Shadow Agen

Shadow Agen
Permainan Belum Berakhir


__ADS_3

Matahari semakin rendah turun dari singgasana nya. Jalanan becek karena baru saja turun hujan. Di gang gang sempit samping pertokoan dan rumah rumah warga, tempat yang cukup jarang di datangi oleh orang orang, dua pemuda terlihat mencoba mengatur nafas mereka akibat terus berlari dan menghindar sedari tadi.


Rei menyandarkan tubuh nya pada dinding bangunan sambil menarik nafas dalam, mengisi kembali paru paru nya dengan udara. "Mereka dah gak ngejar kan?" Tanya Rei.


Riz yang menunduk mengatur nafas nya menggeleng memberi jawaban. "Aku gak tau. Kayaknya sih dah enggak."


Keduanya menarik nafas lega. Semoga saja memang sudah tidak mengejar mereka. Terus berlari itu melelahkan tau. Mereka jadi merasa seperti buronan saja. Rencana awal yang seharusnya hanya menggagalkan aksi para mafia itu mencuri informasi agensi cabang, tapi justru jadi aksi kejar kejaran dan harus berhadapan dengan trio menyebalkan itu.


Hanya mereka berdua mengalahkan tiga pria itu apa mungkin? Di lihat dari manapun, selain kalah jumlah, pengalaman mereka juga masih kurang. Setidaknya mereka harus mencari cara lain untuk bisa mengecoh atau mencari celah mengalahkan merek jika tidak mau tertangkap.


Hembusan nafas lega mereka lepaskan saat tidak ada lagi tanda tanda ketiga pria itu mengejar mereka. Sayangnya itu tidak berlangsung lama. Keberuntungan tidak memihak pada mereka saat ini.


"Sayangnya permainan masih belum berakhir!"


BRAK!


"AKH!!"


Sebuah balok kayu di lempar dan tepat mengenai punggung Riz, membuat pemuda itu terjatuh seketika. Dari sebuah gang sempit, seorang pria berjalan keluar sambil memasang seringaian kejam di wajah nya. Rei yang menyadari itu langsung mengambil posisi siaga dan mengeluarkan pistol nya.


"Darimana kau datang?" Tanya Rei sambil menodongkan pistol nya. Ia pikir dirinya dan Riz sudah lolos, tapi ternyata belum. Ketiga pria itu terus saja mengejar mereka.


Apa ketiga pria itu tak akan menyerah sebelum berhasil membunuh nya dan Riz?


Saki menyeringai, "Kau kira gak ada jalan pintas atau semacamnya di sini?"

__ADS_1


"Ck, sialan!" Rei mulai kesal, tanpa aba aba ia menekan pelatuk pistol nya, menembakkan peluru yang melesat kencang menuju ke arah Saki.


DAR!


DAR!


Dua tembakan Rei luncurkan, tapi selalu bisa di hindari pria itu. Tangan nya mengepal kuat dan langsung berlari ke arah pria itu, lalu melompat meluncurkan tendangan padanya yang nyaris saja mengenai Saki jika saja pria itu tidak segera menghindar.


"Walau masih kecil kau lincah juga rupanya."


"Berisik!"


BRAK!!


Belum cukup sampai di situ, Saki langsung menarik kaki Rei dan melempar nya, membuat pemuda itu terlempar menabrak dinding.


"Untuk kali ini tak akan ku biarkan kalian lolos begitu saja."


Saki berjalan mendekati Rei sambil mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam saku nya.


Orang itu tak berencana untuk menusuk Rei bukan?


"Jangan berani kau sakiti teman ku!!!"


DUK!

__ADS_1


Dari belakang, sebuah tendangan di berikan Riz, tepat mengenai punggung pria itu, membuat Saki nyaris terjatuh karena nya. Pria itu sedikit meringis saat merasakan sakit di punggung nya.


Ia baru saja melupakan satu orang lagi di sana.


"Dasar anak menyebalkan!"


Saki langsung menodongkan pistol ke arah Riz dan menekan pelatuk nya, namun sayang nya ia kehabisan peluru.


Sungguh, di saat yang tidak tepat.


"Ck! Sial! Kenapa di saat seperti ini!? " Gerutu nya kesal.


"Haha... Kenapa? Kehabisan peluru ya, pak tua?" Ejek Riz. Tentu ia tidak mau membuang kesempatan seperti ini. Dengan cepat pemuda ber iris biru itu meluncurkan pukulan ke arah Saki.


BRUK!


Sebuah pukulan keras mengenai pelipis nya, membuat pria itu meringis kesakitan. Kepala nya terasa pusing dan sakit, membuat pandangan nya sedikit berkunang kunang.


"Ah, pusing ya? Apa aku memukul mu terlalu keras, pak tua?"


Saki berdecak kesal. Namun, baru saja ia hendak melawan, sebuah suara yang tak asing bagi nya terdengar.


"Rupanya kau asik bermain sendiri ya..."


TBC

__ADS_1


__ADS_2