Shadow Agen

Shadow Agen
Anggota Baru Dark Devil


__ADS_3

"Ketua, mereka adalah orang yang anda minta saya cari untuk mengawasi Revan. Walau masih anak anak, tapi kemampuan mereka cukup hebat." Ucap seorang pria ber iris kuning kehijauan bersama dengan empat orang di belakang nya.


Avren mengerenyitkan dahi. Ekspresi wajahnya datar melihat tiga orang pemuda dan satu orang pria yang terlihat cukup berandal di belakang Soni.


Pemuda pertama memiliki rambut sedikit pirang dan iris mata coklat yang cukup tajam. Pemuda kedua mengenakan jaket berwarna hijau dan mata sebelah kanan nya di perban. Pemuda ketiga mengenakan kacamata dan terdapat bekas luka di dahi sebelah kanan nya. Serta seorang pria keturunan Jepang dengan rambut poni yang cukup panjang sedikit menutupi mata sebelah kanan nya.


Avren menghela nafas. Dalam pikiran nya terlintas pertanyaan, darimana Soni memungut mereka?


"Kenalkan, Pian,"


"Apa lihat lihat?!" Cetus anak ber rambut pirang sambil melemparkan tatapan tajam.


"Gen,"


"Hai! Saya Gen!" Ucap pemuda yang sebelah mata nya di perban itu sambil melambaikan tangan nya dan tersenyum ceria.


"Sai,"


"Kapan bisa mulai? Dah bosen nih!" Keluh pemuda berkacamata sambil melipat tangan nya di depan dada.


"Mereka ini bersaudara. Sebut saja PiGenSai. Kemampuan mereka dalam beladiri dan senjata bisa di andalkan." Soni akhirnya berhenti menjelaskan. Avren menoleh pada Soni dengan tatapan sedikit kesal.


"Jadi setelah ku suruh kau mencari orang untuk mengawasi Revan, kukira kau akan mencari orang yang dapat di percaya. Tapi kau malah membawa bocah berandalan kesini?" Ujar Avren dengan nada meremehkan.


"Heh! Jangan asal ngomong ya! Seenaknya aja kau memanggil kami bocah!" Ujar pemuda ber rambut pirang yang emosi setelah mendengar perkataan Avren.


Tapi dengan cepat Soni menjelaskan keunggulan keunggulan dan kemampuan ketiga pemuda itu pada Avren. Pria itu hanya ber oh ria mendengar semua penjelasan itu. Walau dalam pikiran nya, melihat sikap dan bagaimana penampilan mereka yang seperti berandal, memang tidak cocok jika dijadikan pengawas untuk Revan. Sepertinya akan lebih cocok jika menjadi pembunuh.


"Dan satu orang lagi, Tatsuya Himaki. Seorang pembunuh bayaran terhebat di Jepang." Jelas Soni.

__ADS_1


Pembunuh bayaran ya? Avren meminta orang untuk mengawasi Revan dan membawanya kembali ke Dark Devil, bukan untuk membunuh nya! Kenapa malah membawa pembunuh bayaran ke sini?


Avren menghela nafas kesal. Sungguh kesal. Dirinya memijat pelipis nya yang agak pening. Dari mana Soni memungut mereka semua? Tapi membuang mereka juga bukan pilihan yang tepat. Mungkin mereka bisa digunakan untuk hal lain.


"Begini saja, aku bagi kalian jadi dia tim. Himaki, kau yang bertugas mengawasi dan membawa Revan kembali ke markas Dark Devil. Dan kalian bertiga.


Ketiga pemuda itu langsung memberikan tatapan tajam.


" Bantu Soni membebaskan Farel, Saki dan Naru. Jangan sampai tertangkap atau melakukan hal yang mencurigakan."


"Siap tuan!" Jawab mereka semua, kecuali Pian yang masih bersikap acuh.


"Tapi tuan, bagaimana dengan Rei?" Tanya Soni mengingat Rei ada di Dark Devil sekarang.


"Itu biar aku yang urus. Aku akan sedikit bermain main dengan nya." Ujar Avren dan berlalu pergi.


Setelah atasan nya itu menghilang dari pandangan nya, Soni menghembuskan nafas lelah. Dirinya harus bersama anak anak baru atau menjadi babysitter mereka?


****


Terkadang tak ada yang tau bagaimana takdir akan berjalan. Tidak ada yang tau kemana arus kehidupan akan membawa. Ingin rasanya merasakan kembali kebahagiaan yang sempat sirna dalam hidup nya.


Ia pikir, baru sebentar dirinya merasa bebas dan dapat kembali bersama orang yang di sayang nya. Namun sayang, takdir berkata lain. Tidak semua hal yang di inginkan akan selalu terjadi. Awalnya dirinya pikir akan merasakan kembali kebahagiaan yang sempat menghilang. Bersembunyi dari kisah hidup nya yang membuat hari hari nya selalu kelam bagaikan langit malam tanpa bintang.


Tapi sayangnya, harapan nya itu kembali pupus. Apa keinginan nya untuk bahagia terlalu tinggi untuk dapat ia raih?


Kenapa takdir begitu kejam padanya? Apakah semesta tak bisa membiarkan nya senang sebentar saja?


Itulah yang Revan pikirkan sekarang. Baru lewat beberapa jam setelah dirinya siuman. Pandangan nya kosong menatap ke luar jendela yang membingkai langit biru di luar sana. Sebuah jarum infus masih menancap di tangan nya yang sebenarnya cukup tidak nyaman bagi Revan.

__ADS_1


Ia kira bisa bebas selama ada di Shadow Agen. Tapi ia baru saja melupakan fakta bahwa dirinya masih menjadi senjata bagi ketua geng mafia terbesar di Delaria City. Selama kalung yang mengekang dirinya masih belum lepas, dan Avren masih mengawasi nya, sepertinya mustahil baginya untuk dapat menghirup udara kebebasan.


Terlebih lagi jika seorang pria bermanik silver terus mengawasi nya di sana. Rambut nya yang agak panjang cukup mencolok. Tatsuya Himaki, orang yang Avran minta untuk mengawasi nya di sana.


Revan sempat ingin bertanya, sejak kapan pria itu ada di sana? Tapi ia lebih memilih mengurungkan niatnya untuk bertanya.


"Bagaimana kondisi mu sekarang?" Tanya Himaki basa basi. Namun Revan masih tetap setia dengan posisi nya. Bahkan tak bergerak sedikitpun.


"Kesalahan besar bagimu karena mencoba berhianat. Justru itu akan membuatmu lebih tersiksa." Himaki masih belum menyerah untuk mengundang perhatian pemuda itu. Namun hasilnya sia sia. Manik ruby itu tetap terarah pada langit biru di luar sana. Lebih terlihat merah gelap saat ini. Seakan tak ada sedikitpun cahaya di dalam manik merah nya. Entah mengapa Himaki justru merasa iba.


"Lebih baik kau pergi dari sini."


Himaki bungkam seketika. Kata kata yang terdengar enteng, namun mengisyaratkan kebencian dan kekesalan di dalam nya.


"Bukankah lebih mudah untuk terus mengikuti perintah?"


"Kau pikir... Aku mau dijadikan senjata? Kau tak akan mengerti apa yang ku rasakan selama ini." Revan menarik nafas panjang. "Aku ingin tanya, apa kau tau apa itu kebahagiaan?"


Seakan semua kata lenyap dari dalam dirinya. Jika itu hanya jawaban asal, ia akan dengan mudahnya mengatakan 'saat kau merasa senang' tapi ia sendiri tau bukan itu jawaban nya.


"Seburuk itukah?" Bukannya jawaban yang diberikan, tapi justru pertanyaan yang ia lontarkan. Kali ini manik ruby itu terarah pada nya. Memandang pria manik silver yang duduk di dekat nya.


"Kau baru di Dark Devil?"


Himaki mengangguk sebagai jawaban. Revan yang melihat itu menghembuskan nafas nya, lalu kembali membaringkan tubuhnya. "Kalo kau pembunuh bayaran, ku sarankan jangan bunuh rasa kemanusiaan mu sendiri. Itu jika kau masih punya hati."


Himaki masih memandang pemuda di hadapan nya itu, yang kembali menutup mata nya. Dalam benaknya masih terpikir kata kata Revan barusan. Entah mengapa itu membuatnya kembali teringat mengenai alasannya menjadi pembunuh bayaran.


Namun dengan cepat, Himaki langsung menepis pemikiran itu. Bagaimanapun ia harus menjalankan tugas yang tuan nya berikan pada nya. Membawa kembali Revan ke Dark Devil.

__ADS_1


Namun, tidak ada yg tau apa yang akan terjadi di masa depan. Pemikiran nya bisa saja berubah seiring berjalan nya waktu.


TBC


__ADS_2