Shadow Agen

Shadow Agen
Pengintaian


__ADS_3

Sein sudah membawa ketiga orang itu ke markas Shadow Agen untuk di interogasi lebih lanjut. Revan pun sudah di bawa ke rumah sakit untuk di periksa jika saja ada luka serius atau hal lain yang bisa membahayakan kesehatan nya.


Sein awalnya menolak membawa pemuda ber manik ruby itu ke rumah sakit karena khawatir akan membongkar identitas Revan, atau bisa saja mengambil resiko ketahuan anggota Dark Devil. Tapi setelah membicarakan masalah ini dengan agen Raka jika dokter yang merawat Revan juga anggota agen, Sein pun setuju.


Walau begitu, dalam hati nya masih tersimpan kekhawatiran akan kondisi dan keselamatan anak itu. Ia tau derita yang pemuda itu telah alami selama ini. Tujuan nya membantu Revan selain karena tugas nya, sebenarnya juga karena perasaan kasihan dan ingin membantu anak itu.


Setidaknya bisa mengurangi derita dalam dirinya dengan membuat nya bisa bersama saudara kandung nya walau dalam mode penyamaran.


*****


Seorang pemuda ber manik gold terlihat sedang bersiap untuk pergi sekolah. Tangan nya sibuk memasang dasi di kerah seragam nya, lalu bergerak mengambil sisir dan menyisir rambut nya agar terlihat rapi.


"Yosh selesai." Gumam nya saat melihat pantulan dirinya di cermin. Terlihat rapi.


Setelahnya pemuda itu mengambil tas yang ia taruh di kursi meja belajarnya dan berjalan keluar kamar. Namun pandangan nya terarah pada kamar dengan pintu bercatkan biru putih.


Pemuda itu menghela nafas kesal dengan pemilik kamar itu. Dirinya sudah siap dan rapi, tapi justru saudara nya yang satu itu masih ada di alam mimpi.


Ia melangkah mendekati kamar itu, berniat membangunkan sepupu nya dari alam mimpi agar tidak terlambat sekolah nanti. Akan repot jika Riz dihukum karena terlambat bukan?


Tok tok tok


"Riz bangun! Nanti kau terlambat ke sekolah!!"


Tidak ada jawaban. Hanya sunyi yang menyelimuti. Lagi lagi Raile menghela nafas. Dirinya mencoba untuk menahan emosi.


"Riz!!"


"Lima menit lagi..." Sahut suara dari dalam. Jelas sekali anak itu masih nyaman dengan dunia mimpi nya. Sungguh sulit membangunkan Riz.


"Riz bangun atau ka-"


TENG TENG TENG TENG TENG!!!


"KEBAKARAN KEBAKARAN!!!! API!! BANGUN KAK! ADA KEBAKARAN!!" Fio berseru sambil memukul mukul panci menggunakan sendok dengan kerasnya sampai sampai Raile yang ada di samping nya langsung menutup telinga nya dengan kuat.


Sungguh, Raile sendiri hampir dibuat jantungan karena ulah adik nya itu yang main pukul panci seenaknya.


Raile mengusap dada nya setelah anak itu menghentikan pukulan sendok pada panci yang ia pegang. "Hampir copot jantung ku, Fio..."


Lelaki kecil di hadapan nya hanya tersenyum polos sambil menggaruk garuk belakang kepala nya. "Kalo cuma bangunin pake cara biasa gak bakal mempan kak."

__ADS_1


Memang benar apa yang Fio katakan. Sepertinya ia harus menggunakan cara seperti ini juga untuk membangunkan Riz tiap pagi nya.


Bruk!!


Ceklek


Suara gaduh sempat terdengar dari dalam kamar sebelum akhirnya pintu terbuka dan menampakkan seorang pemuda ber manik biru yang hanya mengenakan kaos pendek berwarna biru dan celana pendek abu abu. "Mana kebakaran nya? Cepat ambil air!!" Tanya Riz yang tampak panik.


Raile menepuk dahi, sementara Fio justru tertawa terbahak bahak melihat aksi jahilnya sukses besar. Apalagi ekspresi panik Riz seperti itu benar-benar lucu!


Riz yang menyadari dirinya di kerjai menatap datar. Dirinya terkekeh dan perempatan imajiner muncul di pelipis nya. Sungguh menyebalkan pagi nya justru disambut dengan aksi kejahilan saudara kecil nya itu.


"Kebakaran ya.... Kau tau apa yang terbakar sekarang hah?" Riz tampak mendekati Fio dan tersenyum kejam membuat Fio bergerak mundur.


"Ehehe kayaknya kepala kak Riz yang terbakar sekarang" Fio melangkah mundur begitu Riz mendekat. Segera saja ia mengambil ancang ancang langkah seribu dan lari secepat mungkin menghindari Riz yang juga mengejar nya.


"Eh Riz! Tapi nanti te... lat..." Terlambat, Riz sudah menghilang dari hadapan nya.


*****


Langit cerah di pagi hari dua pemuda tampak berjalan di tepi jalan. Salah satunya berjalan santai sambil asik bermain handphone dan satunya lagi bersenandung sambil sedikit melompat lompat kecil saat berjalan. Sungguh perbedaan yang sangat jelas dari kedua pemuda itu.


Raile memasang pose berfikir. "Entahlah. Aku khawatir saja." Jawab Raile yang masih tidak mengalihkan pandangan nya dari handphone yang di pegang nya.


Riz terdiam. Ia ingin kembali bertanya saat secara tidak sengaja mereka berpapasan dengan seorang pria yang sedang menelepon. Wajahnya tampak serius tapi dari nada suara nya mengisyaratkan kepatuhan pada orang di sebrang sana.


Riz diam diam mencoba mendengarkan pembicaraan itu. Ekspresi nya yang ceria membuatnya terlihat seakan tak mempedulikan apa yang ada di sekitar nya.


"Siap tuan, saya akan meminta mereka datang. Salah satu dari mereka akan mengawasi Revan. Dua lainnya bisa ikut serta dalam rencana tuan berikutnya."


Tunggu, Riz tidak salah dengar kan? Apa orang itu baru menyebut nama Revan tadi? Tapi mengawasi Revan? Apa maksudnya dengan itu?


Riz menghentikan langkah nya membuat Raile menoleh seketika.


"Ada apa?" Tanya Raile.


Riz hanya tersenyum lalu menunjuk sebuah toko di sebelahnya. "Aku mau beli camilan dulu sebentar. Kau duluan saja, nanti aku menyusul."


"Kau yakin? Aku bisa menunggu."


Riz menggeleng. "Tidak. Duluan saja. Nanti kau terlambat loh..."

__ADS_1


Raile akhirnya mengangguk setuju. "Baiklah. Jangan kelamaan nanti telat."


Riz mengangguk cepat lalu melangkah kan kaki nya menuju sebuah toko yang tepat ada di sampingnya. Namun, pandangan nya tetap tertuju pada Raile sampai akhirnya saudara nya itu berbelok di persimpangan.


Riz menghela nafas lega. Dalam hati ia menyesal dan bersalah telah berbohong pada saudara nya itu. Tapi di sisi lain rasa penasaran juga menguasai nya. Dirinya ingin tau apa yang orang itu bicarakan tadi. Apa Revan yang orang itu maksud adalah orang yang sama dengan orang yang ia pikirkan?


Kaki nya melangkah perlahan mengikuti orang yang kini berada cukup jauh dari nya. Ia mencoba mempercepat langkahnya untuk kembali dapat mendengar apa yang orang itu bicarakan.


"Tenang saja tuan. Orang yang ku minta kali ini dapat di percaya. Selain itu, mereka juga sudah di latih khusus dan kemampuan nya cukup hebat. Anda pasti tidak akan kecewa."


Riz mengerenyitkan dahi. Dirinya terus mengikuti orang itu sampai tak menyadari jika itu membawa nya memasuki sebuah gang sempit. Rasa penasaran nya semakin besar. Ia tau jika terus mengikuti orang itu bahkan sampai ke tempat seperti ini akan membawa nya dalam bahaya. Tapi rasa penasaran telah mengalahkan semua itu yang terus menuntun nya untuk terus mengikuti orang itu.


"Akan ku pastikan Revan aman. Walau dia bergabung dengan Shadow Agen, tapi tidak ada dari mereka yang mengetahui kemampuan khusus yang Revan miliki. Anda bisa terus melanjutkan percobaan nya setelah membawa Revan kembali dari rumah sakit."


Langkah Riz terhenti. Ia bersembunyi di balik dinding rumah warga, terus menguping pembicaraan itu.


"Jadi memang dia.. Tapi sebentar, di rumah sakit?"


Mata Riz membulat sempurna. Otaknya masih memproses informasi yang dia dapatkan. Ini terlalu mendadak. Jadi orang yang orang itu bicarakan memang Revan yang ia kenal? Tapi, bergabung dengan Shadow agen? Dari situasi yang orang itu bicarakan sama persis dengan kondisi Ren sekarang. Tapi apa mungkin?


"Hey nak? Apa kau tersesat? "


Tubuh Riz membeku seketika saat merasakan seseorang menyentuh pundak nya bersamaan dengan pertanyaan yang orang itu lontarkan. Butuh beberapa saat bagi Riz untuk dapat kembali dari keterkejutan nya dan berbalik memandang orang berwajah mengerikan di hadapan nya. Seperti preman!


Gawat. Riz benar benar terjebak dalam bahaya sekarang.


"A-ahaha tidak. Aku hanya salah ambil jalan." Ucap Riz sambil tertawa garing.


Pria di hadapan nya tersenyum. "Jika begitu mau ku antar?"


BRUK!


Namun detik berikutnya dari belakang Riz, ada seseorang yang memukul kepala nya, membuat Riz langsung terjatuh. Pandangan nya mengabur, namun masih bisa mendengar apa yang ada di sekitar nya.


"Bagaimana bisa kau membiarkan tikus ini mengikuti mu?"


"Sudahlah. Bawa saja kedalam. Mungkin kita bisa memanfaatkan nya nanti."


Itulah hal terakhir yang Riz dengar, sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadaran nya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2