Shadow Agen

Shadow Agen
Esper


__ADS_3

"Jadi dia orang nya... Sepertinya tidak terlalu kuat." Seorang pemuda ber iris hazel menatap ke layar komputer. Tangan nya sibuk mengetik kata pencarian dari data yang ingin di akses nya. Helaan nafas lepas dari mulut nya, menunjukkan kekecewaan dari hasil yang ia dapatkan.


Ruangan itu cukup gelap, hanya cahaya dari layar komputer yang menjadi penerangan nya. Surai silver nya terlihat berkilau terkena cahaya, namun berbeda dengan mata nya yang memandang sendu.


"Mereka memang bodoh. Sudah sewajar nya Dark Devil hancur. Aku penasaran bagaimana si bodoh itu mengembangkan nya." Pemuda itu menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi. " Walau kalung pengendali nya sudah tak berfungsi, tapi bukan berarti dia benar-benar lolos loh..."


Ekspresinya berubah, ia memejamkan mata nya membiarkan kesunyian menguasai ruangan itu.


Kling


Sampai saat suara notifikasi membuat nya kembali membuka mata. Di layar komputer, sebuah data yang ia cari akhirnya dapat di akses. Untuk orang biasa, jelas akan sulit mengakses data seperti itu, mengingat sistem keamanan yang tinggi. Tapi, apa pemuda itu bisa di katakan 'orang biasa'?


Senyuman terbentuk di wajah nya. Mata nya menatap fokus pada foto seorang pemuda ber iris ruby beserta seluruh data pribadi yang berhasil ia dapatkan. "Sepertinya sudah saatnya membawa mu ke tempat yang lebih layak, Revan."


BRAK!


Pintu di dobrak, membuat pemuda itu terkejut. Beruntung dia tak punya penyakit jantung.


"Siapa kau?! Beraninya kau menyusup ke tempat ini!" Ujar seorang pria sambil menodongkan pistol ke arah nya. Di belakangnya, terdapat beberapa orang yang juga siap dengan senjata mereka untuk menembak.


Namun, bukannya takut atau khawatir, pemuda itu hanya menghela nafas dan menatap mereka datar. Ia melepas flashdisk setelah berhasil menyimpan semua data yang ia butuhkan dan beranjak dari kursi yang tadi di duduki nya.


"Merepotkan." Ucapnya santai.


"Angkat tangan mu, atau akan ku tembak!" Seru pria tadi yang masih menodongkan pistol ke arah nya. Jari nya telah siap untuk menekan pelatuk kapan saja dan menembakkan peluru pada pemuda itu.


"[Penghentian]" Ujar pemuda itu dan semua orang di hadapan nya langsung berhenti bergerak.


Lagi lagi pemuda itu menghela nafas. "Dasar tidak berguna." Gumam nya dan melangkah melewati mereka.


Saat jaraknya sudah cukup jauh dari pria pria itu, sang pemuda menjentikkan jari nya, membuat orang orang itu dapat bergerak lagi.


"A-apa yang kita lakukan di sini?" Tanya seorang pria dengan ekspresi bingung.


"Entahlah. Sudahlah, ayo pergi." Ujar pria lainnya.

__ADS_1


*****


Seminggu telah berlalu, kini Revan tinggal bersama Raile dan Riz di rumah nya. Merasakan kembali kehangatan keluarga seperti dulu, walau tanpa hadirnya orang tua mereka, tapi setidaknya ada saudara dan kakek nya yang membuat hidup nya lebih berwarna sekarang.


Walau belum bisa di katakan benar benar bebas dari incaran para mafia itu, setidaknya ia bisa merasa lebih tenang sekarang.


"Hanya butuh waktu, sampai kau bisa kembali mengingat ku. Aku akan perbaiki semuanya, membuat kebahagiaan yang dulu kita rasakan kembali lagi. Aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi." Ujar Raile sambil menyeruput segelas kopi.


"Ngomong ngomong.... Sudah berapa kali kau mengatakan itu?"


Glek


"Fuuu!!!! Sejak kapan kau di situ?!" Seketika Raile menyemburkan lagi kopi yang telah di minum nya.


Sedangkan orang yang menjadi alasan Raile terkejut hanya terkekeh melihat sang kakak. "Baru saja, saat kau mengatakan itu. "


Muka Raile memerah.


"Aku memang masih belum bisa ingat semuanya, tapi bakal ku coba buat terima. Terimakasih sudah mau memaafkan ku." Ucap Revan sambil tersenyum tipis.


Pandangan mereka seketika teralih pada seorang pemuda yang berdiri tak jauh dari mereka sambil menyandarkan punggung nya pada dinding. Ia melipat tangan nya di depan dada sambil memasang ekspresi kesal.


Sikapnya benar-benar seperti anak kecil


" Lah, emangnya kamu siapa? Kita saling kenal?" Tanya Raile sambil sedikit menyeringai.


Perempatan imajiner muncul di dahi Riz mendengar itu. Jadi sekarang setelah bersama Revan dirinya di buang seperti plastik bekas bungkus makanan gituh? Tapi bukan Riz namanya yang tak bisa mengikuti alur permainan Raile. Ia tau sepupunya itu hanya bercanda.


Riz langsung mencengkram dada nya dan memasang ekspresi kesakitan yang sungguh lebay. "Ah... Setelah dekat dengan Revan, aku langsung di buang gitu aja. Sungguh jahat! Jahat kau Raile! Kau jahat!" Ujar Riz sambil ber acting menangis.


Raile hanya menatap datar. "Kita pergi aja yuk. Ada orang gak waras di sini. "


Riz berdecak kesal. "Siapa yang kau bilang gak waras hah?!" Marah nya dan langsung memberikan jitakan sayang pada Raile.


Yah, begitulah pagi mereka yang penuh dengan drama. Perlu waktu bagi Revan untuk menyesuaikan diri, tapi ia senang bisa kembali bersama dengan keluarga nya. Kembali merasakan keceriaan yang sudah lama hilang dari hidup nya.

__ADS_1


*****


Matahari mulai turun dari singgasana nya. Murid murid sekolah mulai berhamburan keluar untuk pulang ke rumah masing masing, mengikuti ekskul atau pergi berjalan jalan dengan teman mereka. Tapi berbeda dengan apa yang Raile dan Riz lakukan.


Kedua pemuda itu berjalan memasuki sebuah gang sempit, dimana Revan sudah menunggu mereka di sana.


"Maaf membuatmu menunggu lama." Ujar Raile pada Revan.


Pemuda ber manik mata merah ruby itu sedikit menggeleng. "Tidak juga, aku baru saja sampai."


Sedangkan di sisi lain, helaan nafas lelah di lepaskan pemuda dengan iris mata biru langit yang tampak lesu. " Kenapa sih kita masih harus sekolah? Cukup sulit menyesuaikan waktu sekolah dengan agensi. Bagaimana kalo ada misi mendadak? " Keluh Riz.


"Bukannya sudah biasa? Agen lainnya pasti akan membantu kita saat ada misi mendadak seperti waktu itu kan? Sudahlah jangan banyak mengeluh. Sebaiknya kita cepat, kalo telat nanti agen Raka pasti bakal ngamuk."


Kedua nya mengangguk. Khusus nya Riz yang sudah lama ada di Shadow Agen. Ia tau jelas bagaimana menyeramkan nya senior mereka saat mengamuk.


"Baiklah baiklah. Tapi-ugh."


Tidak sengaja seorang pemuda menabrak Riz dari arah berlawanan. Sepertinya pemuda itu cukup tergesa gesa yang membuatnya tidak memperhatikan sekitar nya.


"Hey kalo jalan hati hati dong..."


"Maaf aku tidak sengaja." Ujar pemuda yang menabrak nya tadi sambil sedikit membungkuk.


"Haah baiklah tidak apa.." Ujar Riz akhirnya.


Pemuda ber rambut silver itu hanya mengangguk kecil, namun tanpa sengaja iris hazel dengan iris merah ruby itu saling bertemu. Dengan cepat Revan mengalihkan pandangan nya.


"Kau juga esper..."


Langkah Revan berhenti, ia oleh ke belakang, memandang pemuda ber rambut silver yang sudah semakin jauh dari nya.


Apa yang pemuda itu maksud?


"Revan ayo." Panggil Raile. Memilih untuk mengabaikan nya, Revan kembali melangkah mengikuti Raile dan Riz.

__ADS_1


TBC


__ADS_2