
Di sebuah cafe dengan dekorasi ala abad pertengahan, beberapa remaja tampak asik menikmati minuman pesanan mereka. Suasana yang menenangkan dengan berbagai lukisan terpajang di dinding, kaca patri dan ornamen khas abad pertengahan lainnya, membuat para pengunjung seakan bernostalgia ke masa lalu.
Tapi, bukan itu tujuan mereka. Revan, Raile, Erano, Eden, Riz, Aira dan Himaki memperhatikan seorang pria yang sedang asik minum tak jauh dari meja mereka.
Itu adalah Naru yang sempat mereka lihat memasuki cafe ini.
Padahal niat awal mereka hanya ingin latihan, tapi sekarang justru teralih dengan sosok pria anggota Dark Devil yang bagi mereka mencurigakan?
Revan menghela nafas dan meletakkan secangkir kopi yang di pesan nya. "Kita sudah lama menunggu di sini, kayaknya memang gak ada yang mencurigakan." Ucap Revan setengah berbisik.
"Gak ada yang tau kan? Kita tunggu saja dulu dan amati." Ujar Eden sambil mencoba menutupi wajah nya dengan sebuah majalah.
Revan menghela nafas pasrah. Akhirnya mereka mengamati nya lebih lama lagi. Tak lama, seorang pria berjas hitam datang dan duduk di hadapan Naru.
Riz berbisik. "Akhirnya datang juga. Sudah ku bilang kan?"
Diam diam, mereka memperhatikan pria itu yang tampak mengobrol akrab dengan Naru. Apa mereka sudah lama kenal?
Himaki tampak memperhatikan. Pria itu belum pernah ia lihat di Dark Devil sebelumnya. Walau belum terlalu lama Himaki ada di Dark Devil, tapi berkat ingatan nya yang kuat, Himaki dapat dengan mudah mengingat wajah dan nama setiap orang yang di temui nya. Dan sejauh ini, belum pernah sama sekali ia melihat orang itu.
"Sebenarnya dia siapa?" Gumam Himaki, tapi masih bisa di dengar oleh teman teman nya yang lain.
"Kau tak pernah melihatnya? Apa dia bukan anggota Dark Devil?" Tanya Revan.
__ADS_1
Himaki menggeleng. "Tidak. Sepertinya dia bukan anggota Dark Devil." Himaki menjeda ucapan nya. Ia kembali memperhatikan percakapan kedua pria itu. "Apa sebenarnya yang mereka rencanakan?"
"Bukan anggota Dark Devil ya... Apa mungkin anggota organisasi mafia lain? Kalian tau Delaria City kan? Tempat ini di penuhi oleh para mafia dan pelaku kriminal lainnya." Sahut Aira.
Mengingat tingginya tingkat kriminal dan organisasi mafia di kota ini, sepertinya tak heran jika Naru juga bekerjasama dengan organisasi mafia lain.
Tapi, mengingat bagaimana sifat Avren yang gila akan kekuasaan dan super ambisius, ia yakin pria kejam itu akan marah saat tau anggota nya bekerjasama dengan organisasi lain.
"Terimakasih untuk bantuan mu. Seperti biasa, kalian memang selalu bisa di andalkan. " Ujar pria itu sambil menerima koper yang Naru berikan.
"Sama sama. Tapi, aku juga harus berterimakasih pada anda kan. Jika bukan karena anda, rencana ini tidak akan berjalan dengan baik." Balas Naru dengan bahasa yang formal.
Pria di hadapan nya mengangguk dan mengeluarkan sebuah flashdisk dari dalam saku jas nya. "Ini yang kau perlukan. Dengan ini tujuan mu akan tercapai."
Naru tersenyum puas dan menerima flashdisk berwarna hitam itu. "Terimakasih banyak. Dengan ini, rencana ku untuk balas dendam akan terlaksana dengan baik. Jika begitu, saya permisi." Naru sedikit membungkuk dan beranjak pergi dadi tempat itu.
"Balas dendam? Balas dendam tentang apa?" Tanya Aira bingung.
"Mungkin tentang salah satu rekan nya yang meninggal. Ku dengar ada yang membunuh nya, makanya kedua rekan nya yang lain ingin balas dendam atas kematian salah satu rekan nya." Jelas Himaki.
"Sadis amat balas dendam segala. Nanti kalau rawat tuh orang gak tenang gimana?" Tanya Riz sambil meminum es coklat nya.
"Paling yang di gentayangin kamu. Kamu kan pernah meledek mereka dulu." Balas Raile.
__ADS_1
"Kau sendiri juga ikutan." Balas Riz sengit sambil menjulurkan lidah nya.
Seperti anak kecil saja...
Sementara itu, Revan terdiam. Kepala nya sedikit berdenyut sakit. Ada hal yang ia lupakan yang mungkin ada kaitan nya dengan itu.
Di saat seperti ini, Revan merutuki dirinya yang harus kehilangan ingatan karena tertembak. Mungkin saja ada informasi penting yang juga ia lupakan.
'Lebih baik kau memang tak mengingat nya.'
Revan menghela nafas dan mengalihkan pikiran nya. Hanya dengan itu saja ia sudah paham dengan apa yang di maksud.
"Yang jelas, kita harus cari tau apa isi flashdisk itu. Ini bisa jadi masalah serius." Ujar Revan akhirnya.
Lantas semua irang memandang ke arah nya, membuat Revan mengernyitkan dahi. "Kenapa?"
Senyuman jahil muncul di bibir Riz. "Perasaan tadi kau yang gak setuju deh Rev. Tapi sekarang malah ngajakin. Terbawa suasana kah?"
Revan mengalihkan pandangan nya. "Tidak. Aku cuma nggak mau nambah masalah aja." Jawab nya.
"Baiklah, kalau gitu kita ikuti lagi diam diam." Ujar Eden.
"Tapi dia pasti sudah pergi jauh kan?" Naru sudah keluar sejak tadi, jika di kejar sekarang pun, mereka pasti sudah kehilangan jejak nya.
__ADS_1
Eden justru menyeringai. "Tak perlu khawatir... Aku kan ada. Aku hanya perlu mengendalikan CCTV dan melihat rekaman nya. Banyak kan rumah di sekitar sini yang memasang CCTV."
Lannya langsung mengangguk setuju. Ternyata kemampuan dapat mengendalikan teknologi seperti itu sangat membantu untuk mendapatkan data. Tidak heran jika mereka bisa mendapatkan begitu banyak data dengan mudah.