
Malam sudah larut. Kebanyakan orang sudah kembali ke rumah mereka untuk beristirahat dan memulai perjalanan dunia mimpi. Jalanan kota pun mulai sepi. Hanya beberapa kendaraan yang lewat. Toko toko di tepi jalan pun sudah banyak yang tutup.
Seorang pemuda ber iris biru berjalan di trotoar mencari toko yang masih buka untuk membeli makanan. Nasib lah dirinya yang harus pergi larut malam begini. Tapi untung saja ia berhasil mengambil dompet sepupu nya diam diam jadi ia tak perlu membayar sendiri belanjaan nya.
"Ugh.. Jam segini mana ada toko yang masih buka? Yang ada ketemu begal di pinggir jalan atau orang gak waras yang mabuk mabukan." Gerutu Riz sambil terus berjalan. Jelas saja lah kebanyakan toko sudah tutup.
Tapi ia tak menyerah secepat itu. Kaki nya terus melangkah memasuki gang sampai akhirnya menemukan sebuah rumah makan di sana. "Untung aja masih ada yang buka..." Ujar nya sambil bernafas lega. Dengan cepat ia pun masuk ke rumah makan itu.
"Pesan nasi padang 3 di bungkus"
"Pesan nasi padang 2 di bungkus"
Riz menoleh dan di sebelah nya ada seorang pemuda ber rambut perak. Tunggu, bukannya pemuda itu yang tidak sengaja di tabrak nya saat itu?
"Oh hai, kau rupanya. Tak sangka bisa bertemu dengan mu lagi di sini." Sapa Riz.
"Kau yang tak sengaja menabrak ku di jalan itu kan? Perkenalkan, aku Erano. Siapa nama mu?" Tanya Erano sambil mengulirkan tangan nya.
Riz langsung menjabat tangan Erano. Sepertinya pemuda itu orang yang baik. "Aku Riz. Salam kenal." Jawab nya sambil tersenyum. "Ngomong ngomong hampir lewat tengah malam gini kau masih di luar rumah, apa gak takut sama mafia atau semacamnya? Delaria city bukan tempat yang aman loh...
Pemuda itu menggeleng. "Aku tau, aku ke sini juga karena teman ku yang meminta nya. Tepatnya termakan ucapan sendiri. Dah gitu aku yang harus traktir lagi."
Riz sedikit tertawa. Mungkin jika tadi Raile yang pergi, dia pun akan menggerutu seperti itu. "Kalo aku malah dengan senang hati pergi. Asal bukan aku yang bayar sih..."
"Yaampun... Kau ini seperti pencuri saja."
"Ahaha tidak juga. Aku hanya suka menjahili sepupu ku. Kami sudah biasa seperti ini sejak kecil."
"Saudara ya... Jadi ingat deh dengan orang yang sudah ku anggap seperti saudara ku sendiri." Ekspresi wajah Erano berubah menjadi sendu.
"Ah maaf,"
Erano menggeleng cepat. "Tidak. Kami memang sudah tidak bersama. Aku hanya sedikit merindukan nya saja, tapi di sisi lain aku juga senang karena dia bahagia."
Riz tersenyum kecil. Ia jadi mengingat tentang Revan dan Raile yang terpisah dan baru bertemu lagi bahkan baru bisa akrab.
Sejak dulu Raile begitu membenci Revan yang sebenarnya saudara nya sendiri. Banyak hal sudah terjadi sejak pertemuan pertama mereka yang membuat Raile begitu membenci Revan. Sampai akhirnya sekarang mereka bisa bersama lagi, walau Revan harus kehilangan sebagian besar kenangan indah nya bersama Raile.
Kadang Riz berfikir hidup ini tak adil. Beberapa orang bisa merasakan kebahagiaan dengan begitu mudah nya, namun sebagian lagi harus mengalami hal sulit dan menyakitkan baru menemukan kebahagiaan itu.
__ADS_1
Bagaikan haris berjalan di atas bara api untuk menemukan setetes air yang begitu sulit nya. Tapi sekarang ia bersyukur, setidaknya Revan dan Raile sudah bersama lagi. Hanya perlu waktu sampai ingatan Revan benar-benar pulih.
"Ya... Kebahagiaan itu... Sesuatu yang sangat berharga ya..." Ujar Riz pelan.
Erano mengangguk. "Banyak orang yang harus melalui ribuan penderitaan sebelum mencapai satu kebahagiaan. Terkadang... Yang sudah menemukan kebahagiaan justru harus kehilangan nya hanya karena orang-orang tak punya hati yang memanfaatkan mereka untuk kepentingan pribadi." Tangan Erano mengepal kesal mengingat kejadian di masalalu nya.
Mendengar ucapan Erano, Riz sedikit menyipitkan mata nya. Mengenai orang yang mencuri data di gedung Alpha saat itu, dia dan kedua rekan nya sempat mencurigai Erano. Tapi apa benar Erano adalah esper yang melakukan itu?
"Seperti yang Dark Devil lakukan? Ku dengar... Mereka membuat percobaan pada manusia." Ujar Riz sedikit berbisik. Ia ingin melihat reaksi pemuda ber rambut perak di dekat nya saat mendengar itu.
"Kau... Tau?" Tanya Erano terkejut.
Tidak salah lagi...
"Aku hanya sekedar mendengar nya. Rumor sangat mudah menyebar di sekolah sekolah." Ujar Riz sambil mengalihkan pandangan nya. Ia menghela nafas dan memejamkan mata nya sekejap.
Suasana sunyi seketika setelah Riz mengatakan itu. Riz sedikit melirik, melihat Erano yang seakan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Hey... Menurutmu, sepenting itukah kekuasaan sampai harus mengorbankan begitu banyak nyawa orang yang tak bersalah?"
Riz tak mengalihkan pandangan nya. "Entahlah. Bagiku, mereka hanya orang-orang busuk yang tak punya hati. Sama busuk nya dengan sisi lain kota ini."
"Kau benar. Hey, sepertinya kita punya pemikiran yang sama."
"Permisi, ini pesanan kalian."
Kedua pemuda itu mengalihkan pandangan pada seorang wanita yang berjalan ke arah mereka sambil mengulurkan bungkusan makanan.
"Terimakasih" Ujar keduanya setelah membayar.
"Baiklah. Aku harus segera pulang sekarang. Sampai jumpa lagi Riz." Erano melambaikan tangan dan berjalan pergi memasuki sebuah gang.
"Sampai jumpa." Balas Riz.
Langkah nya mulai membawa nya menjauhi lokasi itu. Tidak salah lagi, kecurigaan nya pada Erano semakin besar sekarang. Ditambah, dengan terang terangan dia mengatakan tentang percobaan pada manusia yang di lakukan oleh Dark Devil.
Walau Dark Devil itu organisasi mafia yang sangat terkenal di Delaria City, tapi tentu hal seperti itu tak akan di sebarkan dan bukan orang sembarangan yang dapat mengetahui nya.
Sudah jelas Erano bukanlah orang biasa yang sekedar tahu mengenai hal itu. Apa dia anggota Dark Devil? Atau mungkin Sekutu?
__ADS_1
Riz masih belum bisa menyimpulkan nya sekarang. Ia masih kekurangan bukti, tapi informasi itu sudah cukup untuk memperkuat kecurigaan nya, jika Erano memang terkait dengan kasus di gedung Alpha saat itu. Yang artinya, kemungkinan bukan hanya dia esper yang ada, mengingat ada gedung gedung lain di tempat yang berbeda yang mengalami kasus yang sama.
"Siapa dia sebenarnya? Ada di pihak mana dia sebenarnya?" Gumam Riz. Tak lama, ia pun sampai di markas Shadow Agen.
Tok tok tok
Pintu di ketuk, tak lama, pemuda ber iris merah ruby membukakan pintu.
"Kau lama sekali. Apa sempat mampir ke tempat lain dulu?" Tanya Revan.
"Tentu saja tidak. Lagian sudah jam segini susah kali cari toko yang masih buka." Ucap nya. Ya, memang benar sulit menemukan toko yang masih buka!!
"Ngomong ngomong..." Dari belakang Revan, Raile muncul sambil membawa penggorengan di tangan nya. Seakan aura hitam keluar dari tubuh nya, membuat pemuda itu terlihat mengerikan!
Tak mau terlibat masalah, Revan pun langsung mundur sedikit menjauh dari kedua pemuda itu.
"Kembalikan dompet ku!!!"
"Ah!! Baiklah baiklah ku kembalikan!!!
****
Grek
Pintu di buka dan pemuda ber rambut perak melangkah memasuki rumah itu. " Aku pulang..." Ucap nya.
"Ah Ano! Akhirnya.. Lama banget sih!" Ucap Eden sambil berjalan mendekati rekan nya itu.
"Susah tau cari toko yang masih buka jam segini! Nih makanan nya!" Erano langsung memberikan bungkusan makanan yang sudah di beli nya.
"Perasaan aku tadi gak bilang nasi padang deh."
Seketika perempatan imajiner muncul di dahi Erano. "BERSYUKUR KEK DAH DI BELIIN, GRATISAN PULA. MASIH PROTES AJA!" Seru Erano kesal. Teman nya ini sungguh tidak tau terimakasih!
Eden hanya menggaruk belakang kepala nya yang tak gatal. "Maaf maaf. Terimakasih Ano yang ganteng..."
Erano menghela nafas. "Ngomong ngomong... Aku bertemu dengan nya tadi. Teman dari si kilat kita."
Pandangan Eden langsung berubah. Seringaian muncul di wajah nya. "Oh ya? Lalu, bagaimana?"
__ADS_1
"Dia tau tentang percobaan itu. Tapi untuk sekarang, kita tunggu saja sampai waktunya tepat."
"Baiklah."