
Seorang pria bermanik aquamarine berjalan santai memasuki gedung yang berada di sebuah lokasi yang cukup tertutup. Wajah nya sedikit tertutupi hoodie jaket nya, menutupi surai hitam pria itu.
Ekspresi wajah nya tempak dingin nan datar, memberikan tekanan tersendiri bagi orang orang di sekitar nya. Seakan memberikan isyarat pada orang lain agar tidak mengganggu nya.
Ia terus melangkah menuju sebuah ruangan. Terlihat Soni yang sedang duduk di sana. Ice membaringkan dirinya di sofa, yang secara tidak langsung menarik pria di dekat nya untuk memandang ke arah nya.
"Loyo amat. Kaya habis maraton aja, Ice." Ucap Soni. Ice hanya melirik sebentar lalu memejamkan mata nya. Tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan Soni. Lagipula dirinya sudah biasa seperti ini, lalu kenapa harus ditanyakan lagi?
Namun sayangnya, di saat Ice mau tenang, ada saja orang yang mengganggu nya.
"Oi Ice! Habis ngapain lo?" Seru seorang pria berkacamata dengan suara lantang.
"Brisik." Ucap Ice sambil menutup telinga nya dengan bantal sofa.
Sein, pria berkacamata itu menggeleng geleng kan kepala nya. Namun, seketika ia teringat sesuatu yang membuat nya kembali memperhatikan pria itu.
"Ice, bisa bicara sebentar?" Tanya Sein dengan nada serius, menarik perhatian pria berjaket biru itu.
"Ada apa?" Tanya nya.
"Kesini bentar, susah amat sih."
Ice mendengus kesal. Sungguh, ia sendiri lelah. Apa tak bisa membiarkan nya beristirahat sebentar saja?
Akhirnya Ice menyerah dan bangun dari sofa, berjalan mendekati Sein menuju ruangan yang tepat berada di sebelah ruangan itu.
Sementara Soni? Dia hanya menatap bingung, namun ragu untuk bertanya. Takut gak di jawab dan malah di kacangin.
__ADS_1
Sementara itu, Sein menutup pintu ruangan itu agar tidak ada orang lain yang mendengar nya. Sedangkan Ice hanya mengernyitkan dahi nya melihat apa yang dilakukan Sein. Sepertinya apa yang akan mereka bicarakan begitu rahasia sampai Sein seperti itu. Tapi apa? Apa mungkin berkaitan dengan Revan?
"Ice, aku ingin bertanya padamu. Apa kau ke rumah sakit tadi?"
Tebakan nya tepat. Jika seperti ini jelas Sein akan sangat berhati hati agar tidak ada anggota Dark Devil lain yang mengetahui nya.
"Iya. Kenapa?" Jawab Ice singkat.
Sein menghela nafas. "Jadi, bagaimana keadaan Revan? Apa dia baik baik saja? Kau bertemu dengan orang yang Avren suruh untuk mengawasi nya?"
Ice sedikit menatap mata pria itu, lalu memalingkan pandangan nya. "Aku tidak bertemu dengan Revan. Tapi orang itu ada di sana."
Mata Sein membulat sempurna. "Apa?! Bagaimana bisa? Kemana Revan?"
Ice menghela nafas. Ia sedikit menutup telinga nya karena mendadak Sein berteriak membuat telinga nya berdenging. Beruntung ruangan itu kedap suara. Jika tidak, pasti sudah banyak yang mendengar teriakan pria itu yang akan membuat mereka tertangkap basah berhianat.
Sein hanya menggaruk garuk belakang kepala nya yang tak gatal. "Maaf maaf. Aku terkejut saja. Tapi bagaimana bisa tidak ada di sana? Kabur kemana? Gak ketangkap lagi kan?"
Ice menggeleng. "Aku tidak tahu. Mungkin diam diam membantu saudara nya. Ditambah, aku ragu jika pembunuh bayaran itu akan bertahan lama di sini."
Sein mengernyitkan dahi. "Maksud mu Himaki? Kenapa? "
"Dia memiliki masa lalu yang cukup kelam. Orang tuanya meninggal akibat kecelakaan yang membuat Himaki dan adiknya tinggal bersama kakek nenek nya. Tapi tak selang lama, kakek nenek nya juga meninggal yang membuat mereka berakhir di panti asuhan. Mereka sempat di adopsi oleh mafia, tapi akhirnya mereka coba pergi yang justru membuat Himeko, adik Himaki tertembak. Ya... Sepertinya Himaki masih menyimpan dendam. Jika ia tau tentang Revan, cepat atau lambat dia akan berpikiran sama dengan mu." Jelas Ice panjang lebar.
Sein membulatkan mata. Ia tak menyangkal pria bermanik biru itu tau sebanyak itu. "Ya, kau juga sama kan? Mata mata."
Ice mengalihkan pandangan nya. "Diamlah."
__ADS_1
"Tapi darimana kau tau semua itu?"
Ice sempat terdiam. Melangkahkan kaki nya ke sebuah sofa yang berada tak jauh dari nya dan kembali membaringkan tubuhnya. "Aku ada di sana saat Himeko tertembak. Jadi sekalian saja aku cari info. Ini sebuah kasus kejahatan kan?"
Sein mengangguk. Memang benar sih. Ditambah dulu Ice juga sempat tinggal di Jepang, tidak menyangka jika mereka akan kembali bertemu di organisasi yang sama.
Setelah itu Sein terdiam. Sedangkan Ice hanya mengabaikan nya, membiarkan kesunyian menguasai ruangan itu, yang bahkan nyaris membuat pria ber manik aquamarine itu nyaris terlelap. Sampai akhirnya sebuah pertanyaan diberikan kepada nya. "Gak minat gabung Shadow Agen sekalian? Biar lebih mudah."
Ice menggeleng. "Ada yang perlu mengawasi Revan di sini saat kau pergi. Lagipula kau juga membutuhkan bantuan ku untuk mencari alasan saat kau pergi kan?" Ice melanjutkan ucapan nya. "Lagipula... Seperti nama nya, Shadow Agen. Aku akan bekerja di balik bayangan."
Sein terkekeh mendengar itu. Setidaknya teman nya ini bisa di harapkan untuk membantu nya.
"Lalu bagaimana dengan Avren? Apa dia sudah tau tentang ini? "
"Jelas dia sudah tau. Entah apa yang akan terjadi pada Revan setelah ini, jika ia kembali tertangkap." Sein kembali terdiam. Ada benarnya juga. Setelah tau jika percobaan nya kabur dan malah membantu musuh nya, pasti ketua mafia itu akan semakin kejam. Entah apa yang akan dilakukan nya nanti. Ia bahkan tidak ingin menebak itu.
Ingatan nya kembali berputar, membuatnya teringat kembali saat saat penuh penderitaan yang Revan alami. Berbagai jenis obat obatan dan percobaan di berikan pada anak itu. Tak peduli berapa kali anak itu menangis atau menjerit kesakitan, seakan tidak memiliki lagi rasa kemanusiaan atau belas kasihan, bahkan Avren tak mempedulikan itu.
Harus terpisah dari keluarga nya dan menjadi kelinci percobaan seorang mafia untuk tujuan yang buruk, memendam semua rasa sakit dan kesedihan yang ia rasakan hingga binar di mata nya perlahan hilang.
Hanya satu yang masih menjadi alasan nya untuk hidup. Saudara nya. Jika bukan karena saudara nya itu, sudah pasti pemuda ber iris mata merah ruby itu sudah lama tiada seperti anak anak lain nya yang juga menjadi kelinci percobaan.
Sein tak mampu melihat korban yang terus berjatuhan. Sudah cukup baginya melihat anak anak yang menangis dan menderita karena percobaan ketua mafia itu. Hal itu yang membuat nya memilih untuk bergabung dengan Shadow Agen. Untuk menyelamatkan mereka dari penderitaan yang telah lama mereka rasakan. Mengembalikan binar di mata mereka yang mulai kosong.
Membuat mereka kembali merasakan kebahagiaan. Khusus nya untuk Revan dan Rei.
TBC
__ADS_1