
"Kalo kau pembunuh bayaran, ku sarankan jangan bunuh rasa kemanusiaan mu sendiri. Itu jika kau masih punya hati."
Menyadari kesunyian yang muncul setelah ia mengatakan itu, Revan tau jelas ada alasan khusus yang membuatnya menjadi pembunuh bayaran. Mungkin saja sepertinya? Melakukan kejahatan karena terpaksa, atau mungkin sebab lain. Yang pasti ada yang mendorong nya untuk melakukan itu.
Detikkan jarum jam terdengar jelas mengisi kesunyian di ruangan itu. Waktu terus berjalan dan matahari mulai turun dari singgasana nya, digantikan sang rembulan yang mulai naik menyinari malam yang gelap itu.
Berjam jam telah berlalu, tapi pria ber iris silver itu masih setia dengan bungkam nya. Bukannya tak ingin bicara, tapi tak tau harus mengatakan apa setelah mendengar ucapan Revan.
Semua kata seakan lenyap. Pikiran nya masih terus terbayang kata kata itu. Mengingatkan nya kembali pada masa lalu yang sebenarnya ingin ia lupakan.
Revan bangun dari tidur nya, melepaskan jarum infus yang menancap di tangan nya. Mengabaikan rasa sakit yang ia rasakan saat jarum itu terlepas dari tangan nya. "Lebih baik kau pikirkan alasan mu bergabung, sebelum kau semakin tertarik dalam kegelapan."
Himaki yang menyadari Revan hendak pergi langsung mencegat nya. "Kau pikir bisa pergi begitu saja hah?!"
Revan hanya menatap datar pria yang kini memegang tangan nya. "Tentu aku bisa."
BZZTT!
"Akh!!" Refleksi Himaki melepaskan tangan nya setelah merasakan sengatan listrik dari pemuda bermanik ruby itu.
Dirinya belum menyerah, langsung saja Himaki menembakkan peluru yang nyaris saja mengenai Revan. Untung pemuda itu bisa menghindari nya dengan mudah.
Di saat berikutnya, Revan langsung meluncurkan tendangan berputar yang langsung saja di tahan oleh Himaki. Belum cukup sampai situ, Revan seketika menghilang dan muncul kembali di belakang Himaki, memukul tengkuknya membuat pria itu terjatuh.
Bruk
"Lebih baik jangan halangi aku jika kau masih mau selamat."
Bzztt!
Dan itu kata kata terakhir yang Himaki dengar sebelum kesadaran nya mulai menghilang. Setelahnya Revan langsung melompat keluar jendela.
*****
Tok tok tok!
"Assalamu'alaikum Raile! Raile buka!"
Mendengar suara ketukan pintu, Raile yang kala itu sedang asik membaca buku langsung berjalan menuju pintu depan.
"Iya sebentar." Ucap nya dan membukakan pintu.
Saat pintu terbuka, terlihat Riz yang terlihat kelelahan dengan nafas tak beraturan. Sepertinya pemuda itu habis berlari ke sini.
"Kemana saja kau seharian? Bahkan tidak masuk sekolah!"
__ADS_1
"Marahnya nanti dulu Ile... Ada keadaan darurat!! Para anggota Dark Devil berencana membebaskan anggota mereka yang tertangkap!!"
Raile membulatkan mata. "Apa? Tapi darimana kau tau?"
"Ku jelaskan nanti. Mereka pasti sudah mulai bergerak. Kita harus memberi tau agen Sein!"
"Kenapa gak langsung saja lapor pada agen Raka?"
"Kelamaan."
Tanpa buang waktu lagi, Riz langsung menarik tangan Raile pergi. Yang ia takutkan jika mereka terlambat, tahanan berhasil di bebaskan dan nyawa Revan akan semakin dalam bahaya.
Namun di sisi lain masih terpikir bagaimana cara untuk dirinya menyelamatkan Revan. Dan bagaimana jika Raile tau kalo sebenarnya Ren itu adalah Revan? Apa yang akan Raile pikirkan?
****
Malam memang menjadi waktu yang tepat untuk para penjahat melakukan aksi nya. Di saat kegelapan menyelimuti seluruh penjuru kota, semakin banyak titik buta yang di temukan mempermudah mereka untuk melakukan kejahatan.
21.30_ Delaria City.
Tiga orang pemuda menyelinap di balik bayangan kota, mencari tempat aman untuk bersembunyi dan meluncurkan aksi mereka. Sasaran nya adalah kantor polisi, membebaskan rekan mereka yang ditahan.
Bagi anak anak seperti mereka, menyelinap di tengah malam bukan lagi hal yang sulit untuk dilakukan. Pengalaman mereka sebagai pencuri sebelum bergabung dengan Dark Devil tentu sangat membantu untuk situasi saat ini.
Ditambah lagi kekompakan mereka dalam menyusun rencana dan strategi untuk menyelinap yang sudah di atur sedemikian rupa.
"Pintu belakang aman. Kita masuk sekarang. Gen, kau urus CCTV nya. Awasi juga sekitar dan langsung beritahu jika ada yang mendekat. Biar aku dan Sai yang mencari mereka." Ujar Pian.
Gen langsung memberi hormat. "Siap!"
"Ayo Sai."
Sai mengangguk lalu mengikuti kakak sulung nya itu.
Kemampuan Gen lebih ke bidang teknologi, jadi ia sudah biasa menyabotase CCTV atau sistem keamanan lainnya. Bahkan ia biasa melakukan pengkodean dan hacking yang bisa di bilang cukup tinggi untuk anak seusia ya. Dalam waktu singkat, semua sistem keamanan di kantor polisi itu dapat di lumpuhkan dengan mudah oleh anak itu.
"Hai dik!"
Gen terkejut. Seketika ia menghentikan kegiatan nya dan berbalik. Ia benar-benar tidak menyadari keberadaan orang lain di sekitar nya.
"S-siapa kau?!"
"Hehe... Orang baik yang numpang lewat."
Sreg
__ADS_1
"Umpphh!!" Secara tiba-tiba ada yang membungkam mulut nya dengan sapu tangan yang sudah di tetesi cairan bius. Tidak butuh waktu lama, pandangan nya mulai mengabur dan berakhir tidak sadarkan diri.
"Baiklah.. Satu beres. Sekarang tinggal urus lainnya."
Di sisi lain, Pian dan Sai terus mencoba menghindari para polisi yang berjaga. Terus menyelinap agar keberadaan mereka tidak di ketahui.
"Ish! dimana sih tuh orang." Keluh Pian kesal karena tak kunjung menemukan orang yang mereka cari.
"Pian sini!" Ucap Sai sedikit berbisik. Dengan segera pian pun langsung mendekati rekan nya itu. Tepat saja, orang orang yang mereka cari ada di sana.
"Ck. Kupikir kalian lebih hebat, ternyata umur tak menentukan kemampuan." Ucap Pian sambil tersenyum sinis yang tentu membuat ketiga pria di balik jeruji penjara itu memberikan tatapan kesal.
Farel mulai terpancing emosi. "Apa maksud mu hah bocah?!"
"Hey hey sudah. Jangan ribut di sini nanti ketahuan... " Larai Sai yang sedang mencoba membuka gembok yang mengunci pintu sel tahanan itu.
Sungguh, ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat.
Krek
"Berhasil!"
Kunci berhasil di lepas. Diam diam, mereka langsung menyelinap keluar. Beruntung bagi mereka tidak ada satupun polisi yang mengetahui kepergian mereka. Atau jika tidak, Pian dan Sai juga akan tertangkap dan bernasib sama seperti ketiga pria itu.
"Gen semuanya beres! Maaf lam-" Mata Pian membulat seketika saat menyadari jika saudara nya itu tidak ada di sana. Seketika dirinya panik, melihat ke sekeliling mencari keberadaan saudaranya itu. Tapi hasilnya nihil, Gen tidak ada di sana.
"Ada apa bocah?" Tanya Saki.
"Saudara kami, Gen tidak ada di sini. Bagaimana ini?"
"Dia pasti ada di sekitar ini. Jangan pan-"
"Sayangnya dia sudah tertangkap sekarang.
Mendengar suara itu, mereka langsung mengalihkan pandangan nya pada sosok pemuda ber manik gold yang berdiri di atap rumah warga.
Sejak kapan pemuda itu ada di sana?
" Yaho! Cari apa tuh? Rekan kalian yang hilang ya?" Ujar Riz yang berjalan santai dari dalam sebuah gang sempit.
Pian mengepalkan tangan nya kesal. "Sialan!! Lo apain adik ku hah?!"
"Darimana kalian tau tentang ini? " Tanya Naru
"Tenang saja, dia aman kok. Dan asal kalian tau, kami selalu ada satu langkah lebih lebih maju di hadapan kalian."
__ADS_1
TBC