
JLAZZ!
Hanya dengan satu tebasan, kepala pria itu terpotong, menggelinding dari tubuh nya. Darah mengalir deras membasahi jalanan, membentuk genangan di sana. Tapi bukannya merasa jijik, justru seringaian semakin lebar tercetak di wajah Revan.
"Hahahahah!! Inilah akibatnya jika berani bermain main dengan ku." Revan menjeda ucapan nya. "Sekarang, siapa yang akan menjadi target ku selanjut nya?"
'Cukup.'
Setelah itu, rambut Revan kembali berubah warna seperti semula. Tangan nya refleks memegang kepala nya yang mulai berdenyut sakit.
"Harusnya aku tak membiarkan mu..." Gumam Revan pelan.
Flashback on
"Seingat ku Riz bilang bekerjasama dengan salah satu anggota Dark Devil. Mungkin aku bisa meminta bantuan nya juga."
"Tapi aku gak punya nomor nya. Selain itu aku juga kekurangan info tentang nya."
"Sepertinya dia bisa."
Saat itu Revan tidak benar benar tertidur. Dalam diam, ia mendengarkan semua yang Raile katakan. Bahkan sampai merencanakan semua itu, apa memang Raile benar benar tulus kali ini?
'Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan.'
Revan masih belum bisa mempercayai Raile sepenuhnya. Ia bahkan masih belum bisa mengingat kenangan di antara mereka.
'Hey, jadi mang benar dia kakak ku?' tanya Revan pada sosok itu.
'Aku malas mengatakan nya, tapi ya. Hanya... Perlakuan nya selama ini pada mu jauh dari kata pantas untuk di sebut sebagai kakak. Kakak macam apa yang berusaha membunuh adik nya sendiri.'
__ADS_1
Revan hanya terdiam. Jika di pikir pikir memang cukup kejam, tapi bagaimanapun itu, Raile tetap kakak nya. Mendengar sosok itu mengatakan hal itu tentang saudara nya, membuat Revan cukup kesal juga.
Tapi jika nekat menghancurkan bahkan sampai akar dari organisasi mafia itu, bukan hanya kalah dalam jumlah, kemampuan Avren juga jauh di atas nya. Bukannya itu sama saja mencari mati?
'Jika begitu tetap saja ada kemungkinan dia dalam bahaya kan?'
'Itu sudah pasti sih.'
'Aku harus mencegah nya.'
'Tunggu! Ingat kondisi mu. Lagipula sudah jelas dia akan melarang mu lah. Biarkan aku mengendalikan mu, itu akan lebih mudah untuk mu nantinya.'
Revan ragu. Ia tak ingin makhluk itu mengendalikan dirinya. Walau kepribadian nya sekalipun, tetap saja ia tak ingin dirinya dikendalikan orang lain.
Tapi... Mengingat dirinya juga masih belum pulih, sepertinya tidak ada cara lain bukan?
"Sepertinya kau mulai memikirkan nya ya..." Revan terkejut. Ia benar-benar tidak sadar ada orang lain di sana. Ia tau Raile sudah pergi, jadi yang Revan kira ia sendirian sekarang. Tapi tanpa ia sadari ternyata ada orang lain.
"Darimana kau tau semua itu?" Tanya Revan.
"Aku mendengarnya. Sedari tadi aku sudah ada di depan pintu. Jelas aku dengar lah"
Rupanya... Oke, untuk kali ini Raile benar benar kurang hati hati sampai apa yang dikatakan nya di dengar dua orang seperti ini.
Revan bangun dari tidurnya. "Aku akan menolong nya."
Namun dengan cepat Sein langsung mencegat tubuh pemuda itu. Dalam kondisi nya yang sekarang, tidak mungkin ia biarkan anak itu keluyuran sendiri kan? Apalagi menantang bahaya seperti ini.
"Kau lihat sendiri kondisi mu kan?"
__ADS_1
"Jangan halangi aku."
Sein terdiam. Kilatan listrik mulai memercik dari tubuh nya. Lebih baik ia tak mencegah nya jika masih mau selamat.
"Baiklah baiklah. Tapi aku akan tetap mengawasi mu. Okey?" Ujar Sein. Tetap saja ia tak bisa meninggalkan Revan sendirian.
"Terserah."
"Oke. Tapi sebelum itu, Riz dan Rei juga belum kembali. Mereka sedang menjalankan misi sekarang."
Revan terdiam. Entah mengapa perasaan nya tidak enak.
"Jika begitu kita cari mereka dulu." Ucap Revan yang langsung ditanggapi anggukan mantap dari Sein.
Flashback off
Revan memegang kepala nya yang masih berdenyut sakit. Pandangan nya sedikit mengabur membuat nya mulai kehilangan keseimbangan. Sepertinya ia terlalu banyak menggunakan kekuatan nya sekarang. Tubuh Revan melemas dan nyaris jatuh ke tanah jika saja Sein tidak langsung menangkap nya.
"Hey kau baik baik saja? Lebih baik kembali ke rumah sakit saja. " Ucap Sein sambil menatap cemas.
Bagaimana tidak? Melihat wajah pucat itu tentu membuat nya khawatir.
"Tidak... Mungkin saja Raile dalam bahaya." Tolak Revan.
"Tapi.... "
"Tolonglah."
Sein tidak malas. Ia memandang tepat pada iris merah pemuda itu. Terlihat jelas kekhawatiran dan tekat di dalam nya. Seulas senyuman tipis terukir di wajah Sein.
__ADS_1
"Baiklah."
TBC