Shadow Agen

Shadow Agen
Misi Pertama Sebagai Agen


__ADS_3

Bagi setiap orang, hal pertama adalah yang terbaik. Langkah pertama dan harus berusaha yang terbaik. Itu juga yang dipikirkan Revan saat ini. Tepat nya, di misi pertamanya sebagai seorang agen.


Di gelapnya malam, terlihat seorang wanita yang sedang dikejar 3 orang pria di sebuah gang sempit. Wanita itu mencoba berlari secepat mungkin untuk menghindari ketiga pria itu.


Namun sayangnya, keberuntungan tak sedang berpihak padanya. Ia tersandung dan jatuh tersungkur. Ketiga pria itu pun semakin dekat. Wanita itu mencoba untuk lari. Tapi sialnya, dia mengambil jalan yang salah yang membawanya lada jalan buntu.


Melihat wanita itu terjebak, ketiga pria itu tersenyum penuh kemenangan. Entah apa yang akan mereka lakukan. Wanita itu terlihat semakin ketakutan.


"Siapa saja tolong aku!!" Jeritnya meminta pertolongan. Tapi sayangnya, daerah perumahan itu cukup sepi dan tindak kriminal memang sering terjadi di lingkungan ini. Ia hanya bisa berharap ada orang baik yang bisa membantunya. Sampai...


BRAK!!


"Akh! "


Seorang pemuda yang mengenakan kaos merah dengan jaket hitam pun muncul dan menendang salah satu diantara ketiga pria itu. Yap, dia adalah Revan. Beruntung wajahnya tertutupi masker hitam dan ujung topi yang sedikit diturunkan membuat ketiga orang itu kesulitan mengenalinya.


Jika ia lihat, ketiga orang itu adalah anggota Dark Devil. Tepatnya para kriminal kelas teri yang kerjaannya hanya merampok atau mengganggu orang tak bersalah.


"keterlaluan kau!!! Berani kau menantang ku hah?!" Serunya kesal menatap penuh amarah pada sosok pemuda misterius yang secara tiba tiba muncul bagaikan pahlawan kesiangan.


Salah satu pria itu memberi isyarat pada kedua rekannya untuk menyerang. Dan mereka langsung melakukannya tanpa menunda waktu lagi.


Salah satu pria mengeluarkan sebuah belati untuk menyerang. Namun, dengan mudah Revan menghindari nya. Seolah gerakkan lawannya itu terlihat begitu lambat di matanya, setiap serangan bisa dengan mudah dihindari.


Revan menarik tangan pria itu dan menendang tangan satunya yang menggenggam belati hingga benda tajam itu terlempar. Setelah nya, ia langsung memukul keras wajah pria itu hingga terjatuh.


Tapi belum cukup sampai situ. Pria ke dua menyerangnya dari belakang dengan berniat memukulnya dengan kayu. Tapi sayangnya, hal itu lebih dahulu disadari Revan yang langsung meluncurkan tendangan ke perutnya.


Namun disamping itu, pria yang sepertinya kedua dari komplotan kelas teri itu langsung menarik wanita tadi dan mengunci tangannya dibelakang serta tangan satunya menodongkan pisau tepat di leher wanita itu.


"Berhenti!!" Serunya yang menarik perhatian Revan. "Jika tidak, aku akan menghabisi wanita ini!! " Ancamnya. Revan terdiam membuat pria itu menyeringai penuh kemenangan.

__ADS_1


Kedua pria lainnya sudah ada di belakang Revan sekarang. Ayolah.. Apa dia terjebak sekarang? Kau tau ini tidak lucu. Tapi Revan tetap terlihat tenang di saat seperti ini.


"Angkat tanganmu atau aku akan memotong leher wanita ini! " Yah... Revan hanya bisa pasrah. Keselamatan korban yang utama dalam hal ini. Tapi... Bagaimana dengan dirinya?


Sayangnya, Revan bukan orang bodoh yang tak akan menebak hal seperti ini akan terjadi. Ingatkan lah jika dia sudah bertahun tahun menjadi anggota mafia. Jadi hal seperti ini sudah biasa terjadi. Dan, ingatkan jika Revan tak bekerja sendiri.


Secara tiba tiba, seorang pria melompat dari atap rumah warga dan langsung memukul kepala pria yang menyekap wanita itu dari belakang. Pria itu langsung jatuh tersungkur.


"Kau baik baik saja? " Tanya pria tadi sambil mengedipkan sebelah matanya. Yap, dia adalah Sein. Bisa dibilang rekan misi Revan disini.


"I-iya aku baik baik saja" Ucap wanita itu yang entah kenapa pandangannya tak bisa terlepas dari pria berkacamata kuning di hadapannya.


"Kau tenang saja, abang Sein yang ganteng bin tampan ini akan melindungi mu dari para berandal kurang asem itu!!! Lihat saja, aku akan menghajar mereka habis habisan!!!" Ucapnya sambil bergaya.


"Waaah!!!" Mata wanita itu tampak berbinar membuat Sein semakin menjadi bergaya nya. Tapi ia tidak tau, jika wanita itu justru memandang ke arah lain. Tepatnya apa yang sedang terjadi di belakang Sein. Mengabaikan pria di hadapannya yang sedang bergaya tak jelas.


Kasihan Sein... Kalo tau pasti sakit tuh... Ya... Sakitnya tuh di sini di dalam hatimu...


Rencananya sih memang mau membantu, tapi saat hendak memulai aksinya, begitu berbalik, Revan sudah membereskan semuanya. Terlihat pemuda itu sedang memborgol tangan ketiga orang itu.


"Eh? Sudah selesai? Aku baru mau mulai... " Ucapnya sedikit kecewa.


"Makanya jadi orang gak usah sok gaya gak guna. Buang waktu aja" Balas Revan. Haha... Sok gaya ya?


"Oi! Kau tau kah? Hal paling penting dalam misi adalah penampilan dan gaya. "


"Ck. Perasaan paling penting itu menjalankan misi dengan baik" Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan.


"Hey! Kalo ngomong tuh mandang orang nya! Gak sopan tau! "


Revan menghela nafas. "Iya iya maaf... Sekarang.. Ayo bawa mereka."

__ADS_1


Sein mengangguk. Tapi sebelum itu, mereka menghampiri wanita yang berstatus korban itu.


"Terimakasih banyak... Terimakasih... Jika tak ada kalian, aku tidak tau harus bagaimana... Terimakasih... " Ucapnya penuh rasa terimakasih.


"Sama sama... Lain kali berhati hatilah. Okey? " Ucap Sein sambil sedikit menaikkan kacamatanya yang sebenarnya masih dalam posisi yang sama.


"Baiklah! Dan terimakasih juga padamu dik... Jika tidak ada kamu, entah apa yang akan mereka lakukan. Terimakasih banyak... " Ucap wanita itu yang entah kenapa membuat Revan canggung. Mungkin karena sebelumnya tak pernah ada yang seperti itu padanya? Mengingat, dia lebih terbiasa membunuh.


"Um... Sama sama" Ucapnya sedikit canggung.


"Baiklah jika begitu, mau ku antar? Tak baik diluar malam malam. " Ucap Sein.


Wanita itu menggeleng. "Tidak perlu, rumah saya sudah dekat kok. Sekali lagi terimakasih ya... " Kata wanita itu dan pergi.


Revan sedikit menghela nafas lega. Misi pertama berjalan lancar... Tapi entah kenapa ia masih merasa canggung. Yang benar saja...


Sein yang menyadari itu pun menepuk pundak pemuda ber iris ruby itu yang membuatnya terkejut. "Apa kau baik baik saja? Ngomong ngomong... Kau tadi lumayan juga" Puji Sein.


Revan memalingkan muka "terimakasih... Um.. Lebih baik kita cepat kembali. Aku takut jika Avren tau dia akan menghajar ku habis habisan"


Sein terkekeh melihat itu. "Baiklah... Dasar taundere. Dan lain kali... Tunggulah aku... Masa sudah sampai di lokasi gak ngapa ngapain"


"Itu kau nya saja yang terlalu banyak gaya"


"Hey Revan...Aku hanya memastikan korban aman tau... "


Yah... Begitulah misi pertama Revan sebagai agen yang berjalan dengan lancar. Tak sesulit yang ia pikirkan sebelumnya. Mereka pun membawa ketiga pria itu pergi.


Tapi, mereka tak menyadari jika ada yang sedang mengamati mereka dari balik dinding sebuah rumah.


"Revan? Apa dia berhianat? "

__ADS_1


TBC


__ADS_2