
"Kau pikir aku akan membiarkan mu melukai nya?"
Pergerakan yang terlalu cepat. Ia benar benar tidak menyadari nya.
Naru sendiri tidak menyadari sejak kapan pemuda itu ada di belakang nya dan menusukkan sebuah besi kecil yang mengalirkan listrik membuatnya langsung terjatuh akibat tubuhnya yang mati rasa karena aliran listrik.
Dua pria yang melihat itu cukup terkejut. Bagaimana bisa dia melakukan itu?
Namun, sebuah seringaian terbentuk di wajah Saki saat melihat tatapan tajam pemuda itu.
"Sepertinya akan semakin seru" Ucap nya dan mulai menembak ke arah Revan.
Dengan lincah pemuda itu terus menghindar dan menangkis setiap peluru yang meluncur pada nya. Ia tak akan membiarkan saudara nya terluka karena serangan mereka. Entah mengapa Revan bersyukur karena memiliki kemampuan khusus karena percobaan itu.
Namun, dari belakang nya Farel meluncurkan tendangan berputar yang nyaris saja mengenai kepala nya jika ia tidak segera menghindar. Melawan dua orang sendiri itu cukup melelahkan. Terlebih lagi kemampuan mereka yang cukup hebat membuat nya harus berusaha lebih keras untuk melawan.
Di sisi lain, Raile masih cukup tercengang dengan apa yang terjadi. Pria itu langsung saja menyerang dirinya saat lengah dan hampir mati tertembak jika saja rekan nya tidak menolong nya dengan cepat.
Melihat bagaimana cara Revan melawan mereka, dan kecepatan pemuda itu sedikit sulit untuk dipercaya.
Entah karena dirinya yang masih terkejut atau memang pergerakan pemuda itu yang terlalu cepat untuk penglihatan nya, membuat nya tidak sadar dengan serangan yang Ren berikan pada pria di belakang nya.
Tapi ada yang janggal, bukankah dia hanya menggunakan sebuah besi kecil? Bagaimana bisa membuat seseorang langsung tidak berdaya seperti itu? Bukankah itu aneh?
Namun ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal itu sekarang. Raile harus membantu Ren. Tidak mungkin ia membiarkan pemuda itu melawan dua orang sendirian bukan?
Raile memandang pria yang masih tergeletak tak sadarkan diri di dekat nya. Untuk mencegah Naru kembali menyerang saat sadar, Raile berjongkok dan mengeluarkan tapi yang ia simpan di saku nya. Ia mengikat tangan dan kaki pria itu dengan kuat agar tidak bisa melarikan diri.
"Yosh..." Setelahnya, Raile langsung langsung ikut menyerang dengan meluncurkan tendangan yang nyaris mengenai Farel.
Beruntung, refleks pria itu cukup bagus. Sebagai pembunuh bayaran, ia sudah berlatih bertahun tahun. Jadi ia jelas sudah terbiasa dengan serangan dadakan. "Wah wah... Jadi kau mau cari mati ya? Boleh saja." Ujar Farel sambil menatap remeh Raile.
"Bukan cari mati, tapi akan menarik mu ke dalam sel penjara." Balas Raile sambil menatap tajam dan langsung meluncurkan pukulan kuat pada pria itu.
Seulas senyuman terbentuk di bibir Raile saat melihat itu. Setidaknya ada yang membantunya sekarang.
__ADS_1
Namun,
"Sampai kapan kau mau menyembunyikan identitas mu? Penghianat." Bisik Saki di dekat telinga Revan membuat pergerakan nya goyah.
Hal itu tentu tidak di sia siakan oleh Saki yang langsung mengarahkan tangan nya ke pada Revan dan menekan pelatuk pistol nya.
Dar!!
"Ren!!"
Seru Raile yang melihat Saki menembakkan peluru pada Ren. Namun beruntung, pemuda itu sempat menepis tangan Saki hingga tembakan nya meleset.
Dengan cepat, Revan memutar tangan Saki ke belakang dan mengunci nya membuat pria itu tidak bisa bergerak.
Revan mendekatkan wajah nya pada telinga Saki dan berbisik "sejak awal aku memang tidak memihak Dark Devil. Jadi aku tidak bisa dikatakan penghianat."
Bzzzttt
"AAKKHHHH!!!! " Jerit Saki kesakitan saat Revan mengalirkan listrik pada leher nya. Hanya butuh waktu singkat untuk membuat pria itu tidak sadarkan diri. Revan langsung melepaskan genggaman nya yang membuat Saki langsung jatuh.
Ditambah lagi bagaimana cara pemuda itu mengalahkan kedua rekan nya, siapa dia sebenarnya?
Saat itu ia belum menyadari jika yang berhadapan dengan nya sekarang adalah subjek percobaan dari tuan nya. Farel mengepalkan tangan nya kesal. Ia tidak terima kedua rekan nya dikalahkan begitu saja. Entah mengapa perasaan takut dan khawatir muncul di benak nya. Apa selanjutnya dirinya juga akan bernasib sama seperti kedua tekan nya itu?
Namun dirinya juga tidak menyadari, jika sebuah kesalahan fatal untuk nya panik di saat seperti ini. Dari belakang, Raile melompat dan meluncurkan tendangan yang tepat mengenai kepala belakang Farel yang membuat pria itu langsung jatuh tak sadarkan diri.
"Akhirnya selesai juga!" Ucap Raile sambil menyeka keringat yang mengalir turun dari pelipis nya.
Ia memandang ke arah rekan nya yang terlihat cukup kelelahan. Banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada teman nya itu. Sudah jelas aksinya tadi membuatnya penasaran bukan?
"Hey Ren, aku-" Namun kata kata nya mendadak terhenti saat melihat Ren seperti kesakitan.
Revan berdecak kesal. Kepala nya mendadak berdenyut sakit akibat aliran listrik bertegangan tinggi yang mulai kembali menyerang nya. Batas waktunya sudah habis, Avren pasti sudah mengetahui nya. Bagaimana saat ia kembali ke markas Dark Devil nanti? Sudah jelas penyiksaan yang akan ia dapat
"Akh..." Rintih nya saat mulai merasakan sakit di leher nya yang semakin parah. Aliran listrik yang ia rasakan lebih besar dari sebelum nya. Ini cukup menyakitkan.
__ADS_1
Raile yang melihat itu langsung berlari menghampiri rekan nya. "Ren! Apa kau baik baik saja? Ada apa?" Tanya Raile panik. Bagaimana tidak? Mendadak kesakitan gitu jelas membuatnya panik lah!
"A-aku baik baik saja." Bohong Revan. Jujur saja ia tidak tahu harus berkata apa kali ini. Tapi ia juga tidak bisa membuat saudara nya khawatir seperti itu. Dalam hati, Revan ingin terus bertahan, namun sayangnya tubuh nya tidak mampu menahan sengatan listrik itu lebih lama lagi.
"Baik dari mana?! Jelas tidak baik baik saja lah!!"
Oke, Revan tidak bisa menjawab lagi sekarang. Rasa sakit akibat sengatan listrik perlahan mulai merenggut kesadaran nya.
'Sial... Kenapa malah berakhir seperti ini?' batin Revan. Pandangan nya semakin memudar. Ia bahkan tidak bisa mendengar jelas apa yang Raile katakan.
"Ren? Ren!!" Seru Raile makin panik ketika akhirnya Revan jatuh tidak sadarkan diri.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia semakin panik di sini sendiri.
*****
BRAK!!
"BAGAIMANA BISA DIA PERGI HAH?! DASAR KALIAN TIDAK BERGUNA!!" Bentak Avren pada dua orang di hadapan nya. Dirinya emosi. Bagaimana bisa 'barang berharga' nya berhasil pergi? Dari mana?
"Maaf tuan. Kami akan lebih berhati hati." Jawab salah satu pria itu.
"Cepat cari dia sampai dapat!!" Perintah Avren.
"Baik!!" Jawab mereka lantang dan langsung pergi.
"Sial!!"
BRAK!
Lagi lagi Avren memukul meja dengan keras sebagai pelampiasan kekesalan nya. Bagaimana barang berharga nya pergi begitu saja? Bukanlah ia sudah menempatkan bawahan nya untuk berjaga di depan ruangan itu? Selain seharusnya ia langsung tahu begitu Revan melangkahkan kaki keluar. Jika begini, jelas ada yang menyabotase kalung itu.
"Lihat saja, aku akan memberimu pelajaran nanti."
TBC
__ADS_1