
Alarm berbunyi di tengah malam yang gelap. Beberapa orang terlihat berlari keluar dari bank dengan barang rampokan mereka.
Orang orang itu terlihat berlari memasuki gang sempit di samping pertokoan. Mereka tertawa puas karena merasa tak ada yang bisa menangkap mereka. Namun sayangnya, dugaan mereka salah.
"Wah wah wah... Lihat siapa yang ada di sini... Para perampok kecil yang niat ditangkap ya?" Seorang pemuda mengenakan jaket biru berdiri di atas atap dan melompat turun tepat di hadapan para perampok itu.
"Ck! Sialan ayo lari!!" Seru sang ketua perampok dan berbalik. Namun sayangnya, seorang pemuda ber iris gold berisi di belakang mereka dan sudah menodongkan pistol nya.
Mereka benar benar terkepung sekarang. Namun...
"Hahahahaha!!! HAAHAHAHAHA!!!!" Tawa ketua perampok itu. Kedua pemuda itu, Raile dan Riz menatap heran. Apa yang lucu?
Namun, tak lama kemudian, ada 10 orang yang muncul di belakang mereka. Oh, jadi ini rencana mereka?
"Dasar pengecut! Taunya main keroyok!" Ucap Riz kesal.
"Haha... Itu salah kalian sendiri. Anak kecil seperti kalian tak pantas bermain malam malam. Rasakan akibatnya. Kalian, serang kedua bocah itu!!!"
Dan para perampok itu pun langsung menyerang Raile dan Riz. Sungguh tidak adil. Selain itu, terlihat beberapa orang berdatangan dan ikut menyerang. Sekarang, ada sekitar 20 orang di sana.
20 lawan 2 apalah itu hal yang wajar?
Raile terlihat begitu sibuk meluncurkan pukulan, tendangan dan tembakan. Namun, sepertinya kemampuan para perampok itu bisa dibilang cukup bagus juga dan membuat mereka sedikit kesulitan. Ditambah lagi jumlah mereka yang jelas semakin mempersulit.
Riz sendiri juga terlihat sibuk dengan bagian nya. Mereka cukup kewalahan menghadapi para perampok itu. Sampai...
Bruk!
"Akh!"
"Raile!!" Seru Riz saat Raile terlempar akibat tendangan dari salah satu perampok. Namun, hanya berselang beberapa saat setelah itu...
Duk!
"Aauu!!!" Riz terjatuh saat seseorang memukul kepala nya dari belakang. Pandangannya sedikit memudar akibat rasa sakit di kepalanya.
'Sial, jika terus begini, kami akan kalah...' batin Raile. Namun...
Bzzztt!!
Terdengar suara sambaran listrik dan beberapa orang langsung terjatuh dan tak sadarkan diri. Raile dan Riz terkejut dengan itu.
Siapa yang melakukan itu? Dari mana?
Mereka melihat ke sekeliling. Namun tak ada siapapun. Mendadak Raile terdiam. Ada sesuatu yang aneh... Dan kenapa rasanya tak asing?
"RAILE AWAS!!" Teriak Riz.
Raile menoleh dan membeku seketika saat seseorang berdiri di hadapannya dan pistol sudah menyentuh dahinya.
"Selamat tinggal... "
__ADS_1
DOR!!
"RAILE!!" Riz berteriak panik. Jaraknya cukup jauh dari Raile dan ia tak bisa menyelamatkan nya tepat waktu. Ditambah dengan para perampok yang juga menyerangnya membuat Riz sedikit kesulitan melihat kondisi Raile.
Namun...
Raile memejamkan mata nya erat. Namun, ia merasa ada yang aneh. Jelas jelas ia mendengar suara tembakan, tapi kenapa ia tak merasakan rasa sakit sedikitpun?
Brug!
Mendengar suara sesuatu yang terjatuh, Raile membuka mata nya dan terkejut dengan orang tadi yang jatuh di hadapannya dengan darah yang mengalir dari bahu nya. Tidak sampai membunuh orang itu, namun karena terkejut, pria itu sampai kehilangan kesadaran nya.
"Kau baik baik saja?" Tanya seorang pemuda di hadapannya sambil mengulurkan tangan. Awalnya Raile tampak ragu untuk menggapai tangan pemuda itu. "Tenang saja, aku di pihak mu."
Mendengar itu, Raile pun langsung menggapai tangannya. "Terimakasih"
"Sama sama" Ucap pemuda itu sambil mengangguk. Ia mengenakan jaket berwarna hitam merah dengan hoodie yang menutupi kepalanya dan topeng berwarna hitam dengan simbol kilat merah di tengahnya.
"Siapa kau?" Tanya Raile.
Pemuda itu terdiam beberapa saat. "Aku Ren. Lebih baik, kita selesaikan saja dulu." Ucapnya.
Raile pun mengangguk. "Baiklah."
Mereka pun kembali meluncurkan serangan pada para perampok itu. Kerjasama yang cukup kompak dan ditambah kemampuan beladiri Ren yang langsung melumpuhkan lawan nya itu cukup membantu.
Mereka tak menyadari jika pemuda misterius itu sebenarnya adalah Revan yang menyamar. Tapi ada untungnya juga. Ia bisa lebih dekat dengan Raile tanpa membongkar identitas nya.
Seseorang mendadak muncul dari belakang Revan, namun dengan cepat Raile langsung menendang kepala orang itu hingga terjatuh.
"Kau baik baik saja?" Tanya Revan memastikan.
"Ya, aku baik. Terimakasih." Jawabnya.
Mereka pun kembali mengambil bagian masing masing. Riz juga ikut serta menembaki beberapa orang dari jarak jauh. Ia memilih mengambil tugas yang mudah sekarang. Sayang nyawa...
Tak butuh waktu lama, semua perampok itu pun berhasil dilumpuhkan. Mereka segera memborgol tangan perampok perampok itu agar tak melarikan diri lagi.
"Misi selesai!" Ucap Riz puas sambil menyeka keringat yang mengalir di pipinya. Ia menoleh memandang sosok yang kini berdiri di samping Raile itu. "Maaf, kau siapa?" Tanya Riz.
"Aku Ren. Anggota baru Shadow Agen. Salam kenal" Ucap Ren memperkenalkan diri.
"Oh, aku Riz. Dan ini Raile. Salam kenal. Tapi kenapa kau memakai topeng?" Tanya Riz.
"ini karena aku tak suka memperlihatkan wajahku saja. Dan... Ada alasan pribadi juga."
"Hm... Kau cukup pemalu ya... Baiklah. Oh, awalnya Raile begitu penasaran dengan mu loh! Mungkin kalian bisa berteman baik? Atau.... Lebih dari teman?"
"Apa maksudmu Riz??!!!" Protes Raile dan...
Duk!
__ADS_1
Pukulan sukses meluncur ke kepalanya.
"Aduh! Sakit Raile!!" Keluh Riz.
"Sudahlah, jangan hiraukan dia. Semoga kita bisa berteman baik. Jika begitu, ayo bereskan ini." Ucap Ren dan keduanya pun mengangguk.
"Ngomong ngomong... Bisa kita mengobrol dulu nanti? Ada yang ingin kutanyakan padamu." Ucap Raile tiba tiba.
Revan yang mendengar itu, "maaf, bukan nya aku tidak mau, setelah ini aku masih ada urusan. Mungkin lain kali. Sekali lagi maaf ya..." Ucap Revan yang entah mengapa merasa bersalah.
"Baiklah. Tak apa Ren, lagipula kita bisa mengobrol lain kali. Senang bertemu denganmu." Ucap Raile sambil tersenyum.
"A-Ah iya. Sekali lagi maaf ya..."
"Tak apa."
Setelah itu tak lama kemudian, beberapa agen lain pun datang. Termasuk Rei juga di sana.
"Kerja bagus. Kalian sudah menangkap semuanya." Puji Sein.
"Terimakasih" Ucap mereka serentak.
Sementara, Rei terlihat sedikit memperhatikan Revan. "Um... Siapa dia?" Tanya nya pada Riz dan Raile.
"Ini Ren. Anggota baru Shadow agen." Jawabnya.
Rei sedikit berfikir. Namun di saat berikutnya ia pun mengerti. 'Ternyata kau merahasiakan identitas mu ya... Lumayan juga penyamaran mu ini.'
"Baiklah, aku harus pergi. Sampai jumpa" Ucap Ren dan pergi. Mereka hanya tersenyum melihat kepergian pemuda itu.
"Sampai jumpa lagi!!"seru Riz sambil melambai. " Kemampuan bela dirinya lumayan juga ya... "Lanjutnya.
" Sepertinya dia cukup terlatih. Walau... Ada yang membuat ku penasaran juga. Rasanya ada yang aneh" Ucap Raile sedikit mengingat saat Ren melawan para perampok itu dan hanya dengan luka kecil sudah membuat mereka tak sadarkan diri.
"Aneh apa? Tentang kemampuan nya? Atau cara dia memainkan senjata?"
"Bukan, tapi bagaimana para perampok itu langsung pingsan tadi."
"Mungkin karena dia sedikit memodifikasi senjatanya. Contohnya membuatnya bisa mengalirkan listrik atau semacamnya." Ucap Rei. Kedua pemuda di hadapannya sempat berfikir. Ada benarnya juga. Mungkin Ren menggunakan cara itu.
"Mungkin saja" Kata Raile. Rei pun menarik nafas lega. Setidaknya itu sudah cukup membantu agar mereka tak mencurigai Ren yang sebenar nya adalah Revan.
"Oi yang di sana... Jangan cuma ngobrol aja! Bantuin dong!" Seru Sein yang sedang membawa para perampok.
"Haha, itu kan mudah. Aku masih capek tau... Kasihanilah dikit..." Ucap Riz mencari alasan.
"Gak ada alasan! Cepat bantuin!" Perintah Sein dengan suara lebih tinggi.
Riz menggembungkan pipi nya kesal "Baiklah baiklah... "
Merekapun akhirnya membantu membawa para perampok itu walau dengan sedikit terpaksa
__ADS_1
TBC