Shadow Agen

Shadow Agen
Kehangatan di pagi hari


__ADS_3

"Bagaimanapun kalian harus bisa kabur dari sini!"


"Tapi bagaimana dengan mu?"


"Tenang saja, aku akan menyusul kalian nanti. Akan ku alihkan perhatian mereka, kalian pergi lah!"


"Bagaimana bisa kami meninggalkan mu?!"


"Berjanji lah, jika kalian berhasil, kalian akan membantu menyelamatkan yang lainnya."


"Baiklah kami berjanji."


"Jaga diri mu."


"Tentu."


Dua pemuda berlari menjauhi tempat itu, meninggalkan seorang pemuda yang melangkah berlawanan arah mencoba menahan beberapa orang yang berlari ke arah nya.


'Setidaknya mereka selamat...'


****


Van...


Rev...


Revan...

__ADS_1


REVAN!


"HUWAA!!!"


Jedug!


"Aduh!!"


Revan mengusap dahi nya yang terasa sakit. Bagaimana tidak? Pagi pagi langsung di teriaki hingga membuat nya terkejut dan justru terbentur dahi Raile saat terbangun. Sungguh, apakah tak ada cara membangunkan yang lebih wajar? Setidaknya bangunkanlah dengan cara yang lembut!


"Ugh... Ada apa sih teriak seperti itu pagi pagi? Gak bisa kah bangunin dengan lembut?" Tanya Revan yang masih mengusap dahi nya.


"Aduh... Aku juga terkejut tau! Mana ku tau kau bakal langsung bangun gitu. Habisnya... Kau sempat mengigau tadi. Makanya aku membangunkan mu." Jelas Raile yang juga mengusap dahi nya.


Revan mengernyitkan dahi. Mengigau? Apa karena mimpi tadi? Ia mencoba mengingat mimpi itu lagi. Ia merasa tak asing dengan mimpi itu, seolah ia benar-benar pernah mengalami nya. Tapi kapan? Sekeras apapun mencoba ia tak bisa mengingat nya dengan jelas. Ditambah, siapa orang yang ada di mimpi nya itu?


Revan menggeleng. Ia tersenyum kecil. "Tidak apa kok. Terimakasih sudah membangunkan ku."


"Baiklah. Cepat bersiap ya, kami tunggu di meja makan." Ujar Raile dan melangkah keluar kamar Revan.


Revan hanya membalas dengan anggukan. Sebenarnya ia masih memikirkan mimpi nya tadi, tapi seperti nya... Tak baik juga jika terlalu di pikir keras.


Pemuda itu turun dari tempat tidur dan segera berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Beberapa menit berlalu, akhirnya ia selesai mandi dan merapikan pakaian nya.


Revan memandang dirinya di cermin. Tak ada lagi luka di tubuh nya. Tak ada lagi memar yang menyakitkan. Kini ia sudah lepas dari semua penderitaan itu. Tapi... Apa ia benar akan seperti ini selama nya? Terkadang rasa takut masih saja membayangi nya setiap kali ingatan masa lalu itu muncul di kepala nya. Kembali menaburkan garam di atas luka nya yang mulai sembuh, membuat perih kembali menghampiri dada nya.


Revan menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan. Ia tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Tidak lagi.

__ADS_1


Kemudian ia berbalik melangkahkan kaki nya menuju ruang makan. Di sana sudah ada kakek nya, Fio dan Raile yang sedang menunggu.


Revan sedikit mengernyitkan dahi. "Dimana Riz? Dia belum datang?"


"Kak Riz itu kan makhluk yang paling sulit di bangunin, kak Rev... Butuh usaha super buat bisa bangunin kak Riz." Ujar Fio di susul anggukan dari kakek nya dan Raile.


Sungguh sesulit itu kah untuk membangunkan Riz?


"Tapi, ada cara mudah juga untuk membangunkan nya."


Revan memandang penasaran. "Bagaimana?"


Raile menarik nafas panjang "RIZ!!! MAKANAN SUDAH SIAPPPP!!!!" Teriak Raile sekeras mungkin sampai membuat semua orang di ruangan itu menutup telinga mereka.


Dan benar saja, tak butuh waktu lama Riz langsung datang sambil berlari. Hebatnya, pemuda itu masih memeluk bantal guling dan lengkap memakai baju tidur berwarna biru dengan motif bebek favorit nya.


Fio yang melihat itu mencoba menahan tawa. "Pfftt... Kak Riz baju tidur nya imut banget!"


"Cepat mandi dulu atau kau tak boleh makan!!" Ujar Raile sambil menatap tajam.


"B-baik emak!!"


"Woy!! Aku bukan emak mu!! Lagian aku laki laki lah!!" Teriak Raile. Revan hanya tertawa kecil.


Setelah nya sarapan mereka di mulai dengan ceria. Beberapa kali Riz membuat candaan yang membuat semua orang tertawa.


Suasana sarapan pagi yang penuh akan kehangatan dan keceriaan. Sudah lama Revan tak merasakan ini.

__ADS_1


Tapi, walau begitu ia tau, ia tak bisa terus tenggelam dalam kebahagiaan ini. Masih banyak hal yang harus ia selesaikan. Diantaranya, tentang orang yang tak sengaja ia temui saat itu dan mimpi yang baru ia alami malam tadi.


__ADS_2