya menjalar, membuat nya merasa sedikit mual.


Erano berjalan mendekati Revan yang masih terduduk di tanah dan mencoba kembali bangkit. "Rupanya kau pantang menyerah juga ya...." Ujar nya sambil terus mendekat. Pisau di tangan nya ia main mainkan dengan lincah, seolah sudah terbiasa bermain dengan benda tajam itu.


"Tak ada guna nya melawan lagi Rev..." Langkah nya semakin dekat dari Revan, Erano terus melangkah, memangkas jarak di antara mereka.


Revan mencoba untuk bangkit, namun secara tiba tiba rasa sakit di kepala nya kembali muncul membuat cukup kesulitan.


Tangan Revan refleks memegang kepala nya, sedikit meremas rambut nya berharap dapat mengurangi rasa sakit. Walau luka di kepala nya sudah sembuh, tapi tentu tak seharusnya ia melakukan aktivasi yang terlalu berat dulu, apalagi sampai berantem seperti itu.


Revan merutuki dirinya sendiri. Kenapa rasa sakit itu harus muncul sekarang? Ditambah, Erano kini sudah ada di depan nya. Namun seketika dia berjongkok dan mengulurkan tangan nya, sedikit mengusap kepala Revan.


Tentu tindakan itu membuat Revan sedikit terkejut.


"Sakit? Maaf aku sedikit berlebihan. Aku tak bermaksud membuat mu kesakitan begitu. Niatku tadi hanya mengetes, apa kemampuan mu meningkat sejak terakhir kali kita bertemu atau tidak." Ujar Erano penuh penyesalan.


Revan berdecak kesal. Mengetes sampai seperti itu apa wajar?


"Mengetes... Sejak tadi kau bersikap seolah kita sudah lama kenal. Sebenarnya kau siapa?" Tanya Revan akhirnya, menuntut penjelasan.


"Ku beritahu semuanya nanti. Sekarang lebih baik kita ke rumah ku dulu. Akan buruk bagimu jika itu di biarkan bukan?"

__ADS_1


Revan mengangguk pasrah. Setidaknya ia berharap semua pertanyaan nya akan di jawab setelah ini.


__ADS_2