
Rintik hujan menetes membasahi bumi dengan derasnya bulir bulir air yang turun. Awan kelabu menyelimuti angkasa, menghalangi sorot cahaya sang surya untuk menyinari daratan.
Banyak orang memilih berteduh dan menghindar dari derasnya hujan yang mengguyur.Tak ingin pakaian mereka basah terkena hujan.
Namun, ada yang bilang hujan bisa menghapus luka. Dari balik kaca rumah sakit, seorang pemuda bermanik gold memandang sendu rintik hujan di luar sana.
Angin dingin berhembus membuatnya sedikit menggigil. Tatapan sendu terlihat di mata nya, memandang pantulan samar dirinya di kaca.
Rasa bersalah masih menyelimuti dirinya bagaikan awan gelap di atas sana yang menghalangi cahaya untuk bersinar kembali. Sudah hampir tiga jam dirinya menunggu, tapi pemuda bermanik mata merah ruby itu masih tak kunjung membuka mata nya.
Manik ruby itu masih saja setia dalam pejam nya, membiarkan kesadaran nya berkelana di tempat lain.
Raile menghela nafas. Ia berjalan mendekati sang adik yang masih terbaring di ranjang pesakitan nya. Tangan nya bergerak mengusap pipi pucat pemuda itu. Kepala nya terikat perban putih yang membuatnya terlihat rapuh. Bahkan Raile berpikiran mungkin sedikit tekanan saja akan membuat tubuh pemuda di hadapan nya itu hancur.
"Maafkan aku... Andai aku lebih berhati hati, ini tak akan terjadi... Andai aku... Tidak membenci mu sejak awal... Kau tak akan berakhir seperti ini..." Ucap Raile pelan sambil mencoba menahan bulir bening di mata nya agar tidak kembali jatuh.
"Hey.. Kapan kau akan bangun? Apa kau tak ingin membuka mata mu?"
Sebanyak apapun Raile berbicara, mata Revan masih saja setia dalam pejam nya. Deru nafas terdengar dari pemuda yang terpejam tenang itu. Di suasana seperti ini, mungkin adalah waktu yang tepat untuk Revan beristirahat.
Saat yang begitu tenang tanpa ada yang berbuat kasar atau menyakiti nya. Ditambah dengan orang tersayang yang kini berada di samping nya.
Namun, tidak ada yang akan tau takdir akan membawa mereka nantinya. Hal yang sudah lama di harapkan dan di tunggu tunggu telah terwujud, tapi itu bukan menjadi penentu kebahagiaan yang akan ia dapatkan.
Tok tok tok...
Pintu di ketuk dan tak lama, seorang pemuda berjalan masuk ke ruangan itu. Tatapan tajam di lemparkan begitu saja oleh si empu pada sosok bermanik gold yang sedang duduk di samping ranjang sang sahabat.
"Bukannya seharusnya kau puas sekarang? Ini kan yang kau mau?"
__ADS_1
Kalimat yang terucap begitu tajam dan menusuk baginya. Ditambah dengan dingin dan sinis nya nada yang di berikan.
"Aku gak bakal mau kalo tau kenyataan nya sejak dulu. "
Rei lantas terkekeh. "Jadi kau mau mulai menyalahkan orang lain lagi?"
Raile terdiam. Tak ada gunanya meladeni pemuda itu sekarang. Ia tau ia salah dan akan bertanggung jawab dengan semua ini. Tapi apa perlu sampai bersikap seperti itu?
"Aku hanya ingin bersama adik ku. Lebih baik kau pergi dulu."
"Bersama untuk lebih menyakitinya? "
Tangan Raile mengepal kuat. Pemuda itu benar-benar menyebalkan!! Apa benar ini Rei yang ia kenal sebelumnya?
"Rei, aku tau kau khawatir dengan Revan, aku pun sama. Tapi apakah harus kau mengatakan semua itu? Gimana kalau Revan dengar?"
"Kau hanya mengatakan, tapi tak pernah merasakan. Wajar lah kalo aku marah. Kau gak tau seberapa menderita nya Revan waktu di jadikan sebagai manusia percobaan." Rei menjeda ucapan nya.
Lagi lagi Rei membuatnya bungkam. Bahkan orang yang tak memiliki hubungan darah sama sekali dengan Revan jauh lebih memahami pemuda itu. Sedangkan dirinya yang saudara kandung nya justru menganggapnya sebagai hama yang harus di musnahkan.
Kakak macam apa dia ini?
"Maaf... " Raile kehilangan kata kata nya. Hanya itu yang bisa ia katakan kali ini. Semua kata bagaikan lenyap dari dirinya.
Rei yang melihat itu menghembuskan nafas nya kesal. Tanpa aba aba ia langsung meluncurkan pukulan tepat di wajah Raile.
"Woy! Apa yang- hmph! "
Kata kata Raile terpotong saat secara tiba tiba Rei membungkam mulut nya dengan apel.
__ADS_1
Dah di pukul, di bungkam lagi. Sungguh menyebalkan!!
"Maaf, rasanya belum puas kalo gak mukul." Ucap Rei santai. Tepatnya, terlalu santai. Raile hanya menatap kesal sambil memakan apel nya.
Ya... Lebih baik di makan dari pada di buang kan mubazir.
"Baiklah, untuk kali ini ku beri kau kesempatan. Tapi jangan kecewakan Revan lagi. Okey?"
Raile mengangguk cepat. "Baiklah! Terimakasih..."
Rei hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
"Sungguh akhir yang menyentuh."
Keduanya terkejut dan refleks menoleh pada sumber suara. Pemuda bermanik ruby itu kini menatap mereka dengan ekspresi bingung nya.
Sungguh, mereka benar-benar tidak sadar sejak kapan Revan sudah sadarkan diri. Apa dia mendengar pembicaraan mereka sejak tadi?
"R-Revan.. Sejak kapan kau sadar? " Tanya Raile sedikit terbata di tengah keterkejutan nya.
"Baru saja." Jawab Revan singkat. Ia memegang kepala nya yang terasa berdenyut sakit, yang tentu saja menarik perhatian kedua pemuda itu.
"Sudah Rev, kau istirahat saja... Jangan banyak berak dulu." Ujar Rei yang di balas anggukan pelan oleh di pemilik manik ruby itu.
"Kami senang kau sudah sadar Rev, bagaimana kondisi mu sekarang?" Tanya Raile. Tapi justru Revan menatap bingung.
Raile yang merasakan kejanggalan mengerenyitkan dahi nya. Namun, pertanyaan yang ia dengar setelahnya benar-benar membuat hati nya hancur.
"Kau... Siapa?"
__ADS_1
TBC