
"Hey bocil! Sampai kapan kau mau di sana hah?" Ujar seorang pria ber iris jingga yang baru saja masuk ke ruangan itu. Baru masuk langsung ngomel. Jelas lah... Siapa juga yang gak ngomel kalo lihat anak kecil di ruangan nya duduk di kursi nya sambil sambil memangkas bunga yang entah sejak kapan ada di sana. Ruangan yang seharusnya menjadi ruangan pribadinya justru jadi seperti taman sekarang.
Mendengar itu, seorang pemuda bermanik hijau zamrud itu menoleh. Saat ini ia sedang merapikan bunga mawar hitam di sebuah pot yang ia letakkan di atas meja dan memotong beberapa cabang yang sudah terlalu panjang.
"Kau lihat kan pak tua, aku belum selesai. Kalo aku dah selesai aku bakal pergi kok." Ujarnya santai dan melanjutkan kegiatan nya.
"Tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan? Dan jangan panggil aku pak tua!" Protesnya sambil mendudukkan dirinya di sebuah sofa tak jauh dari pemuda itu. Dirinya belum setia itu tau.
"Kau sendiri memanggilku bocil, Avren. Apa gak boleh aku balas?"
Avren berdecak kesal. "Ya gak lah. Aku lebih tua dari mu."
"Nah kan ngaku lebih tua. Jadi gak salah dong aku panggil pak tua."
"..." Avren bungkam dengan ucapan pemuda bermanik zamrud itu. Terkadang kenyataan memang pahit. Sepahit kopi tanpa gula. Tapi tetap saja ia tak Terima jika terus di panggil pak tua seperti itu!!
Thory, pemuda itu, hanya terkekeh saat melihat pria yang lebih tua dari nya itu terdiam karena ucapan nya. Namun ia menghentikan kegiatan nya saat mengingat sesuatu yang penting "Oh ya, bagaimana kabar si merah itu?"
Avren menoleh. Ia tau jelas siapa orang yang Thory maksud. "Kau tau sendiri kan? Sulit untuk mendapatkan nya lagi sekarang."
"Kau memang bodoh ya... Masa menjaga kelinci percobaan kecil seperti itu saja tidak bisa." Ucap Thory dengan nada remeh sambil memainkan tangkai mawar yang baru saja di potong nya.
"Masih ada cara untuk membawanya kembali. Kaunya saja yang gak becus."
Ingin rasanya Avren mencekik leger pemuda itu dan menjahit mulutnya. Sayangnya ia tak bisa melakukan itu. Sungguh menyebalkan mendengar kata kata tajam nya yang mungkin sama tajam nya dengan duri mawar itu sendiri. Ia heran, anak siapa sih ini?
"Selain itu, kau pasti tidak tau jika si emas itu mulai bergerak sekarang."
Avren mengerenyitkan dahi nya. " Si emas? Siapa yang kau maksud?"
"Siapa lagi, kalo bukan Raile. Kakak dari kelinci percobaan kita."
Ya, Avren mengingatnya sekarang. Pemuda anggota Shadow Agen itu, dan juga alasan Revan bertahan sampai sekarang.
"Bukannya kau sudah merencanakan untuk membunuh orang itu?" Tanya Avren mengingat rencana yang telah pemuda itu buat.
Thory mendudukkan dirinya di atas meja, memasang pose berfikir sambil menggoyang goyangkan kakinya. Lalu ia tersenyum manis ke arah Avren. "Tentu aku akan membunuh nya dengan caraku!" Ujarnya dengan nada ceria. Tak lupa dengan senyuman manis yang membuat pemuda itu terlihat begitu menggemaskan!
Ya... Menggemaskan, jika saja niatnya sama menggemaskan nya dengan wajahnya. Tapi sayang nya, apa yang Thory rencanakan justru berbanding terbalik dengan sikap nya.
__ADS_1
"Lakukan dengan cepat. Atau Dark Devil akan hancur lebih dulu."
"Santai santai... Aku akan melakukan nya kok!" Senyuman Manis Thory seketika berubah menjadi seringaian. "Dengan permainan yang menyenangkan tentunya."
******
Siang hari telah di gantikan oleh malam yang gelap dengan bulan dan bintang yang menjadi penghias langit hitam di atas sana. Lampu lampu kota mulai menyala membuat suasana malam Delaria City terlihat indah.
Tapi, sebagai kota dengan tingkat kriminal yang cukup tinggi, tentu berbahaya untuk berkeliaran saat malam di kota itu. Bukan hanya pencuri, penculik, begal, berandal atau para geng motor saja, tapi pembunuh bayaran pun turut berkeliaran di kota itu.
Tapi ini tentu tak menjadi halangan untuk Raile menjalankan aksinya. Sebagai anggota agensi, sudah tugasnya melindungi Delaria city dari para kriminal di kota itu. Hanya saja, tugasnya kali ini adalah menghancurkan langsung pada akar dari semua kriminal itu. Organisasi mafia terbesar di Delaria city, Dark Devil. Dan menghentikan percobaan gila yang mereka lakukan.
Tekat nya sudah bulat sekarang, tidak ada lagi yang bisa mencegah nya untuk melakukan itu. Semua ini ia lakukan untuk Revan. Untuk saudaranya yang selama ini ia acuhkan. Yang bahkan ia anggap musuh dan selalu berharap pemuda itu lenyap dari dunia ini.
Tapi sekarang tidak lagi.
Raile menyelinap ke sebuah gedung yang sudah di tunjukkan Ice. Samar Samar ia melihat seniornya itu sudah lebih dulu masuk dari jendela gedung. Kadang ia heran, bagaimana cara Ice melakukan itu tanpa ketahuan?
Namun bukan saatnya untuk memikirkan itu saat ini. Ia mengambil handphone yang ia taruh di saku jaket nya dan menelfon Ice.
"Kak Ice, bagaimana di sana?" Tanya Raile.
"Baiklah."
Di sisi lain, Ice mulai meretas sistem ke amanah dan mematikan semua CCTV di sana agar memudahkan Raile untuk masuk tanpa ketahuan. Ia mengamati sekitarnya. Ada beberapa orang di dalam gedung, sepertinya ia bisa mengurusnya.
Sementara Raile terus menuju lantai tiga, tempat data itu di simpan.
Tap tap tap
Namun seketika ia menghentikan langkah nya dan bersembunyi saat mendengar suara langkah kaki menuju ke arah nya. Dan tepat saja, dua orang pria yang sedang berpatroli di sana menuju ke arahnya. Semoga saja mereka tidak melihatnya di sana. Jika melihatnya akan bahaya!
Tapi untung saja saat ini keberuntungan sedang berpihak ke padanya. Kedua pria itu tak melihatnya membuat Raile dapat menghembuskan nafas lega.
Raile melanjutkan langkahnya bergegas menuju tempat itu. Namun saat menaiki tangga, secara tiba tiba sebuah suara terdengar di kepala nya, membuat pemuda itu terkejut dan nyaris terjatuh karena tersandung.
'Kau yakin ini akan berhasil?'
Suara yang sama saat di rumah sakit kala itu. Namun Raile memilih mengabaikan nya untuk saat ini. "Aku yakin akan berhasil. Jangan ganggu aku." Jawab nya pelan.
__ADS_1
Raile membuka sebuah ruangan dan langsung menuju sebuah komputer di sana. "Baiklah. Hanya perlu menyalin dan menghancurkan data nya bukan?"
Dengan cepat ia langsung mengotak atik komputer itu dan menyalin data di sana.
Namun secara tiba-tiba handphone nya berdering membuatnya terkejut. Sungguh, kalo mau menelfon orang itu bilang bilang dulu, kalo gini kan buat kaget. Gimana kalo seandainya dia teriak dan justru ketahuan? Sungguh menyebalkan.
"Raile, bagaimana? Apa sudah selesai? Mereka mulai berdatangan." Ujar Ice dari sebrang telefon.
"Iya, aku sudah selesai. Aku akan keluar sekarang."
"Tunggu!!"
Raile yang baru saja hendak mematikan telefon nya menghentikan tangan nya.
"Kau membawa bom nya kan? Hancurkan ruangan itu sekalian."
Raile membulatkan matanya. Bukannya itu justru akan membuat mereka ketahuan?
"Kak Ice bercanda?"
"Tidak. Itu akan menghapus semua data nya. Aku juga sudah memutus koneksi dengan Dark Devil. Jangan setengah setengah dong... Biar seru."
Raile hanya terdiam dan menatap datar. Biar seru katanya?
"Baiklah... " Ya, lebih baik menurutinya saja. Raile mengeluarkan sebuah bom kecil yang ia simpan di saku nya dan menaruhnya di bawah meja lalu mengatur waktu dan mengaktifkan nya.
"Baiklah, saatnya keluar dari sini." Ucap nya dan bergegas keluar.
Tak lama setelah Raile berhasil keluar dari gedung itu, sebuah ledakan besar terjadi dan kebulan asap membumbung tinggi dari salah satu ruangan di gedung itu.
Raile berharap tidak ada korban jiwa. Walau ia membenci para mafia itu, tapi ia masih memiliki sisi kemanusiaan yang membuatnya merasa tidak tega juga jika para mafia di dalam harus kehilangan nyawa karena itu.
Yah, setidaknya misi nya berhasil kali ini
Tapi ini baru awalnya saja.. Ia masih harus menghancurkan data data lainnya dan menghancurkan organisasi itu.
.
TBC
__ADS_1