Shadow Agen

Shadow Agen
Foto yang mengungkap fakta


__ADS_3

Hembusan nafas kesal dilepaskan oleh seorang pemuda bermanik gold yang kala itu sedang duduk di kursi meja belajar kamar nya. Di hadapan nya terdapat buku dan alat tulis tanda jika ia sedang mengerjakan tugas sekolah nya.


Namun, netra gold itu justru terarah ke tempat lain. Tepatnya bulan yang bersinar terang di angkasa, bersama dengan para bintang yang berada di sekelilingnya, bagaikan prajurit yang menjaga sang ratu malam.


"Kemana lagi tuh anak. Dia bilang mau ambil barang tapi malah pergi entah kemana. Bahkan sampai bolos juga dan sekarang juga belum pulang. Awas saja kalo pulang ke rumah nanti, gak bakal ku ampuni!" Umpat Raile. Ia kesal dengan tingkah saudara nya itu. Dalam pikiran nya terselip banyak pertanyaan mengenai kemana saudara nya itu pergi dan apa saja yang dilakukan nya sampai belum pulang hingga jam segini.


Lagi lagi Raile menghela nafas. Ia melihat ke arah jam tangan yang ia kenakan. Sudah hampir tengah malam, tapi pemuda bermanik biru itu masih belum menunjukkan tanda tanda akan pulang.


Dalam hati ia merasa cemas dengan saudara nya itu. Apa yang dia lakukan sampai belum pulang selarut ini? Bahkan pesan yang ia kirim pun masih belum di balas. Dibaca saja belum, sungguh menyebalkan.


Raile mencoba menelfon nya lagi, berharap pemuda itu akan menjawab. Namun hasilnya sia sia. Sepupunya yang masih tidak menjawab.


Raile melempar handphone nya ke kasur, lalu menjatuhkan tubuhnya di kasur yang sama. Ia merasa kesal. Entah mengapa ia merasa ada yang saudara nya itu sembunyikan darinya.


Raile menghela nafas dan memejamkan mata nya. Ini sudah terlalu larut. Lagipula ia masih harus bersekolah besok.


*********


Matahari pagi bersinar menerangi bumi. Membuat orang orang terbangun dan bersiap untuk melakukan segala aktifitas mereka. Tak terkecuali pemuda bermanik gold yang kala itu sudah siap dengan seragam nya.


Ia mendengus kesal. Sepupunya itu masih belum juga kembali. Kemana saudara nya itu pergi sebenarnya?


Entah untuk keberapa kalinya Raile menghela nafas. Ia mengambil seragam sekolah di lemari nya dan mengenakan nya. Kemudian tangan nya bergerak mengambil dasi di lemari nya, namun tanpa sengaja menjatuhkan sebuah kotak dari sana.


"Kotak apa ini?" Gumam Raile. Ia tak mengingat pernah menyimpan sesuatu di sana sebelumnya.


Ia mengambil kotak kayu berukutan kecil itu dan membuka nya. Raile mengangkat sebelah alisnya melihat sebuah kunci yang ada di dalam kotak itu.

__ADS_1


"Kunci? Kunci apa?" Tanya nya. Terdapat simbol petir berwarna merah yang dijadikan sebagai gantungan kunci itu. Simbol yang sama dengan simbol yang ada di pintu kamar yang berada di sebelahnya.


Sebelumnya tidak ada yang menempati kamar itu dan juga tidak ada yang pernah membuka nya. Ia pernah bertanya pada kakek nya tentang pemilik kamar itu, tapi sang kakek tidak menjawab nya.


Sepertinya tak masalah kan kalo sedikit mencari tahu?


Raile melangkahkan kakinya keluar kamarnya, lalu berjalan mendekati kamar yang ia tuju. Entah kenapa ia sedikit takut untuk membuka nya. Tapi sayangnya rasa penasaran nya jauh mengungguli rasa takutnya sekarang.


Ia memasukkan kunci yang ia temukan. Ternyata memang cocok. Lalu perlahan membuka nya.


"Gelap..." Raile berjalan masuk dan menekan saklar lampu di dinding. Ia sedikit terkejut saat melihat barang barang di dalam nya. Semuanya serba merah hitam. Bahkan warna cat ruangan itu pun juga. Sepertinya pemilik ruangan ini sangat menyukai warna merah dan hitam.


Ia berjalan membuka jendela ruangan itu. Membiarkan hembusan angin segar masuk mengisi ruangan. Namun entah mengapa ia merasa tak asing dengan kamar itu. Dilihat dari suasana dan barang barang di dalamnya, ia seakan mengenal semua itu.


"Apa aku pernah ke sini sebelumnya?" Tanya Raile pada dirinya sendiri.


Namun, saat melihat iris ruby yang dimiliki anak itu, satu nama yang langsung terlintas di kepala nya. "Revan.." Gumam Raile.


"Ah tidak! Tidak mungkin... Jika begini apa mungkin dia saudara ku? Tidak. Pasti yang di maksud orang lain, bukan Revan! " Raile mencoba menyangkal. Ia kembali meletakkan foto itu. Ia melihat lihat benda di sekitarnya. Ada beberapa foto juga yang terpajang di dinding. Namun, kebanyakan foto anak itu dan dirinya.


"Siapa sebenarnya anak itu?"


Raile membuka laci meja belajar nya. Di dalam nya terdapat buku diary yang cukup kecil dan sebuah album. Raile mengambil diary itu dan malekatakan nya di dalam saku celana nya.


Kini ia beralih mengambil album dan membuka nya. Di lembar pertama terdapat foto seluruh keluarga nya. Bahkan kakek nenek nya juga ada di sana. Begitu juga dengan anak itu dan dirinya.


Raile memegang kepala nya yang terasa sakit. Kilasan kilasan kabur mulai bermunculan di kepala nya. Tapi rasa penasaran membuatnya terus bertahan, ia membuka lembaran berikutnya. Memang benar, kebanyakan foto dirinya dan anak itu. Sedekat itukah dirinya dengan anak itu dulu?

__ADS_1


Raile kembali membalik lembaran album itu. Namun, saat itu juga ia membulatkan mata. Tepat di samping sebuah foto dirinya yang berada di sebuah taman dengan bunga bunga mawar peach yang mengelilingi nya, tertulis sebuah catatan kecil di sana.


'Kak Ile sangat suka bunga mawar peach. Aku akan membelikan nya sebagai hadiah ulang tahun untuk nya.'


"Jadi itu bukan mimpi, tapi kilasan masalalu? Jadi anak ini benar-benar adik ku? Tapi... Bagaimana bisa aku melupakan nya..."


Lembaran berikutnya di buka, dan itu tepat pada hari ulang tahun nya. Di lokasi yang sama seperti dalam mimpi nya, saat anak itu memberikan sebuah kuncup bunga pada nya.


Terdapat catatan kecil juga di sana yang bertuliskan


'aku senang Raile menyukai nya!


-Revan'


Raile mematung di tempat. Sebuah fakta yang cukup mengejutkan baginya. Jadi, orang yang selama ini ia benci dan ia harap lenyap dari dunia ini adalah adik kandung nya sendiri?


Tapi bagaimana bisa ia tak mengingat sedikitpun tentang nya?


"akh..." Raile meringis menahan sakit sambil menegang kepala nya. Ia mencoba untuk menahan rasa sakit di kepala nya saat itu.


Mengetahui fakta yang di sembunyikan dari nya. Raile sempat berfikir, kenapa keluarga nya tidak pernah memberitahu sedikitpun tentang adik kandungnya itu? Apa hanya dirinya yang tidak mengetahui tentang ini?


"Pasti bohong... kan? tidak mungkin mafia itu saudara kandung ku sendiri. Kenapa tidak ada yang memberitahu ku tentang ini? Kenapa... semua merahasiakan nya?" gumam Raile kesal.


Ia kesal pada dirinya sendiri, dan juga kesal karena semua orang menyembunyikan fakta ini darinya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2