Shadow Agen

Shadow Agen
Jawaban


__ADS_3

Berita tentang pencurian berlian itu sudah menyebar luas. Shadow Agen pun mulai mempersiapkan anggota untuk menggagalkan rencana Dark Devil.


Dengan data yang mereka dapat, mereka jadi tau letak dan posisi setiap anggotanya. Juga rencana rencana yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Dengan begitu mereka bisa mengantisipasi terjadinya kegagalan lagi dan mengurangi korban.


Semua anggota Shadow agen sedang mulai mempersiapkan diri untuk mengagalkan setiap rencana yang akan dilakukan oleh Dark Devil.


Namun, disaat semuanya sedang sibuk, Raile justru terlihat melamun di atap. Pandangannya kosong dan ia menempelkan dagunya di pagar pembatas atap.


Entah kenapa ia memikirkan Revan. Dia memberikan flashdisk itu? Yang berisi data penting mereka? Apa maksudnya? Apa Revan berhianat? Apa Revan memihak Shadow Agen sekarang? Tapi atas dasar apa? Kenapa dia lakukan itu? Apa maksud semua ini? Apa maksud ucapan Rei?


Raile meremas rambutnya kesal. Ia benar benar tak mengerti dengan pola pikir orang itu. Apa alasannya melakukan semua itu? Atau... Apa yang dikatakan Rei benar?


Jika begitu... Dia benar benar menderita di sana? Dia benar benar dijadikan sebagai percobaan? Entah kenapa ia terus memikirkan itu. Ingatannya kembali pada hari dimana dia bertemu dengan Revan. Jika diperhatikan lagi tatapan matanya begitu kosong. Cukup menyedihkan..


Apa dia harus memberi Revan kesempatan? Ah tidak! Untuk apa mengasihani seorang pembunuh bayaran yang menyakiti orang lain?! Orang sepertinya tak pantas dikasihani!


Raile beranjak dari tempat itu, namun tiba tiba terasa angin dingin yang bertiup. 'Hey, apa kau yakin dengan apa yang kau pikirkan? Jangan memandang dari satu sisi.' bulu kuduk Raile berdiri. Darimana suara itu berasal?


"Siapa itu? " Tanya Raile. Ia menengok kesana kemari tapi tak ada orang. Oke ini membuatnya merinding.. Apa itu hantu? Tak mungkin kan di siang hari seperti ini ada hantu? Tapi jika bukan lalu apa? Suara itu terdengar cukup familiar baginya.


Ia hanya memandang dari satu sisi... Selama ini Raile hanya memandang dari keburukan dan apa yang dia pikirkan tentang pemuda itu. Bahkan ia tak tau apa yang terjadi di masalalu Revan sebelum bertemu dengan dirinya.


"Akh! Kenapa aku terus memikirkan nya??!!!" Keluh Raile kesal sambil mengacak acak rambutnya yang tak tertutup topi itu.


"Memikirkan siapa?"


Raile terkejut dan langsung berbalik. Terlihat Rei yang sedang bersandar di pintu sembari menatap ke arahnya.


"Bukan apa apa. Bukan urusanmu juga." Ucap Raile sambil berbalik kembali memandang langit. Rei pun berjalan ke arahnya dan menepuk pundak Raile.


"Kau memikirkan Revan?"


Raile menghela nafas. Tepat sasaran. Apa terlihat begitu jelas? Atau Rei bisa telepati? Ah tentu saja tidak. Raile mulai berpikiran macam macam.


"Tidak." Bohong Raile. Tapi tak semudah itu untuk membohongi Rei. Pemuda ber iris jingga itu cukup peka dan teliti pada sikap dan ucapan seseorang membuatnya dapat mengetahui apa orang itu berbohong atau tidak.


"Kau tak bisa bohong padaku Raile... " Rei pun bersandar pada pagar pembatas. "Aku bisa melihat itu. Ada masalah apa sebenarnya diantara kalian?"


Raile memandang pemuda di sampingnya dan kembali menghela nafas. "Aku hanya membencinya karena dia selalu mempersulit tugasku. Entahlah... Sejak dulu aku sudah membencinya. Lagipula mafia sepertinya tak pantas untuk hidup bukan? Pelaku kejahatan sepertinya harus dihukum berat!"

__ADS_1


"Tapi kau tak tau kenapa dia melakukan itu kan?"


Raile terdiam. Ada benarnya juga...


"Apa? Dipaksa? Kenapa tak melawan?"


Rei sedikit terkekeh mendengar itu. "Apa yang lucu? " Tanya Raile.


"Tidak... Jika saja kau tau apa alasannya melakukan itu Raile... Aku pernah bilang dia masih memiliki satu tujuan yang membuatnya bertahan sampai sekarang bukan?"


Raile mengingat ingat lagi dan akhirnya mengangguk


"Saudaranya. Orang yang paling berarti baginya. Dia ingin kembali berkumpul bersama saudaranya yang kehilangan ingatan karena kecelakaan. Dia bertahan hanya ingin merasakan kebahagiaan itu kembali bersama saudaranya. Dia terus di siksa di sana dan dijadikan senjata untuk tujuan yang buruk. Sebenarnya dia melakukan semua itu dengan keterpaksaannya. Dia ingin pergi tapi tak bisa. Percobaanya telah sempurna membuat dirinya tak bisa kabur atau dia akan di bunuh. Mengertilah Raile, Revan melakukan semua itu atas dasar keterpaksaan. Revan orang yang sangat baik menurutku. Walau dingin. Tepatnya tsundere. Menyembunyikan kebaikan dan perhatiannya."


Mendengar semua itu Raile terdiam. Ia tak tau apa yang harus dilakukan sekarang. Raile benar benar bingung. Apa semua itu benar? Dia salah menilai Revan selama ini?


"Aku... Tidak tau semua itu"hanya itu yang mampu terucap dari bibir pemuda ber iris gold tersebut. Entah kenapa perasaan bersalah mulai muncul. Apa apaan ini?


" Akh..." Tiba-tiba rasa sakit menyerang kepalanya. Pening pun mulai muncul membuat Raile langsung memegang kepala nya yang berdenyut. Samar samar ia seperti melihat sesuatu.


"Kakak kejar aku! Hahahaha!! "


"Ye... Kakak tak bisa menangkap ku! "


"Kemari kau ****! dapat! "


"A... Apa itu? Akh.. " Kepala Raile semakin terasa sakit saat kilasan itu muncul Rei yang berada di sampingnya pun terlihat panik


"Raile? Kau baik baik saja? Ada apa? " Tanya Rei sambil menopang tubuh Raile yang nyaris terjatuh tadi.


"S... Sakit... " Keluh Raile dengan suara lemah. Rei terlihat semakin panik.


"Aku akan membawamu ke ruang kesehatan. Bertahanlah Raile... "Ucap Rei sembari membantu menopang tubuh Raile. Pemuda ber manik gold itu juga terus mencoba mempertahankan kesadarannya. Namun sayang kegelapan sudah lebih dulu menenggelamkannya.


Rei yang mengetahui Raile pingsan semakin terlihat panik. Tanpa buang waktu, ia pun langsung menggendong Raile dan membawanya ke ruang kesehatan.


Namun saat di perjalanan, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Riz. "Rei? Ada apa dengan Raile?" Tanya Riz yang panik melihat Raile yang pingsan.


"Kujelaskan nanti. Kita bawa dia ke ruang kesehatan dulu" Ujar Rei. Riz pun mengangguk.

__ADS_1


Sesampainya di sana, dokter langsung memeriksa kondisi Raile. Terlihat jelas raut wajah khawatir pada kedua pemuda itu. Tapi untuk Riz juga terselip rasa penasaran. Apa yang terjadi? Kenapa bisa Raile pingsan begini?


Beberapa menit kemudian, Raile sudah selesai di periksa. Riz dan Rei masih setia menanti kesadaran pemuda ber manik gold itu. Riz memandang ke arah Rei. Sejujurnya dia benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi pada Raile. Haruskah dia bertanya? Itu lebih baik.


"Rei, sebenarnya apa yang terjadi pada Raile? Kau apakan dia? " Oke itu pertanyaan yang tak seharusnya.


"Panjang ceritanya" Ujar Rei sambil bersandar.


"Pendekkan."


"Saat itu aku ke atap dan melihat Raile di sana. Aku memperhatikannya dari jauh. Kutebak dia memikirkan Revan. Dan tebakanku benar.


Dia begitu membenci Revan tapi dia juga penasaran apa Revan benar benar disiksa? Jelas aku menjelaskannya dan memberitahu alasan Revan tetap bertahan. Setelahnya Raile mulai kesakitan dan akhirnya pingsan. " Jawab Rei. Riz hanya mengangguk anggukkan kepalanya.


Riz sedikit merenung. Jika dibiarkan apa ini akan berdampak buruk dengan kondisi Raile? Sudah dua kali Raile pingsan karena itu. Riz tak bisa membiarkan saudara nya tersiksa seperti ini bukan? Tapi ini belum saatnya untuk memberitahu Raile kebenarannya. Mungkin itu justru akan berdampak lebih buruk pada Raile. Lalu apa yang harus dia lakukan? Membiarkannya atau mengingatkan nya?


"Riz? " Panggil Rei menyadarkan Riz dari lamunannya.


"Ah ya? Ada apa? " Tanya Riz.


Rei menghela nafas. Ada pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya dan kurasa sekaranglah waktu yang tepat untuk menanyakan nya.


"Apa kau tau hubungan Raile dan Revan? Aku merasa ada yang aneh. Ini pemikiran ku saja, apa ada yang kau sembunyikan? "


Tanpa sadar Riz meneguk air liur nya sendiri. Sepeka itukah pemuda di hadapannya ini? "Um... Itu... Tidak" Jawabnya singkat namun terlihat gugup.


Rei orang yang cukup peka dengan perubahan ekspresi dan sikap orang lain. Terlebih lagi dia bisa melihat apa orang itu berbohong atau tidak. "Kau tak pandai berbohong Riz"


Riz benar benar tercekat. Ia menghela nafas. Haruskah ia memberitahu Rei tentang ini? Ku rasa tak ada salahnya bukan? Lagipula Rei terlihat bisa dipercaya. Setidaknya Rei ada di timnya jadi lebih mudah mengawasi. "Mereka kakak adik"


Rei membedakan matanya. Serius? Sungguh? Jadi selama ini mereka saudara? Jadi yang dia pikirkan benar? Jadi kecurigaannya memang benar? "Pantas saja mirip dan tak asing. Alasannya? "


"Dari ceritamu bukannya sudah jelas? Ya, gabungkan saja. Mereka kecelakaan, Raile amnesia dan tak tau dia punya adik"


"Jika diingat ya juga. Revan bilang kakaknya amnesia dan dia diculik. Ah aku kurang peka rupanya... Tapi kenapa kau tak memberitau Raile kebenarannya?"


"Jika ingatannya dipaksakan itu akan berpengaruh pada kesehatannya. Itu yang dokter katakan. Jadi kumohon rahasiakan ini Rei... "Ucap Riz. Rei pun mengangguk. Setidaknya ia tau alasan nya. Tapi tunggu, kenapa Raile begitu membenci Revan?


TBC

__ADS_1


__ADS_2