Shadow Agen

Shadow Agen
Menyerbu Masuk


__ADS_3

Kling...


Sebuah notifikasi menarik perhatian Revan. Dengan segera ia mengambil handphone di saku jaket nya dan membaca pesan yang baru di terima nya.


Seulas senyuman muncul di wajah nya saat mengetahui itu pesan dari Naru. Akhirnya data yang mereka cari berhasil di dapatkan.


"Bagaimana?" Tanya Aira.


"Mereka berhasil." Jawab Revan. Namun, senyuman di wajah nya seketika berubah setelah membaca pesan selanjutnya. "Kita harus cepat ke sana. Thory berhasil menemukan mereka."


"Mereka ketahuan? Bahaya... Jika Thory melakukan sesuatu pada mereka bagaimana?" Tanya Eden.


"Positif saja, berharap mereka baik baik saja." Jawab Erano.


Di saat seperti ini, mereka hanya bisa berharap bahwa semuanya akan baik baik saja. Mereka memang masih belum tau bagaimana kondisi Farel dan Nari sekarang. Tapi apa salahnya berpikir positif bukan?


Mereka terus melangkah sampai di depan pintu masuk markas Dark Devil. Nampak beberapa orang yang berjaga memandang ke arah mereka dan dengan cepat memasang posisi siaga.


"Mau apa kalian ke sini hah?!" Ujar salah satu pria, sambil mengarahkan pistol milik nya.


"Kayaknya mereka mau cari mati deh." Ujar pria lainnya remeh. Ia menyeringai lebar melihat Revan dan teman teman nya. Pasalnya, Revan dan teman teman nya jelas saja kalah jumlah.


Beberapa anggota Dark Devil lainnya mulai keluar dan menghadang mereka. Dalam pikiran mereka, dengan jumlah segini jelas akan mudah untuk mengalahkan para remaja itu.


Namun sayang, yang terjadi justru sebaliknya.

__ADS_1


Revan menoleh, memandang ke arah Erano. "Erano, mohon bantuannya."


"Serahkan saja pada ku!" Erano menatap para anggota Dark Devil itu. Lalu memejamkan mata nya sejenak, lalu kelopak mata itu kembali terbuka. "Penghentian." Seketika semua orang di hadapan nya langsung berhenti bergerak.


Sein yang melihat itu membulatkan mata terkejut. Ternyata ada esper lain selain Revan yang bahkan memiliki kemampuan seperti itu.


"Ayo masuk semua!" Ujar Erano. Lainnya pun mengangguk dan langsung menyerbu masuk.


Pintu seketika terbuka dan semua CCTV serta sistem keamanan lainnya mati seketika.


Erano memukul pelan pundak Eden. "Tumben peka, langsung matiin semua sistem gitu."


Eden justru menggeleng. "Bukan, ini bukan aku."


"Ini aku. Cepat kalian cari Avren dan Thory." Dari dalam suatu ruangan, Dokter Danu keluar sembari membawa beberapa peralatan elektronik yang ia bawa.


Aira mengernyit. "Bukannya kalian bakal kalah jumlah? Aku juga bakal bantu." Pinta Aira.


Himaki menggeleng. "Kemampuan mu di butuhkan untuk membantu mereka. Selain itu juga untuk menolong Farel dan Naru jika mereka terluka." Jelas Himaki.


Revan mengangguk. "Yang Himaki bilang benar, lebih baik kau ikut bersama kami."


"Baiklah!" Ujar Aira akhirnya.


Mereka tau kemampuan Thory tidak bisa di anggap remeh. Keberadaan Aira di butuhkan oleh mereka jika saja ada yang terluka nanti nya.

__ADS_1


Sementara untuk mengalahkan Avren, mereka rasa tidak membutuhkan banyak orang. Mereka memang tidak bisa meremehkan pria itu juga, mengingat kemampuan bela dirinya. Namun, jika di bandingkan oleh Thory, apalagi setelah mengetahui masa lalu Avren, hadapan untuk menang rasanya semakin besar.


"Jika begitu aku akan ikut membantu kalian dari belakang. Raile dan Riz juga sedang menuju kemari. Mungkin tidak lama lagi mereka akan sampai." Ujar pak Danu.


Baguslah, jika begitu akan semakin banyak bantuan untuk mereka.


"Baiklah, ayo maju!" Seru Revan. Semuanya langsung pergi menuju lokasi target masing masing.


Dengan bantuan denah markas Dark Devil yang di berikan Ice, mereka jadi lebih mudah mencari tempat tempat di gedung itu.


Dokter Danu juga sudah memberitahu lokasi Avren dan Thory yang ia dapatkan melalui kamera CCTV.Dengan begitu akan semakin memudahkan mereka menemukan nya.


Sementara itu, masih banyak yang membuat Sein penasaran. Banyak yang ingin ia tanyakan. Khusus nya, bagaiman bisa mereka yang dulunya menjadi musuh, kini justru saling bekerjasama seperti ini.


Selain itu orang orang baru yang juga memiliki kemampuan super atau esper sama seperti Revan. Banyak yang masih belum Sein mengerti sampai sekarang. Ini terlalu mendadak bagi nya.


Namun, sebuah tepukan berhasil menyadarkan nya dari lamunan nya sendiri. Di samping nya, Revan tersenyum tipis, namun terkesan tulus dan lembut pada Sein.


Entah kapan terakhir kali Sein melihat senyuman tulis Revan seperti itu. "Percaya saja pada mereka. Mereka semua ada di pihak kita sekarang. Mohon bantuan nya, kak Sein."


Sein akhirnya mengangguk. "Aku akan berusaha keras. Banyak yang ingin ku tanyakan, tapi... Ada yang lebih penting sekarang. Kita mulai sekarang."


Revan mengangguk, dan mereka mulai menjalankan tugas bagian mereka masing masing.


Sein menghela nafas. Sejak awal ia mengenal Revan, pemuda itu memang selalu bisa membuat nya kagum dan penasaran.

__ADS_1


Kagum akan semangat dan tekat nya yang kuat, serta penasaran dengan sifat dan apa yang ia rencanakan.


"Bakal ku tagih penjelasan lengkap dari nya nanti." Gumam Sein.


__ADS_2