
Ah ya, ada satu orang yang mereka lupakan. Lantas semuanya langsung memandang ke arah Aira. "Dia bisa di percaya kok!"
Raile justru memandang Himaki ragu. "Kau yakin? Dia anggota mafia loh."
"Dia cuma korban."
"Bagaimana kau bisa tau?"
"karena..." Aira memandang Eden yang asik memainkan handphone nya. "Kami juga dah mencari tau tentang nya sebelum ini. Singkat nya, dia nggak tau kebenaran di balik Dark Devil."
Himaki terkejut. Jadi mereka sudah mencari informasi tentang nya? Tapi sampai mendapatkan informasi seperti itu... Apa tak terlalu pribadi?
"Dari mana kalian mendapatkan semua informasi itu?" Tanya Himaki penasaran.
"Itu... Kemampuan ku dapat mengendalikan dan memanipulasi semua teknologi di dekat ku. Mencari informasi seperti itu bukan hal yang sulit." Ujar Eden sambil sedikit bergaya sok keren.
Himaki mendengus kesal. Entah ini menyebalkan atau memang ada untung nya informasi pribadi nya bocor seperti ini.
Di satu sisi ia sedikit kesal ada yang mengetahui masa lalu kelam nya. Tapi di sisi lain ia juga bersyukur, karena sekarang ia mengetahui kebenaran dari organisasi yang ia ikuti selama ini.
Seperti nya mereka memang benar, jika Dark Devil tak di hancurkan, akan lebih banyak anak anak tak bersalah yang menjadi korban dan menjadi kelinci percobaan dari apa yang Avran lakukan.
Hanya demi menguasai Delaria City dan menjadi organisasi mafia nomor satu di kota itu, bahkan mereka tega melakukan hal keji seperti ini dengan memanfaatkan anak anak sebagai percobaan dan senjata.
Sungguh kejam.
Himaki merasa bodoh diri nya sudah di manfaatkan dan justru salah jalan seperti ini.
"Tapi... Jika tujuan kalian untuk menghancurkan Dark Devil... Bagaimana dengan sandra yang mungkin masih ada di sana?" Tanya Raile mengingat mungkin masih ada anak anak lain selain mereka yang juga menjadi korban.
Erano sedikit tersenyum. Ia mengambil secangkir teh yang tadi di sajikan dan meminum nya. Ia sempat melihat raut wajah Raile dan Himaki yang nampak penasaran. "Tinggal tiga anak yang tadi kita kalahkan. Untuk lainnya sudah tidak ada lagi. Rei juga sudah kami selamatkan."
Revan mendengus kesal. "Kalian juga mau menyelamatkan anak anak menyebalkan itu?" Tanya nya dengan ekspresi datar namun menatap tajam seakan mengancam jika PiGenSai bersaudara bergabung, dia akan membunuh mereka.
__ADS_1
Seketika atmosfer di ruangan itu berubah menjadi begitu mengerikan. Seperti nya Revan begitu benci pada tiga pemuda itu. Jelas saja lah. Mereka sudah membuat banyak masalah yang membuat nya pusing sendiri, bahkan juga hampir membunuh saudara dan teman teman nya.
Seakan memiliki dendam tersendiri, Revan tentu saja tak bisa menerima mereka begitu saja.
Eden memberanikan diri untuk bicara. "I-itu cuma rencana aja kok!"
Mendengar itu, Revan hanya memalingkan wajah nya menatap ke arah lain.
Kini Raile yang bertanya, "Rei? Dia juga sudah kalian selamatkan?" Ah ya, Rei juga tertangkap saat itu. "Bagaimana kondisi nya sekarang? Di mana dia?"
"Dia ada di lantai atas, di kamar Erano. Dia sedang dalam masa pemulihan sekarang. Aku sudah menyembuhkan luka nya." Jawab Aira dengan suara lembutnya. "Ohya, kemampuan ku dapat menyembuhkan orang lain. Jadi, kalau kalian terluka, katakan saja padaku ya!" Lanjut nya sambil tersenyum ceria.
Raile menarik nafas lega. Baguslah jika dia baik baik saja sekarang. Seperti nya memang dirinya tak perlu ragu lagi. Mereka cukup bisa di percaya dan tujuan mereka juga baik.
"Jadi... Apa tujuan kalian mengumpulkan kami di sini? Gak cuma buat kenalan aja kan? Aku pengin pulang."
Mendengar itu, lantas semua langsung memandang ke arah Revan yang sedari tadi mendengarkan.
"Kalian bercanda? Kalau aku ketahuan membocorkan informasi yang ada di Shadow Agen, aku bisa kena masalah besar tau!" Ujar Raile. Jika dia ketahuan memberikan informasi itu pada orang lain, akan jadi masalah besar! Masih untung kalau cuma di marahi, bukan di hukum dengan begitu berat atau bahkan sampai di penjara. Bisa gawat nanti.
"Kita ada Sein kan? Orang itu cukup bisa di percaya." Ujar Revan. Mengingat Sein sudah banyak membantu nya sejak di Dark Devil sampai sekarang dia sudah menjadi anggota Shadow Agen.
"Ada benarnya. Ice juga bisa di percaya." Sambung Raile.
Hinaki mengernyitkan dahi. "Ice? Bukannya dia anggota Dark Devil?"
Raile menggeleng. "Dia mata mata Shadow Agen. Sudah jelas dia memihak pada Shadow Agen. Dengan bantuan nya juga aku bisa tau banyak informasi tentang Revan dan organisasi mafia itu."
Himaki menatap datar. Pantas saja Ice seakan meminta nya untuk keluar dari Dark Devil secara tak langsung.
Dari sikap dan kata kata nya, seolah menyimpan pesan tersendiri agar dirinya tak terlalu jauh masuk dalam organisasi mafia itu. Jadi ini alasannya... Karena selama ini Ice memihak pada Shadow Agen.
Himaki merutuki dirinya sendiri karena tidak menyadari itu dari awal.
__ADS_1
"Jadi, rencana kita sekarang mencari informasi lebih dulu. Mencari tau apa saja target mereka dan apa yang akan Avran rencanakan kedepannya." Ujar Revan yang langsung di tanggapi anggukan oleh lainnya.
"Tapi... Kalian sebagai esper juga harus melatih kemampuan kalian bukan? Jika semua kelinci percobaan Avran kabur, bukan tak mungkin Avren merencanakan hal lain lagi." Ucap Himaki.
Aira mengangguk. "Ada benarnya. Dia seakan membiarkan kita begitu saja. Aku yakin ada yang si tua bangka itu rencanakan."
"Jika begitu, biar aku dan Raile yang menyiapkan tempat dan latihan kalian." Usul Himaki.
Namun Raile justru menatap terkejut. Kenapa dirinya harus di bawa bawa?? Tapi... Mau bagaimana lagi? Raile menghela nafas nya pasrah. "Baiklah... Tapi dimana tempat yang aman untuk melatih kemampuan seperti itu? Kalau ada orang yang lihat bisa bahaya."
Memiliki kemampuan super seperti itu tentu akan menarik banyak perhatian. Jika orang lain tau, bukan hanya mendatangkan masalah, tapi juga membuat diri mereka sebagai esper semakin di incar untuk di manfaatkan. Tentu mereka tak ingin hal seperti itu terjadi.
"Kau tak perlu khawatir, aku tau tempat nya kok.okasi yang cukup aman dan tak banyak orang yang tau." Ucap Himaki.
"Baiklah, jika begitu kita berkumpul di sana besok." Ujar Erano akhirnya.
"Tapi...."
Revan menjeda ucapan nya seolah mencoba mengingat sesuatu. "Kita tau Raile di culik dari Riz. Aku lupa memberitahu nya Raile sudah selamat."
Lainnya langsung saling berpandangan satu sama lain. Sungguh, mereka melupakan orang satu itu karena terlalu sibuk menyelamatkan Raile dan mengatur rencana.
Di sisi lain, Raile justru menahan tawa membuat lain nya terheran.
"Kenapa?" Tanya Revan.
"Enggak... Nggak apa kok. Cuma kebayang wajah ngambek nya saja. Jika begitu, aku dan Revan lebih baik pulang sekarang. Takut dia makin marah nanti." Ucap Raile dan berdiri, di susul Revan yang di belakang nya.
"Kalau begitu kami pamit dulu." Ujar Revan.
"Baiklah, hati hati di jalan." Balas Erano.
Siap siap deh Revan dan Raile mendengar omelan panjang lebar dari Riz.
__ADS_1