Shadow Agen

Shadow Agen
Maaf


__ADS_3

Derap langkah terdengar di koridor yang kala itu cukup ramai. Pemuda bermanik emas itu terlihat cukup tergesa gesa berjalan cepat mencari keberadaan seseorang yang seharusnya ada di tempat itu sekarang.


"Dimana Ren? " Tanya Raile pada Sein yang baru saja lewat.


"Woy woy sabar bro... Baru datang langsung tanya gitu bikin kaget tau!" Omel Sein. Namun Raile tak mempedulikan itu. Ada hal yang lebih penting baginya sekarang.


"Di mana Ren? Aku perlu bicara dengan nya. Dia sudah kembali dari rumah sakit kan?" Itu sudah jelas.


Melihat ekspresi dan tatapan Raile sepertinya ada hal penting yang ingin pemuda itu bicarakan. Atau sekhawatir itu dirinya dengan Ren? " Mungkin di atap? Biasanya dia menghabiskan waktu di sana. Cari udara segar katanya."


Raile sedikit terdiam. Itu juga menjadi tempat favorit nya untuk menenangkan diri. Sekuat itukah hubungan mereka?


"Oke terimakasih! " Tanpa buang waktu, Raile langsung berlari ke tempat itu, tak mempedulikan Sein yang masih menatap nya dengan ekspresi bingung.


Banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada pemuda itu. Mengenai kebenaran tentang hubungan mereka, ataupun tentang pemuda itu yang menjadi kelinci percobaan mafia.


Langkah nya semakin cepat menaiki tangga menuju atap. Ia langsung mendobrak pintu menuju atap dengan keras.


Nafasnya tak beraturan dengan keringat yang membasahi tubuh nya. Raile sedikit menundukkan dirinya, mencoba menenangkan diri dan kembali mengisi paru paru nya dengan udara dan menetralkan deru nafas nya.


"Ren!!" Seru Raile saat merasa nafas nya sudah lebih stabil.


Pemuda bermanik mata merah ruby yang kala itu sedang duduk menikmati hembusan angin lantas langsung menoleh. Ia cukup terkejut dengan kehadiran Ren yang begitu tiba tiba.


Ditambah datang bukannya salam, malah main dobrak dan langsung teriak. Siapa yang gak kaget coba?


"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Revan sambil berjalan mendekati pemuda beranik gold itu.


Namun justeru langsung di balas dengan tatapan tajam oleh Raile. Tanpa buang waktu, Raile langsung berlari menuju pemuda bermata merah itu dan melepas topeng yang menutupi wajah nya.


Revan yang terkejut dengan tindakan Raile yang begitu tiba tiba hanya membulatkan mata nya terkejut.


"Ternyata... Memang benar... Kau Revan..." Ucap Raile dan melempar topeng yang ia pegang ke sembarang arah.


Revan masih membeku di tempat. Melarikan diri bukan cara yang tepat untuk saat ini. Sudan jelas ia akan tertangkap. Ditambah lagi dengan penyamaran nya yang terbongkar, jika ada agen lain yang melihat nya, mungkin ia akan di tuduh sebagai mata mata Dark Devil atau penyusup.


"Kau terkejut?" Raile menjeda ucapan nya dan berjalan menuju dekati Revan. "Aku sudah tau semuanya. Kenapa... Kenapa kau menyembunyikan semua ini!"


Mata Revan membulat. Raile sudah mengetahui semuanya? Apa mungkin dia juga sudah tau siapa dirinya yang sebenarnya?


"Aku ingin tanya beberapa hal padamu. Tolong jawab dengan jujur. " Ujar Raile dingin. Revan hanya bisa menghela nafas pasrah.

__ADS_1


"Baiklah." Jawab nya singkat.


Dirinya merasa seperti akan di interogasi saat ini. Dalam pikiran nya terselip pertanyaan darimana pemuda itu tau tentang nya. Apa Rei atau Riz yang memberitahunya?


Raile mengeluarkan sebuah buku kecil dari dalam saku nya dan menunjukkan nya pada Revan. Sekali lagi pemuda itu terkejut karena nya. "Dari mana kau mendapatkan nya?"


"Kamar mu. Kenapa kau tak langsung memberitahu jika kita ini bersaudara?"


"Setiap coba mengingat nya kau kesakitan. Selain itu pertemuan pertama kita tak berjalan dengan baik bukan?"


Ya, kenyataan nya memang begitu. Pertemuan mereka tak berjalan dengan lancar. Bahkan Raile langsung membenci nya karena Revan membunuh sahabat nya.


"Kenapa saat itu kau membunuh Neon?"


"Aku terpaksa melakukan nya."


"Karena di ancam ketua mafia itu?"


Revan mengangguk sebagai jawaban. "Lagipula aku tidak bisa melawan saat itu. Dia memakaikan kaling yang mengalirkan aliran listrik padaku jika aku tak menuruti perintah nya."


"Jadi benar kau di jadikan percobaan oleh mafia itu? "


Lagi lagi Revan mengangguk. Mendengarkan jawaban langsung dari Revan, membuat Raile kehabisan kata kata. Entah ia harus bersikap bagaimana untuk saat ini. Entah penderitaan seperti apa yang Revan alami kala itu.


Revan menghela nafasnya kasar. " Saat kecelakaan itu, hanya aku yang masih sadar. Saat itu aku sedang sendirian dan Avren menghampiri ku." Revan sedikit terkekeh. "Kau tau anak kecil yang sedang ketakutan, ditawari hal menarik oleh seseorang. Pasti akan senang bukan? Dan karena itu... Aku ikut dengan nya. Tapi sayangnya karena itu juga aku... Justru dijadikan sebagai percobaan."


Tangan Regan mengepal kuat. Dirinya kesal harus mengingat masa lalu kelam nya itu. Saat di mana ia selalu di siksa dengan kejam oleh ketua mafia itu. Melihat anak anak lain harus meregang nyawa karena nya...


Jika saja bukan karena Raile, ia pasti juga sudah tiada sekarang.


"Apa hanya kau yang dijadikan percobaan?" Revan menggeleng.


"Ada banyak anak anak seusia ku. Tapi mereka semua... Meninggal karena percobaan itu. Hanya aku dan Rei. Tapi beruntung dia berhasil tertangkap yang juga membuatnya bebas..."


Sesaat Raile terdiam. Setelah mengetahui semua ini, entah apa yang harus ia lakukan. Perasaan bersalah, tapi juga takut muncul di hati nya.


Sepertinya memaafkan nya kali ini bukan lah pilihan yang salah, bukan?


"Maaf..." Ucap nya lirih sambil tertunduk. Tapi masih bisa di dengar jelas oleh Revan.


Raile tidak tau harus berkata apa lagi. Hanya kata kata itu yang bisa keluar dari mulut nya saat ini. Perasaan bersalah terus menguasai nya, mengingat semua yang ia lakukan pada Revan, adiknya sendiri selama ini.

__ADS_1


Ia tak bisa membayangkan perasaan bersalah Revan saat terpaksa membunuh Neon, atau saat melakukan tindak kriminal lain.


Ternyata memang benar, tak seharusnya menilai seseorang hanya dari luar. Tapi coba untuk memahami nya secara keseluruhan.


Raile terkejut saat merasakan sentuhan di kepala nya. Ia sedikit mendongak, melihat Revan yang tersenyum pada nya sambil mengusap pucuk kepala nya.


"Tak perlu begitu, seharusnya aku yang meminta maaf padamu, karena tak langsung memberitahukan semua ini."


Raile menggeleng cepat. Ia memalingkan wajah nya. Mata nya terasa panas dan mulai berkata kata.


Tidak. Ia tak boleh menangis di sini...


"Luapkan saja."


Raile langsung menepis tangan Revan saat itu juga. "Tidak! Aku tidak cengeng tau! Kau menyebalkan!" Ucap Raile, tapi justru membuat Revan tertawa.


Sungguh, melihat Revan seperti itu cukup menggemaskan juga.


Revan menghembuskan nafas lega. Ia senang bisa bersama kakak nya lagi.


Ia senang akhirnya Raile mengetahui tentang dirinya.


Ia senang, harapan nya selama ini tak sia sia.


Tapi, tak ada yang tau apa yang akan terjadi. Tak ada yang tau bagaimana takdir akan berjalan, dan kemana semesta akan membawa mereka kali ini.


Di saat hubungan membaik, tidak semestinya semuanya akan terus berjalan lancar.


Revan menyipitkan mata nya. Tanpa sengaja ia melihat seseorang yang sedang mengintai mereka dari jendela sebuah gedung. Tidak, ada lebih dari satu orang.


Sementara Raile yang melihat perubahan ekspresi Revan, mengerenyitkan dahi nya. "Ada apa?"


Revan tak menjawab. "Awas!" Dengan cepat ia mendorong tubuh Raile, membuat pemuda itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


DAR!


Raile membulatkan mata nya. Darah menciprat mengenai wajah nya. Seakan gerakan melambat, detik detik saat sebuah peluru melesat menembus kepala sang adik terlihat begitu jelas bagi nya.


Tubuh pemuda itu langsung tumbang dengan darah yang mengalir deras dari kepala nya.


Raile masih membeku, mencoba menghilangkan keterkejutan nya. Namun detik berikutnya, ia langsung berseru panik.

__ADS_1


"REVAN!!"


TBC


__ADS_2