
Di sebuah taman di Delaria City, tempat yang cukup indah dengan berbagai macam bunga dan beberapa gazebo. Pohon rindang berjajar di tepi jalan yang di hiasi rerumputan hijau. Terdapat beberapa kedai makanan dan minuman di sana untuk mengisi perut para pengunjung yang datang, atau sekedar untuk bersantai.
Di tempat yang sama, dua orang lelaki berbeda usia duduk berhadapan di sebuah kedai coklat yang cukup terkenal di sana. Gaya kedai itu masih cukup klasik dengan kursi dan meja kayu yang di ukir sedemikian rupa, menarik para pengunjung yang suka dengan gaya klasik.
Seorang kakek berusia 70 tahun terlihat cukup sibuk meracik minuman coklat pesanan para pembeli yang mampir ke kedai nya. Walau tidak terlalu banyak pengunjung yang datang, tapi di hari libur, tempat ini selalu ramai. Katanya sih karena minuman nya enak.
Riz telah menceritakan semua yang ia tau pada Himaki, membuat pria itu terdiam tak percaya dengan apa yang pemuda bermanik biru langit di hadapan nya katakan. Otak nya masih mencoba memproses semua informasi yang ia dapatkan saat ini.
Tangan pria itu mengepal kuat bahkan membuat buku buku di tangan nya terlihat jelas.
Tujuan nya menjadi pembunuh bayaran adalah untuk membunuh orang orang seperti mereka yang hanya bisa memanfaatkan orang lain untuk kepentingan pribadi nya. Selama ini ia hanya menerima pekerjaan membunuh kriminal atau semacamnya. Tapi sekarang justru ia salah langkah dengan bergabung dengan organisasi mafia yang melakukan percobaan gila pada manusia.
Sekarang ia mengerti apa yang Ice dan Revan maksud kala itu. Ya, memang benar. Dirinya telah terlalu dalam masuk dalam kegelapan. Ia harus keluar sebelum hal yang lebih buruk terjadi.
Tapi justru alam mencurigakan jika ia tiba tiba keluar. Dan lagi yang menunggu nya kali ini adalah ketua mafia terbesar di Delaria City. Menyingkirkan nya akan sama mudahnya seperti membersihkan debu yang menempel di meja.
"Tapi dengan kau yang menjadi anggota Dark Devil, itu memudahkan kami untuk menghancurkan rencana mereka." Riz menjeda ucapan nya. Ia memperhatikan Himaki yang bahkan tidak bergerak dari posisi nya. "Aku membutuhkan bantuan orang dalam untuk mencari informasi. Status mu sebagai anggota akan menguntungkan bukan?"
Himaki masih terdiam. Walau begitu Riz tau jelas pria itu mendengarkan. Keheningan menyelimuti setelah kalimat terakhir yang Riz ucapkan. Himaki masih setia dengan diam nya dan Riz sendiri asik menikmati minuman coklat pesanan nya sambil bermain game di handphone nya.
Helaan nafas terdengar dari si pemilik manik silver itu. Entah sudah berapa kali ia menghela nafas hari ini. Ia benar-benar mengambil keputusan yang salah untuk bergabung.
Himaki memandang Riz yang masih asik dengan dunia nya sendiri. "Aku mau saja, tapi kita mulai dari mana?"
Senyuman terbentuk di bibir pemuda itu. "Manipulasi data. Kita curi dan manipulasi data mereka."
__ADS_1
"Kurasa bisa ku lakukan."
"Sementara aku akan mencari informasi dari luar."
Himaki mengangguk. Tapi, ada satu pertanyaan yang masih terpikir di kepala nya.
"Ngomong ngomong kau tau kemana pemuda bermata merah itu pergi?"
Riz mengangkat sebelah bahu nya. "Tidak tahu. Kupikir di markas Dark Devil."
"Tidak. Jika ada aku tak akan bertanya pada mu."
Benar juga. Ia juga tidak melihat Revan di Shadow agen. Lalu, kemana anak itu pergi?
Keduanya terdiam dalam pikiran masing masing, tanpa menyadari ada seorang pemuda yang mendengarkan pembicaraan mereka sejak tadi. Ia mengenakan jaket hoodie berwarna hitam, dan masker yang menutupi hidung dan mulut nya.
*****
Helaan nafas kasar di berikan oleh pemuda bermanik gold yang kala itu sedang berada di kelas. Mata nya memandang ke luar jendela kelas, mengabaikan keributan yang terjadi di kelas nya.
Dirinya kesal. Dalam pikiran nya, lagi lagi Riz membolos. Ada apa dengan anak itu sebenarnya? Apa dia benar-benar sudah bosan sekolah?
Raile mengelamkan wajah nya di balik lipatan tangan nya. Mencoba menghilangkan pusing yang menjalar di kepala nya. Ingatan tentang mimpi semalam masih terus berputar dalam kepala nya.
Itu bukan mimpi biasa. Jika memang hanya mimpi, lalu bagaimana bunga mawar itu ada di sana? Tapi.. Siapa anak laki laki yang bersama nya kala itu? Diri nya merasa familiar dengan anak itu. Tapi walau mencoba mengingatnya, bukannya ingatan yang di dapat, tapi justru rasa sakit yang muncul di kepala nya. itu membuatnya kesal. Ada apa dengan dirinya?
__ADS_1
"Hai Raile, kau baik baik saja?"
Raile mengangkat kepala nya saat mendengar suara seseorang yang cukup familiar baginya. Di hadapan nya, seorang pemuda seusia nya dengan iris mata berwarna hijau zamrud menatap dengan mata besar nya, membuat pemuda itu terlihat menggemaskan.
"Aku baik baik saja Thory, aku hanya sedikit pusing saja." Jawab Raile yang kini menyandarkan kepala nya di atas meja.
Thori berjalan dan kini duduk di bangku yang berada di depan meja Raile. "Mau ku antar ke UKS?"
Raile hanya menggeleng sebagai jawaban.
Sungguh, ia baik baik saja sekarang. Walau kelihatan nya tidak seperti itu sih...
Thory sedikit bersenandung sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding yang ada di belakang nya. "Hey, kau tau, terkadang ada loh... Hal yang tak terduga bisa terjadi." Thory menjeda ucapan nya dan memandang teman nya itu yang masih terdiam. Ia kemudian melanjutkan kata kata nya. "Misalnya merasa kehilangan padahal orang yang kau cari ada di dekat mu selama ini."
Raile mengangkat kepala nya memandang pemuda itu. Mencoba sedikit mencari jawaban dari kata kata nya barusan. " Maksudmu?"
Thory tersenyum dan bangkit dari duduknya. Berjalan ke belakang Raile kemudian berbalik. "Coba pikirkan. Bukan nya itu yang kau rasakan Raile? Aku sudah lama mengamati mu. Ada bagian kosong dalam hidup mu yang harusnya terisi sesuatu bukan?"
Raile terdiam. Apa yang Thory katakan ada benarnya. Tapi apa yang hilang dari hidup nya? Apa arti kekosongan itu?
"Aku tau, tapi aku sendiri tidak tau apa itu."
"Mungkin sesuatu atau seseorang yang hilang dari ingatan mu." Ucap Thory santai membuat Raile cukup tersentak. Ia menoleh ke belakang, tapi pemuda bermanik zamrud itu sudah terlebih dulu pergi.
Ada benarnya ucapan teman nya itu. Sejak awal ia juga merasa seperti terikat dengan seseorang. Tapi yang menjadi pertanyaan nya, siapa?
__ADS_1
"Ah! Sebenarnya apa sih yang ku lupain?! " Teriak Raile tak peduli dengan teman teman sekelas nya yang menatap heran pada nya. Dirinya kesal. Kepala nya mulai berdenyut sakit. Apa yang sebenarnya ia lupakan?
TBC