
"Aku dapat laporan telah terjadi ledakan di gedung tua yang tidak lagi di gunakan. Beberapa tembakan juga terdengar dari sana, dan bukan hanya sekali dua kali. Apa... Kalian tau tentang itu?"
Agen Raka menatap tajam. Keduanya tampak terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Di mana kalian saat itu?"
Atmosfer di ruangan itu seakan memberat seketika. Senior mereka saat itu masih memberikan tatapan tajam. Dari pertanyaan nya seakan dia memang tau kemana mereka pergi, bahkan mengetahui kejadian itu.
Semua kata seakan lenyap, kedua pemuda itu tidak bisa memikirkan jawaban yang tepat.
Kadang mereka berfikir jika senior mereka itu bisa membaca pikiran. Namun sepertinya itu tidak mungkin.
Sementara itu, waktu terus berjalan. Mereka tentu tak bisa membiarkan Revan dan lain nya terlalu lama menunggu. Tapi bagaimana cara nya lepas dadi pertanyaan Agen Raka yang sudah seperti mengintrogasi tersangka yang melakukan tindak kejahatan saja?
"Kalian pasti tau tentang itu bukan?"
"Maaf, kami tidak bermaksud menyembunyikan nya. Kami hanya berusaha menangkap para anggota Dark Devil itu." Ujar Riz mencari alasan. Walau memang yang di katakan nya tak sepenuhnya salah sih...
"Jadi begitu... Lalu kenapa tidak langsung melapor? Kami juga akan memberikan bantuan. Atau... Ini hanya alasan kalian untuk bertemu dengan mereka?"
"Tidak. Mana mungkin kami sengaja bertemu dengan mereka." Sangkal Raile.
Agen Raka tampak menghela nafas. Ekspresi nya yang tadinya terlihat keras dan penuh tekanan sembari menatap tajam mereka, kini melunak.
"Baiklah, untuk misi selanjut nya, kalian tetap harus melapor setelah melakukan hal seperti itu. Atau setidaknya meminta bantuan saat terdesak. Kalian tau kalian merahasiakan identitas kalian di sini. Jika terjadi sesuatu nanti, bagaiman kami menjelaskan nya pada keluarga kalian?"
__ADS_1
"Jadi, jangan nekat. Tidak semua masalah harus kalian tanggung sendiri." Ujar agen Raka.
"Baik. Kami minta maaf. Untuk selanjutnya, kami akan melaporkan nya." Ujar Raile akhirnya, di susul oleh anggukan Riz.
"Oh ya, Ice mencari kalian tadi. Dia meminta kalian datang ke ruang latihan. Entahlah, mungkin ada yang ingin dia bicarakan atau tunjukkan." Ujarnya.
Raile dan Riz saling bertatapan bingung. Ada apa sampai Ice memanggil mereka begitu?
"Baiklah, jika begitu kami permisi dulu."
Agen Raka mengangguk, dan kedua pemuda itu berjalan ke luar menuju ruang latihan, tempat Ice sudah menunggu mereka.
Dalam hati mereka heran, kenapa Ice meminta mereka datang ke ruang latihan. Apa Ice akan melatih mereka bela diri?
Sepertinya tidak, Ice bukanlah tipe orang yang suka berolahraga, atau melakukan kegiatan fisik lainnya. Walau Raile tau bagaimana Ice di baliknya, tapi tetap saja, itu tak akan mengubah kebiasaan nya yang pemalas.
Raile dan Riz langsung menatap datar.
Sudah ku duga...
Keduanya berjalan mendekat hendak membangunkan pria berjaket biru muda yang tertidur pulas itu.
"Siram air aja kali ya? Biar langsung bangun." Ucap Riz.
"Oi nggak sopan. Kau mau di hajar habis habisan karena melakukan itu?"
__ADS_1
Riz menggaruk belakang kepala nya yang tak gatal. "Maaf maaf, cuma bercanda kok."
Raile berjongkok hendak membangunkan, namun secara tiba tiba tangan nya justru di tarik dengan cepat, membuat nya langsung terkejut.
"Huwa!!!" Jerit nya.
Saat itu juga, seketika Ice terbangun. Ia tampak memandang Raile sekilas dan memalingkan wajah nya sambil melepaskan genggaman tangan nya pada Raile.
"Jangan mengejutkan ku seperti itu. Ku kira kalian penjahat tau!" Omel Ice yang ketenangan tidur nya di ganggu.
"Maaf kami nggak sengaja. Lagian... Mana aja penjahat seganteng aku." Ujar Riz sambil bergaya.
"..."
"Baiklah langsung saja, aku sempat mendengar ucapan Avran yang sudah memulai rencana nya. Bahkan Thory pun sudah di persiapkan." Ujar Ice serius, membuat keduanya langsung terkejut.
Jika begini waktu mereka tidak lama lagi. Jika begini, mereka harus secepat mungkin mencari informasi tentang Thory dan membantu Revan dan lainnya.
"Thory pun sudah mulai menunjukkan kekuatan nya. Jika begini akan berbahaya."
"Gimana pun kita harus cari tau kelemahan nya." Ujar Raile di sambung Riz.
"Tapi sebelum itu..." Riz memandang Ice dengan raut wajah yang cukup sulit di tebak. "Kenapa memanggil kami ke ruang latihan? Aku yakin kak Ice nggak bakal latihan juga." Lanjut Riz.
Tepat sasaran.
__ADS_1
Ice menghela nafas. "Biar gak ada yang ganggu. Selain itu... Kita juga harus mulai bergerak kan?"