Shadow Agen

Shadow Agen
Ice


__ADS_3

Sebenarnya ia tak enak hati harus meninggalkan Revan sendiri. Tapi, ia juga harus mencari cara untuk mengatasi masalah ini.


Langkah cepat pemuda ber iris gold itu terdengar menggema di Koridor yang cukup sepi. Di sebuah gedung sekolah tua yang tidak lagi di gunakan. Bahkan sudah banyak ruangan yang rusak dan nyaris runtuh. Kaca kaca yang pecah, dinding yang di coret dan terlihat retakan di mana mana. Lebih terlihat seperti sekolah berhantu baginya.


Ia melihat sekitar nya, berjaga jaga jika saja ada orang yang melihatnya. Biasanya tempat seperti ini menjadi sasaran tempat nongkrong para berandal atau geng motor. Jika ada yang melihatnya justru berbahaya bukan? Ia heran, kenapa orang itu meminta nya menemui nya di tempat seperti itu? Apa tidak ada tempat lain yang lebih layak? Tapi apa boleh buat? Hanya dia yang bisa membantu nya saat ini.


Raile memasuki sebuah ruang kelas di lantai dua. Di atas sebuah meja yang cukup berdebu, seorang pria berjaket biru muda dan mengenakan kaos putih berbaring dengan santai nya sambil memejamkan mata nya.


Apa dia sedang tidur?


"Kak Ice?" Panggil Raile sambil berjalan mendekati pria itu.


Ya, sepertinya dia benar benar tertidur. Tapi di tempat seperti itu?


"Kak aku-"


Sreg!


"Akh sakit!" Rintihan terdengar saat secara tiba tiba Ice menarik dan mengunci tangan nya di belakang. Cepat sekali gerakan nya, bahkan Raile sendiri tidak sempat melihat nya. Bukannya orang itu tidur tadi? Apa dia memasang semacam sensor untuk mengetahui jika ada orang lain di sekitar nya?


Sejauh yang ia tau Ice itu orang yang cukup pemalas. Tapi siapa sangka, polar bear ini bisa bergerak begitu cepat.


Sementara, Ice hanya memandang datar korban nya yang meringis kesakitan. Helaan nafas terdengar sebelum pria ber iris aquamarine itu melepaskan tangan nya.


"Rupanya kau. Kukira orang lain." Ucap Ice datar dan kembali membaringkan tubuhnya di atas meja.

__ADS_1


Raile berdecak kesal. "Lagian kaya piranha aja langsung sambar begitu ada yg mendekat. Kak Ice sendiri gimana bisa tidur di tempat kaya gini sih?"


Ice tidak menoleh, tetap santai dengan posisi nya saat ini. "Kau tau aku bisa tidur di manapun kan?"


Oke, tidak heran jika begitu.


"Jadi, ada masalah apa?"


Raile melangkahkan kakinya mendekati sebuah kursi lalu merebahkan dirinya di kursi itu. "Seperti yang sudah ku bicarakan tadi, aku butuh bantuan kak Ice untuk menghentikan percobaan itu dan menghancurkan Dark Devil." Raile menjeda ucapan nya. Ia menghembuskan nafas berat. "Aku tak ingin ada orang lain yang bernasib sama dengan Revan. Selain itu aku ingin membantu Revan sekaligus menebus kesalahan ku."


Ice melirik pemuda di sampingnya itu. "Ini bukan hal mudah yang bisa kau selesaikan begitu saja. Aku yang sudah lama jadi mata mata saja belum bisa menyelesaikan nya. Dark Devil bukan organisasi yang bisa kau anggap remeh. Avren bisa melakukan apapun untuk apa yang diinginkan nya."


"Tapi tak ada salahnya kan? Aku ingin memperbaiki semuanya..."


Ice bangun dari tidur nya. Ia memperhatikan ekspresi Raile lekat lekat. Terlihat jelas raut wajah bersalah di sana. Sepertinya Raile benar-benar sudah menyesalinya. Tapi di sisi lain, Revan juga kehilangan ingatan nya, yang artinya akan membuat tugasnya semakin sulit saat ini.


"Baiklah, kita mulai malam nanti. Untuk kali ini kau harus bisa menghancurkan semua data percobaan itu. Jika data dan hasil percobaan nya tidak ada, itu akan mempersulit Avren melanjutkan percobaan nya. Setelah itu, kita mulai hancurkan perlahan." Ice turun dari meja nya. "Tapi ini misi yang cukup sulit. Jika kau ketahuan, game over. Kau bisa di bunuh. Bagaimana?"


Raile terdiam. Misi kali ini cukup berat, apalagi ia juga harus merahasiakan nya dari yang lain. Tidak mungkin ia membawa rekan rekan nya dalam masalah bukan? Tekatnya sudah bulat. Dengan ini mungkin ia bisa membantu mengambil kembali kepercayaan Revan dan mengembalikan ingatan nya.


"Baiklah, tak masalah." Ucap Raile yakin.


Senyuman tipis terbentuk di bibir Ice melihat itu. Ia melangkahkan kaki nya mendekati pintu keluar. Raile yang melihat itu berjalan mengikuti nya.


"Baiklah... Kalo itu mau mu. Aku juga sudah mengumpulkan semua data yang Revan cari selama ini. "

__ADS_1


Raile mengerenyitkan dahi. "Revan cari?"


Mengangguk. "Diam diam aku mengamatinya mencuri beberapa data. Aku menemukan flashdisk nya terjatuh saat sebelum dia tertembak. kurasa itu bisa membantu mu. " Ujar Ice lalu menyerahkan sebuah flashdisk pada Raile.


Raile hanya menerima nya dan berkata "terimakasih." Banyak yang membuat Raile penasaran dengan pria di hadapan nya itu. Ia kira selama ini Ice hanya bisa tidur. tapi rupanya dia justru melangkah lebih maju daripada yang lain. Sungguh hal yang tidak terduga.


Namun, langkah Ice secara tiba tiba terhenti membuat Raile refleks berhenti juga.


"Sepertinya bukan hanya Avren yang perlu kita hadapi kali ini."


Raile mengerenyitkan dahi nya. Bukannya sudah tentu? Ada PiGenSai bersaudara dan trio menyebalkan itu. Ditambah anggota Dark Devil lainnya.


"Bukannya sudah jelas?"


Ice menggeleng. "Pusat dari Dark Devil. Bukan Avren seorang yang menjadi ketua organisasi mafia ini."


Raile terdiam. Tunggu, bukan hanya Avren? Lalu siapa lagi?


"Maksud mu?


"Aku tidak tahu siapa orangnya. Tapi yang ku dengar seperti itu."


Kira kira siapa yang menjadi ketua selain Avren? Tapi... Apa dalam sebuah organisasi bisa ada lebih dari satu ketua? Masa sih?


Ya itu bisa saja terjadi. Tapi yang membuatnya penasaran, siapa orang itu?

__ADS_1


TBC


__ADS_2