
Kegelapan yang menyelimuti mulai sirna, terganti dengan rasa sakit di belakang kepala nya. Riz membuka kelopak matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang memasuki penglihatan nya. Tangan nya refleks mengusap sumber rasa sakit yang berpusat di kepala nya. Beruntung tidak sampai luka di sana.
Riz mengedarkan pandangan nya ke sekitar. Sekali lihat saja ia sudah tau jika dirinya di gudang sekarang. Barang barang bekas yang berserakan. Ditambah debu dan jaring laba laba yang menempel di dinding memberitahu jika tempat ini sudah lama tidak di gunakan.
"Sialan... Kenapa aku bisa di sini?"
Riz mencoba mengingat kembali, saat dimana ia mencoba menguping pembicaraan seseorang dan mengikuti nya, tapi justru membawa nya pada situasi seperti ini. Benar benar menyebalkan.
Riz mencoba berdiri, mencari jalan keluar dari tempat itu. Ia mencoba membuka pintu yang berada tak jauh dari tempatnya. Tapi sayangnya terkunci. Langsung saja ia mencoba untuk mendobraknya, namun hasilnya sia sia. Pintu itu terlalu kuat.
"Argh!! Bagaimana cara keluar dari sini sekarang?? Andai saja aku bisa lebih hati hati. Pasti gak bakal gini akhirnya." Keluh Riz. Ketahuilah, penyesalan memang selalu datang di akhir.
Riz memperhatikan sekitar nya dan menemukan sebuah jendela kaca, namun letak nya cukup tinggi. bahkan lebih dekat dengan atap daripada lantai. "Tinggi amat.. Gimana cara keluar nya?" Pikirnya. Namun di sisi lain ia juga terkejut melihat pemandangan langit malam yang terlihat dari balik jendela kaca itu. "Tunggu, ini sudah malam?! Gawat... Raile pasti mencari ku! Aku pasti bakal diomelin habis habisan karena bolos!!"
Entah mengapa bayangan ekspresi marah Raile muncul dalam pikiran nya. Terlebih lagi dengan kobaran api di belakang nya, sungguh mengerikan!!
"Ah sudahlah nanti saja pikirkan raja iblis itu. Sekarang pikirkan bagaimana keluar dari sini."
Senyuman tercetak di wajah nya. Bukan Riz namanya jika tidak bisa mencari cara untuk keluar dari sana.
Banyak terdapat kotak dan barang barang yang terbuat dari kayu. Itu bisa membantu nya untuk naik ke atas. Dengan cepat pemuda ber iris biru itu langsung menyusun kotak dan kayu di ruangan itu untuk memudahkan nya memanjat.
Sebagai seorang agen, memanjat seperti ini bukan lagi masalah untuk nya. Dirinya sudah terbiasa main naik naik bangunan. Tak butuh waktu lama, pemuda itu sudah sampai di jendela itu. Beruntung tak terkunci. Dengan cepat namun juga hati hati agar tidak ketahuan, ia membuka jendela itu. Ia melihat keluar, jaraknya cukup tinggi juga dari tanah. Jika ia melompat akan berbahaya. Ditambah lagi, ia tidak tahu apa ada yang berjaga di sana atau tidak.
Riz mendongak, menyadari jika jendela itu tak terlalu jauh dari atap. "Kayaknya lewat sana lebih aman." Gumam nya dan langsung memanjat.
Pemandangan langit malam tanpa awan terlihat begitu indah. Terlebih lagi dengan bulan dan bintang yang menghiasi bagaikan permata yang berkelip di angkasa. Ditambah angin sejuk yang bertiup menerpa tubuh nya membuatnya kembali segar.
"Haha.... Aku suka angin..." Ucap Riz sambil menarik nafas dalam. Walau ia tau, angin malam itu tak baik untuk kesehatan, tapi udara kebebasan itu selalu baik untuk siapapun.
Namun, mendadak ia terdiam dan menunduk saat mendengar suara. "Para penculik itu datang lagi. Hah! Mereka kira bisa menangkap ku semudah itu?"
Riz mencoba memperhatikan orang orang itu, mencoba mencari informasi lebih banyak dari mereka. Ia tau jelas mereka anggota Dark Devil. Tapi, mengenai percobaan yang dilakukan pada Revan dan kemampuan khusus yang mereka bicarakan... Itu sudah jelas hasil dari percobaan nya.
__ADS_1
Tapi... Jika itu benar Revan, artinya selama ini dia menjadi anggota Shadow Agen? Tapi apa alasan nya? Untuk balas dendam?
Itu yang perlu ia tau sekarang.
"Tuan Avren sudah meminta anak baru itu untuk mengawasi Revan. Jadi sepertinya tidak masalah untuk saat ini." Ujar salah seorang pria itu.
"Kudengar kemampuan nya lumayan hebat. Terlebih lagi dia pembunuh bayaran. Aku sedikit heran, kenapa tuan Avren justru meminta pembunuh bayaran untuk mengawasi Revan. Atau... Tuan Avren ingin membunuhnya setelah ketahuan berhianat?"
Riz membulatkan mata. Meminta pembunuh bayaran mengawasi nya? Atau membunuh Revan? Ini tidak bisa di biarkan!
"Sudahlah, tidak perlu pikirkan itu. Sekarang, mari singkirkan tikus kecil ini. Dia pasti sudah tau banyak tentang semua ini."
"Jangan harap bisa menangkap ku begitu saja!!"
BRUK!
"AKH!!"
Riz langsung melompat turun dari atap dan mendarat tepat di atas salah satu pria dan membuat pria itu terjatuh, bahkan langsung pingsan. Beruntung gak gepeng tuh orang.
"Kau tadi bilang apa? Menyingkirkan ku? Bagaimana jika kau saja yang lenyap dari dunia ini?"
BRAK!!
Riz langsung meluncurkan tendangan yang tepat mengenai dinding di samping kepala pria itu. Lewat beberapa senti saja pasti kepala pria itu yang sudah terkena tendangan nya.
Pria itu menggeram kesal. Ia langsung mengeluarkan sebuah pisau kecil dari dalam saku celana nya dan mencoba menusuk Riz. Namun, dengan cepat pemuda itu memutar tubuhnya, bersamaan dengan tangan kanan nya yang memutar salah satu tangan pria itu ke belakang tubuh nya dan mengunci nya. Gerakan tiba tiba itu tentu saja membuat sang pria kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Senyuman tercetak di wajah Riz. Ia mendekatkan wajah nya pada pria itu. "Hey, bisa beritahu aku, apa yang kau tau tentang Dark Devil dan percobaan apa yang di maksud?" Tanya Riz dengan nada ceria.
"Aku tak akan mengatakan nya! Lepaskan aku dasar bocah!!" Pria itu mencoba memberontak. Tapi Riz langsung duduk di atasnya dan memasang sebuah borgol pada kedua pergelangan tangan pria itu.
Pemuda itu terkekeh. Ia mengambil pisau kecil yang pria itu gunakan untuk menyerangnya tadi, dan kini ia arahkan ke leher pria itu sendiri.
__ADS_1
"Haha! Hey hey hey... Tenang saja... Kau hanya perlu menjawab pertanyaan ku, maka kau akan selamat. Tapi kalo gak mau..." Riz sengaja menjeda ucapan nya dan semakin mendekatkan pisau nya pada leher pria itu. "Aku akan membuatmu tertidur selama nya. Tenang... Sakit nya sebentar kok!"
Pria itu meneguk ludah paksa begitu merasakan pisau itu semakin dekat dengan leher nya. Jika ia menak memberitahu, hidupnya akan berakhir sampai sini. Sepertinya tidak ada cara lain.
"Baiklah baiklah aku akan memberitahu mu semuanya!!"
Riz tersenyum puas. Tapi ia masih enggan menjauhkan pisau itu dari leher sang pria. "Katakan semua yang kau tau tentang Dark Devil dan percobaan apa yang di maksud. Apa benar, Revan dijadikan sebagai kelinci percobaan oleh mereka?"
Pria itu meneguk ludah paksa. Memang tidak ada cara lain selain memberitahu semua yang ia tau jika ingin selamat. Melihat ekspresi dan bagaimana pemuda itu mengalahkan nya, ditambah posisi nya yang terjebak saat ini sepertinya mustahil untuk kabur.
"B-baiklah! Yang kutahu, mereka melakukan percobaan untuk membuat senjata menggunakan anak anak sebagai kelinci percobaan nya. Mereka membuat obat obatan dan peralatan khusus agar bisa mengendalikan tubuh anak anak itu. Hasil dari percobaan itu sendiri, anak anak yang berhasil akan memiliki semacam kekuatan yang juga akan menjadi senjata untuk ketua menguasai dunia.
Ada dua yang selamat. Salah satunya kembali tertangkap dan satunya lagi, Revan, percobaan yang hampir sempurna kini dalam perawatan di rumah sakit. Dan... Salah satu anggota baru sedang mengawasi nya. Selain itu, mereka juga merencanakan untuk membebaskan rekan mereka yang tertangkap. " Jelas pria itu panjang, lebar dan rinci.
Mata biru Riz menatap lekat pada mata coklat pria yang ia tahan. "Kau yakin hanya itu?" Tanya Riz memastikan.
Pria itu menjawab cepat. "Iya! Hanya itu. Kumohon lepaskan aku!"
Riz justru terkekeh. "Heh, lepaskan? Tidak tidak..." Pemuda itu tersenyum lebar sambil menatap kejam. "Tidak ada lagi kata maaf untuk mafia seperti kalian. Sekarang saatnya kau MATI!!!"
"HUAAAAAAAA!!!!!"
Seketika pria itu langsung teriak dan pingsan. Riz justru mengerjapkan mata nya. "Padahal aku bercanda tadi. Apakah acting ku sebagus itu? kayaknya aku berbakat jadi artis. "
Riz menarik pisau yang ia gunakan untuk mengancam pemuda itu. "Dasar cemen. Gitu aja pingsan."
Yah... Siapa juga yang gak bakal pingsan setelah melihat tingkah Riz yang kaya benar benar mau bunuh orang gitu? Namun, saat berikutnya ia tersadar akan sesuatu. Ia kembali teringat dengan apa yang Rei jelaskan tentang Revan dulu. Ditambah lagi, jika begitu artinya orang yang ikut misi dengan nya adalah orang yang ia dan Raile incar selama ini.
"Tapi kenapa dia bergabung padahal ia tau itu bisa mengancam nyawa nya?"
Walau identitas asli Revan kini sudah terbongkar, tapi masih banyak pertanyaan yang tersimpan dalam benak nya. Selain itu..
"Tadi tuh orang bilang mereka bakal bebasin anggota yang di tahan kan? Waduh bahaya! Aku harus kasih tau lainnya sekarang!!"
__ADS_1
TBC