
"Bukan nya tuan Avren sudah bilang jangan sakiti dia? Jika tuan Avren tau nanti dia bisa marah."
"Maaf aku terpancing emosi tadi."
"Baiklah... Pastiin aja aman ya. Target kita bentar lagi datang."
Mendengar itu membuat senyuman Pian kembali merekah. "Baguslah! Aku gak sabar main main dengan mereka." Ujarnya sambil memutar pistol yang di pegang nya.
Sedangkan Raile justru sebaliknya. Takut ia rasakan saat mendengar itu. Ia tau yang dimaksud Pian adalah Revan. Seandainya dirinya lebih berhati hati pasti hal ini tak akan terjadi.
Ia takut Revan kembali menjadi korban karena kecerobohan nya.
Ia takut kali ini akan benar benar kehilangan Revan.
*******
Di depan sebuah gedung tua yang di telantarkan, Revan melangkah kan kaki nya memasuki gedung dengan santai. Sebuah pistol dan belati di sembunyikan nya dengan aman di balik jaket hitam yang ia kenakan.
Tempat itu tampak sepi seakan tak ada satupun orang yang pernah ke sana. Walau tak jauh dari jalan raya, tapi tempat itu sudah di isolasi dengan pagar tinggi sehingga tak ada masyarakat umum yang masuk ke sana.
Tapi tentu itu tidak berlaku untuk para mafia yang menjadikan tempat itu sebagai tempat penyanderaan seorang pemuda anggota Shadow Agen.
Bagi mereka, itu tentu menjadi tempat yang aman untuk meluncurkan aksi mereka.
Revan mengamati setiap tempat di gedung itu. Ia tau Avren pasti akan menyiapkan anak buah nya untuk hal seperti ini.
Revan menghela nafasnya. Kali ini apa lagi yang di rencanakan Avren dan anak buah nya? Apa mungkin juga aksi balas dendam dari dua saudara Saki yang sudah ia bunuh?
Revan terus mencari kedalam gedung itu, memeriksa setiap ruangan mencari keberadaan kakak nya itu. Sampai akhir nya di lantai tiga, di sebuah ruangan tak jauh dari tangga, ia melihat Raile yang sedang terduduk di kursi dengan keadaan tangan dan kaki yang terikat. Tak lupa dengan lakban yang kini menutupi mulut nya.
Raile tertunduk seakan pasrah dengan nasib nya. Kondisi nya saat itu cukup menyedihkan. Ditambah dengan jejak air mata dan pipi nya yang memerah karena di pukul tadi.
Tangan Revan mengepal kuat. Emosi rasanya melihat orang yang ia sayang ada dalam kondisi menyedihkan seperti itu.
"Tega nya mereka melakukan ini pada Rai-"
__ADS_1
Dor!
Dor!
"Aw. Sialan!" Umpat Revan sambil menghindar dari lesatan peluru yang mengarah pada nya.
Di saat yang bersamaan, Erano nampak masuk dari jendela yang terbuka dan langsung bersembunyi di balik sebuah vas bunga berukuran besar.
Revan mengedarkan pandangan nya mencari seseorang yang tadi menembak nya. Suasana menjadi hening sesaat, sampai dari belakang nya, seorang pria keturunan Jepang berjalan mendekati Revan sambil memutar pistol yang ia bawa. Revan berdecak kesal melihat pria itu.
Benar dugaan nya. Tak mungkin juga Avren membiarkan nya datang dan menyelamatkan Raile dengan mudah.
"Sang pahlawan akhir nya datang menyelamatkan tuan putri yang naif ini ya..." Ujar pria itu sambil menunjukkan seringaian nya.
Revan berdecak kesal. Ingatan nya mungkin hilang, tapi ia tetap merasa tak asing tentang pria itu. Terlihat jelas dari tatapan dan seringaian nya, itu tampak palsu, seolah-olah ia terpaksa melakukan nya.
"Jika kau mau menyelamatkan nya, hadapi aku dulu!" Seru Himaki, pria itu sambil menodongkan moncong pistol nya ke arah Revan.
Namun tak ada waktu meladeni nya. Yang perlu ia lakukan hanyalah menyelamatkan Raile dan pergi dari sana secepatnya.
Himaki POV
"Jalankan tugas mu sekarang."
"Baik tuan." Jawab ku lalu mematikan sambungan telepon dengan tuan Avren.
Kali ini aku di beri tugas untuk menghalangi Revan menyelamatkan Raile yang sedang di sandra di sebuah gedung yang sudah di telantarkan.
Entah rencana macam apa lagi yang tuan Avren rencanakan kali ini sampai harus menculik Raile segala. Dengan kemampuan Revan, ujung ujung nya juga dia akan kalah sendiri.
Avran benar-benar menyiapkan pasukan untuk rencana nya kali ini. Tapi... Entah mengapa bukan tim Farel yang di kirim tapi justru tim trio PiGenSai yang di suruh ke sini. Padahal, mereka ini kan hanya anak anak pula!
Aku tak mengerti kenapa tuan Avren sampai segini repot nya, mungkin karena Revan sendiri yang akan datang menyelamatkan saudara nya itu. Ditambah, Revan adalah manusia percobaan yang hampir sempurna.
Tak tak tak...
__ADS_1
Suara langkah terdengar memasuki gedung. Terdengar begitu jelas dan menggema karena tempat ini yang begitu luas namun sunyi.
Aku terus memperhatikan Revan yang berjalan memasuki gedung sambil mencari dimana tempat Raile di sekap. Diam diam aku mengikuti dan memperhatikan nya. Sampai akhirnya dia sampai di tempat Raile di sekap.
Terlihat jelas dari raut wajah nya Revan sangat marah. Jelas lah, siapa juga yang gak bakal marah lihat saudara nya di tahan kaya gitu?
Tapi...
Aku sedikit terdiam. Entah mengapa kejadian ini mengingatkan ku akan kejadian dimana aku kehilangan Hime.
Diam diam aku mengulurkan tangan ku, membidik Revan yang sepertinya masih belum menyadari kehadiran ku, dan langsung menekan pelatuk yang menembakkan peluru ke arah Revan.
Dar! Dar!
Namun sayang, Reflek nya begitu cepat sampai dia berhasil menghindari nya. Padahal sedikit lagi peluru itu akan mengenai lengan nya.
"Sang pahlawan akhir nya datang menyelamatkan tuan putri yang naif ini ya..."
Aku sedikit menyeringai melihat nya. Namun hal lain ku rasakan. Ingatan ku kembali berputar pada apa yang Ice katakan saat itu. Jika di pikir pikir aku seakan melakukan apa yang para penjahat itu lakukan pada keluarga ku dulu.
Namun aku langsung mengalihkan pikiran itu dan kembali berfokus pada Revan yang menatap ku tajam.
"Jika kau mau menyelamatkan nya, hadapi aku dulu!" Seru ku sambil menodongkan pistol ingin kembali menyerang.
Tapi justru Revan kali ini terlihat seakan tak peduli pada ku. Di kacangin itu rasanya lumayan sakit juga ya. Ditambah apa yang ku katakan nggak di gubris begitu.
Revan segera berbalik dan berlari menuju ruangan di mana Raile di tahan. Dengan cepat aku mencoba mengejarnya. Namun,
"Aku mendapatkan mu, bocah!" seru seorang gadis dari arah belakang ku dengan double pistol di genggaman nya. Suasana menjadi sedikit hening, gadis itu menatap ku tajam sambil bersiap menembak ku.
Darr!! Darr!!
"Akh! "Rintih ku, seraya menghindar dari lesatan peluru itu yang berhasil sedikit menggores pipi ku. Rupanya ada orang lain di sana. Kali ini Revan tak sendiri. Disaat yang bersamaan, kulihat Revan langsung mencoba melepas ikatan di tangan Raile. Dan sialnya gadis di hadapanku ini masih tak henti-hentinya melesatkan peluru padaku. Segera saja aku menodongkan pistol ku dan bersiap untuk menembak.
Ah...sepertinya hari ini akan terjadi pertempuran yang panjang
__ADS_1