
Seorang pemuda yang terkurung dalam sebuah ruangan. Ia dijadikan sebagai tikus percobaan oleh para mafia kejam yang membuatnya terpaksa dijadikan sebagai senjata untuk melakukan tindakan kriminal. Walau tak mau, ia terus dipaksa melakukannya atau dia akan terus disiksa. Siapakah pemuda itu? Ya, dia adalah Revan. Karakter utama dalam cerita ini.
***
"Kenapa kepalaku mendadak sakit? Ada apa ini? " Gumam Revan saat merasakan kepalanya yang mendadak terasa sakit.
Cukup aneh jika terjadi secara tiba tiba mengingat dia sedang tidak dijadikan percobaan atau disiksa. Tapi kenapa? Apa alasannya? Apa mungkin karena Raile? Itu mungkin saja. Apa Raile baik baik saja?
Revan menarik nafas panjang. Ia sedikit memijat pelipisnya untuk sedikit menghilangkan rasa sakit itu. Pikirannya tertuju pada pemuda ber iris gold yang merupakan saudaranya itu. Sejak dulu ikatan batin mereka memang cukup kuat, jadi tak heran jika terkadang mereka bisa saling mengetahui kondisi satu sama lain.
Walau itu, Revan cukup merasa khawatir mengingat apa yang dia alami selama ini. Semua siksaan dan percobaan itu... Apa Raile juga merasakan nya?
Krek..
Terdengar suara pintu terbuka dan seorang pria berpakaian putih dengan sedikit corak kuning dan kacamata kuning cerah memasuki ruangan itu. Ya dia adalah Sein. Pria yang bisa dikatakan super narsis.
Revan sempat berfikir untuk apa Sein datang kemari? Tapi seketika Revan mengingat sesuatu. Saat mengambil data itu. Sein yang melihat tindakan Revan bukannya mencegah atau melaporkannya pada Avren tapi justru membiarkannya. Bukankah itu aneh?
Apa dia merencanakan sesuatu atau ada hal lain yang menjadi penyebab dia melakukan itu? Kasihan padanya? Rasanya bukan karena itu. Bisa iya bisa juga tidak. Atau mau membunuhnya? Revan mulai berpikiran macam macam tentang pria itu.
Sein berjalan mendekati Revan "Bagaimana kondisimu sekarang? " Dan sekarang dia justru menanyakan kondisi nya?
"Tak terlalu baik. Mau apa kau kemari? " Jawab Revan dengan nada datar.
Anak ini... Apa dia tak bisa bersikap lembut sedikit saja? "Kau mengenal salah satu dari mereka? "
Memalingkan muka. "Ya"
Sein memajukan tangannya mendekati Revan yang jelas langsung ditepis oleh pemuda ber iris ruby itu.
"Apa kau tak bisa lembut sedikit? " Ucap Sein sedikit kesal.
"Untuk apa aku lembut pada orang orang seperti kalian?! " Cetus Revan sambil menatap tajam.
Sein menghela nafas. "Tenanglah aku hanya ingin membantumu"
Tunggu sebentar, membantu? Bukan membantu menghilangkan penderitaan nya dengan membunuhnya kan?
Sein memegang leher Revan, tepatnya pada kalung yang ia gunakan lalu entah apa yang pria itu lakukan pada Revan tapi entah kenapa pemuda ber manik ruby itu merasa bisa percaya pada Sein.
Tak lama kemudian Sein selesai mengotak atik kalung itu dan menepuk pundak Revan.
__ADS_1
"Selesai. Aku sudah mengubahnya. Tegangan listriknya sudah ku perkecil dan itu akan memudahkan mu untuk pergi." Tak cukup sampai disitu, Sein juga melakukan sesuatu pada rantai rantai yang mengikat tangan dan kaki Revan. Kini pemuda ber iris ruby itu bisa pergi dengan bebas.
Tapi... Tentu tak semudah itu mengingat penjagaannya. Setidaknya ini sedikit mempermudah nya.
"Aku juga sudah mengubah kendali sistemnya. Maaf belum bisa melepas atau menghancurkannya karena itu bisa mengancam nyawamu dan Avren bisa tau tentang ini. Tapi setidaknya ini membantumu untuk kabur kan?"
Revan masih terdiam. Apa maksudnya semua ini?.
"Kenapa kau membantuku? " Tanya Revan
Sein duduk di samping Revan. Dirinya sedikit menghela nafas dan membetulkan letak kacamatanya. "Aku anggota Shadow Agen. Sudah tugasku untuk membantu kan? Sebenarnya aku cukup kasihan padamu dan anak anak yang lain karena menjadi korban. TapiĀ aku tak bisa langsung bertindak karena itu bisa membongkar identitas mu sebagai mata mata dari Shadow agen"
Revan sedikit terkejut "Tunggu, kau ada di pihak mereka? Tapi bagaimana bisa? Sejak kapan? "
"Sejak awal aku datang ke sini lah. Aku ditugaskan agen Raka untuk menjadi mata mata di sini dan mencari sebanyak mungkin data." Sedikit bergaya. "Ya... Bisa dibilang akulah yang membantu menggagalkan rencana mereka. " Ucap Sein sambil mengedipkan mata.
"Lalu tujuanmu... Hanya untuk membantuku bebas begitu? " Revan menghela nafas "tapi selama kalung ini belum dilepas cukup sulit bukan? "
Sein tersenyum. Memang benar dan kalo Revan pergi dari markas ini jelas Avren akan langsung membunuhnya. Walau tegangan listrik nya sudah diperkecil, tapi itu tidak menghilangkannya dan jika dilakukan terus menerus sama saja nyawa Revan masih terancam.
Jika begitu sedikit perubahan rencana. Apa yang bisa membantu Revan untuk bebas tapi tak tersiksa?
"Sein? Kau baik baik saja? " Tanya Revan sekali lagi.
"Ah iya!! Sementara ini mungkin itu cukup!!! " Seru Sein tiba tiba..
"Cukup apanya? "
"Revan! Bagaimana jika kau bergabung dengan Shadow Agen saja? Walau tak lama, aku bisa membantumu menghindari Avren. Sebagai orang terpercayanya, bisa saja Avren mendengarkan ku dan aku akan mengalihkannya saat kau menjalankan misi atau berada di markas Shadow Agen." Ucap Sein dengan senyuman lebar. "Jadi bagaimana? Kau mau? "
Hanya sebentar ya? Dia agak ragu. Apa bisa? Tak ada salahnya bukan? Tapi... Jika begitu dia akan lebih sering bertemu dengan Raile. Apalagi Raile yang memiliki dendam padanya apa mungkin?
"Tapi kau tau kan hubunganku dan Raile? "
Mendengar itu Sein sedikit berfikir. Benar juga... Sein juga sering mendengar tentang hal itu. Alasan kenapa Raile membenci Revan dan bagaimana mereka saat bertemu. Sudah jelas akan menjadi masalah jika mereka sering bertemu. Bukannya menjalankan misi, malah bisa jadi adu jotos mereka.
"Aku bisa bicarakan dengan agen Raka. Mungkin kau bisa menjalankan misi secara diam diam. Maksudku kau tetap menjalankan misi tanpa sepengetahuan Raile"
"Main kucing kucingan gitu? "
Sein menyeringai "iya~ jadi, kau terima tawaran untuk menjadi agen?"
__ADS_1
Revan sempat berfikir sejenak. Ini bisa menjadi langkah pertamanya untuk memperbaiki hubungannya dengan Raile dan mengembalikan keakraban dan kebahagiaannya seperti dulu lagi. Baiklah, tak ada salahnya.
"Ya baiklah aku terima. " Ucap Revan pada akhirnya.
"Bagus! Dan jangan lupa panggil aku 'pangeran Sein yang tampan' saat di sana ya?! " Ucapnya
"Untuk itu aku tak bisa"
"Eh? Kenapa? "
"Mukamu standar. Gayamu saja yang terlalu berlebihan." Ucap Revan dengan nada datar.
Seketika seperti ada kaca pecah dan panah beracun menusuk hatinya. Standar? Orang setampan dirinya dia katakan standar? Standar? Standar? Standar? Yang benar saja!!! Sabar Sein... Sabar... Tapi tak bisa!!!
Cetak!
"Aduh! Apa apaan ini?! " Keluh Revan saat Sein tiba tiba memukul kepalanya.
Sein mendengus kesal. "Itu akibatnya mengatakan orang se tampan aku standar. Huh! " Sein memalingkan muka sambil menggembungkan pipinya. Sikapnya benar benar seperti anak kecil. Ya ampun... Berbeda sekali dengan Sein yang dia kenal selama ini?
Revan tidak marah dan hanya menghela nafas melihat itu. Entah kenapa dirinya merasa tenang dan nyaman ada di dekat Sein. Ya, walau tak se tenang dan se nyaman ada di dekat saudara atau keluarga nya sendiri sih...
Sein bangkit dari duduknya. "Baiklah, aku harus pergi sekarang. Jika Avren melihatku disini, apalagi mengobrol denganmu dia pasti akan memenggal kepalaku. " Revan hanya mengangguk. Setelah itu Sein pun berjalan keluar. Namun saat hendak membuka pintu...
"Sein, um... Terimakasih bantuannya" Ucap Revan dan langsung memalingkan muka.
Sein tersenyum. "Sama sama. Dasar tsundere. " Ucapnya sambil membetulkan letak kacamatanya dan mengedipkan sebelah matanya.
Revan yang mendengar itu " ... " Apa Sein bilang tadi? Woy!!! Ia tak tsundere lah!!!
Tapi seulas senyuman muncul di bibir Revan. Titik terang telah terlihat dan harapannya semakin luas. Inilah jalan awalnya untuk kembali ke jalan yang benar.
Memulai kehidupan yang mungkin akan lebih baik. Disinilah kisahnya yang sebenarnya akan dimulai. Sebagai anggota Shadow Agen yang akan mulai menentang dan mengalahkan Avren. Menghancurkan organisasi mafia ini dan mengakhiri percobaan manusia yang mereka lakukan.
"Sepertinya akan lebih menyenangkan mulai dari sekarang" Gumam Revan.
"Atau justru sebaliknya. Hey tak tau apa yang akan menantimu setelah ini"
Tak menjawab. Dia hanya mengabaikan suara yang kadang membuatnya kesal itu.
TBC
__ADS_1