Shadow Agen

Shadow Agen
Jebakan (part 2)


__ADS_3

Rei membuka mata nya perlahan. Tangan dan kaki nya terikat erat dengan tali. Ia melihat sekitarnya yang terlihat seperti gudang.


Rei mencoba untuk membuka ikatan di tangan nya, namun hasilnya sia sia. Tali yang mengikat nya terlalu tebal dan kuat sehingga sulit di lepaskan. Terlebih lagi ikatan yang terlalu erat membuat tangan nya sakit saat di gerakkan.


"Bodohnya aku bisa terjebak dengan hal seperti ini."


Rei melihat ke sekitarnya. Tak ada benda yang bisa membantu untuk melepas ikatan di tangan nya. Hanya ada beberapa barang bekas yang terbuat dari kayu. Itu tidak akan membantu sama sekali. Lagipula, dalam kondisi nya yang seperti itu jelas membuatnya sulit untuk bergerak.


"Ayolah... Apa tak ada benda yang bisa membantu?"


Rei mulai kesal. Tapi ia baru mengingat ada pisau kecil di saku nya. "Ah iya. Ada pisau kecil di saku ku. Bagaimana aku bisa lupa itu?" Dengan susah payah, Rei pun  mencoba untuk mengambilnya. Namun...


Brak!!


Pintu di dobrak membuat nya  terkejut. Seorang pria berpakaian serba hitam memasuki ruangan. Ia membuka masker yang sebelumnya dikenakannya untuk menyamarkan wajahnya.  Iya memandang ke arah Rei yang terikat. Melihat tatapan tajam pemuda itu, membuat sang pria tersenyum lebar.


"Wah wah... Sekarang, lihat siapa yang terikat tak berdaya di sana. Lama tak bertemu, Rei." Ucap pemuda itu sambil menyeringai lebar.


Rei menatap benci pada pria itu. "Apa yang kau mau? Soni"


***


Di sebuah gang sempit terlihat seorang pria dan pemuda yang melawan beberapa orang yang mengepung mereka. Lokasi yang sepi di sana membuat kondisi mereka cukup  terdesak.


Sein terlihat membetulkan letak kacamata nya, lalu berdecak kesal. "Hal yang tidak ku sukai dari penjahat itu, selalu main keroyok."


"Singkat nya aja, mereka takut kalah jadi sengaja gini. Emang nyata nya mereka lemah." Sambung Riz sambil memasang senyuman remeh.


Salah satu pria yang mengepung mereka mulai emosi. "Apa kau bilang bocah?!"


"Wah... Tak dengar ya? Aku bilang, kalian lemah!" Dan langsung saja Riz meluncurkan pukulan ke wajah pria itu yang membuatnya terjatuh.


"Keterlaluan kau bocah!" Pria itu kesal dan mencoba menangkap Riz. Tapi pemuda itu berhasil menghindar dengan cepat dan malah menjulurkan lidahnya dengan maksud mengejek, yang juga menambah emosi para pria di dekatnya.

__ADS_1


Dan aksi mereka pun dimulai..


Salah seorang pria langsung menembakkan peluru ke arah Riz, tapi untung nya berhasil ditangkis oleh Sein yang langsung berlari ke hadapan Riz dan menahan peluru itu dengan belati nya.


Riz menarik nafas lega. Ia kira dirinya akan mati. "Terimakasih."


"Lebih hati hati lain kali."


Riz mengangguk dan kembali pada aksinya yang dengan mudahnya membuat dua pria saling bertabrakan dan memukul leher mereka sehingga kedua pria itu terjatuh.


Sementara, Sein menggunakan dinding sebagai pijakan dan melompat lalu membuat tendangan berputar yang langsung mengenai kepala salah satu pria hingga membuatnya terjatuh dan menabrak dinding.


"widih, sadis amat." Ucap Riz melihat aksi senior nya itu.


"Mereka gak perlu dikasihani." Jawab Sein sembari meluncurkan pukulan nya. Riz hanya terkekeh mendengar itu dan kembali melawan.


Ya, lagipula orang jahat seperti mereka memang harus di beri pelajaran bukan?


Beralih pada Raile dan Revan dengan seorang pria yang membuat Revan menatap tajam ke arah nya. Raile yang mengetahui bahwa pria itu anggota Dark Devil pun langsung memasang posisi siaga.


Lalu seorang pria muncul dari belakang Revan dan Raile. "Kalian sudah terjebak."


Situasi yang tidak menguntungkan untuk Revan dan Raile. Kini mereka benar benar terjebak. Tiga pria itu memandang mereka sambil menyeringai kejam, lengkap dengan senjata di tangan mereka.


"Biarkan aku ambil alih. Itu akan lebih cepat selesai." secara tiba-tiba suara terdengar dalam pikiran nya. Jelas ia tau siapa itu.


'Tidak. Ada Raile di sini. Lagipula kau tau sendiri aku sedang menyamar. Jika Raile tau aku Revan akan repot nanti. Lebih baik kau diam saja.'


Setelah Revan mengatakannya, suara itu tak terdengar lagi. Baguslah, setidaknya dirinya bisa lebih fokus sekarang.


Terkadang dirinya kesal karena reverse nya itu yang selalu ikut campur. Tapi mau bagaimana lagi?


"Melihat dua tikus yang terjebak di sarang singa cukup lucu juga." Ujar pria itu sambil melempar dan menangkap kembali belati nya.

__ADS_1


"Sebelumnya perkenalkan, aku Farel. Yang ada di samping kalian itu Saki dan di belakang kalian Naru. Aku yakin salah satu dari kalian sudah mengenal kami. Bukankah begitu?" Ujar Farel sambil tersenyum sinis menatap netra merah pemuda itu, yang tentu saja di balas dengan tatapan tajam.


ini benar benar hari yang buruk. Revan harap apa yang sebelumnya ia rasakan salah.


"Sebenarnya apa rencana kalian hah?! " Tanya Raile kesal.


"Apalagi? Kalo bukan membunuh kalian!!"


Farel langsung menembakkan peluru pada Raile yang dengan cepatnya di halang oleh Revan.


Raile sempat terkejut dengan gerakan Revan yang begitu cepat menangkis peluru itu dengan pisau belatinya. Jika Revan tidak melindungi nya, ia kira ia sudah mati tadi.


"Wah wah... Hebat juga kau bisa menangkisnya. Memang benar yang dikatakan. Kau percobaan yang hampir mendekati sempurna." Ujar Farel.


"Kalo gitu kenapa kau bergabung dengan mereka? Kurang seru... Lebih baik dengan kita. Kau bisa membunuh lebih banyak orang dengan kemampuan mu itu bocah. Tak perlu pikir peraturan. " Sambung Saki yang kembali menembak kan beberapa peluru namun selalu berhasil ditangkis oleh Revan.


Sedangkan Raile yang melihat itu cukup tercengang dengan apa yang  rekan nya lakukan. Gerakan yang begitu cepat dan kemampuan yang hebat. Ia sedikit penasaran darimana Ren mempelajari semua itu. Apa dia menguasai semua teknik beladiri dari berbagai aliran?


Namun dirinya yang terlalu fokus pada pergerakan Ren membuatnya tidak memperhatikan sekitarnya.


Secara tiba tiba ada yang mengunci tangan nya ke belakang dan menodongkan pistol tepat ke kepalanya.


"Hey bocah! Jika kau mau anak ini selamat, buang senjata mu." Ucap Naru dari belakang Revan.


Pemuda ber iris ruby yang melihat itu terkejut. Ia benar benar tak memperhatikan apa yang di belakangnya.


Revan pun menjatuhkan belati di tangan nya.


"Apa yang kau lakukan?! Tak perlu pedulikan aku. Cepat pergi!" Seru Raile. Ia tidak ingin rekan nya justru jadi korban dari kecerobohan nya.


"Tidak mungkin aku meninggalkan rekan ku."


"Tapi-" Seketika kata kata Raile terpotong.

__ADS_1


"AAKKHH!!!"


TBC


__ADS_2