
Eden mengamati rekaman CCTV di handphone nya, yang menunjukkan rekaman Naru yang berjalan menuju sebuah toko ice cream tua yang sepertinya tak lagi di gunakan tak jauh dari sana. Dengan cepat, ketujuh remaja itu bergerak menuju lokasi itu.
"Mafia emang suka ya, cari tempat persembunyian di tempat kaya gitu? Gak ada yang lebih wajar kah?" Tanya Riz di sela lari nya.
Aira mengangguk setuju. "Apa lagi di toko ice cream tua. Apa mereka mau jualan ice cream?"
"Mungkin mungkin. Tapi mafia yang menjual ice cream... Apa ice cream nya di buat dari bahan terlarang juga? Kaya susu dinosaurus, gula curian atau buah yang sudah di campur berbagai bahan?" Pikir Riz sambil membayangkan bahan bahan aneh yang di masukkan ke dalam ice cream.
Aira menatap datar Riz. "Kau kira mereka penyihir apa? Yang menggunakan bahan seperti itu untuk membuat ice cream?"
Riz tertawa garing. "Canda kok canda."
Tak butuh waktu lama, mereka sampai di depan toko ice cream itu. Dari luar nya saja sudah terlihat jelas tempat itu sangat jarang di datangi orang.
Eden dan Riz hendak melangkah masuk, namun langsung di cegah oleh Raile. "Hati hati, ada CCTV di sana, mereka bisa melihat kedatangan kita." Ujar Raile sambil menunjuk ke arah samping kanan toko yang terletak sebuah CCTV tergantung di sana.
"Ugh hampir saja." Riz menarik nafas lega. Jika tidak, mungkin saja kedatangan mereka akan di ketahui oleh Naru.
"Biar aku saja." Eden memfokuskan pikiran nya dan mengambil alih CCTV nya, lalu membuat rekaman nya terhenti. "Baiklah sudah aman, ayo masuk."
Lainnya mengangguk dan berjalan masuk diam diam. Namun sesampai nya mereka di dalam, hanya ada beberapa meja dan kursi tanpa ada seorang pun di sana.
Bahkan setelah mencari ke setiap sudut ruangan itu, sampai balik meja kasir pun mereka tak menemukan apapun. Ruangan itu seakan benar benar kosong tanpa seorang pun pernah datang ke sana sebelumnya.
__ADS_1
Lalu, kemana Naru pergi? Apa dia sudah tau jika Revan dan lainnya mengikuti nya, sehingga pria itu sengaja masuk ke sana untuk mengecoh mereka?
"Apa dia keluar dari jendela? Atau pintu belakang?" Tanya Erano. Namun setelah ia perhatikan lagi, semua jendela nampak tertutup rapat, begitupun pintu belakang yang sepertinya terkunci. Rasanya tidak mungkin jika pria itu keluar secepat itu tanpa meninggalkan jejak. Selain itu, tak ada tanda juga ada orang yang pernah menyentuh jendela atau pintu belakang nya. Itu terlihat jelas dengan banyak nya debu dan sarang laba laba di sana.
Jika ingin keluar lewat pintu belakang atau jendela, setidaknya akan meninggalkan jejak telapak tangan atau bagian lainnya yang menyentuh pintu dan jendela. Sementara saat ini tak ada sama sekali.
Revan nampak mengamati sekitar. Seakan tak ada orang yang pernah ke sini sebelumnya. Lalu, kemana Naru pergi?
"Percuma. Tetap aja kita nggak dapat apapun di sini." Keluh Himaki.
Riz mendengus kesal. Ia menyandarkan badan nya ke dinding, namun secara tiba-tiba dinding di belakang nya sedikit menjorok ke belakang membuat nya terkejut.
Namun tak cukup sampai di situ, lantai di bawah mereka perlahan lahan terbuka di gantikan sebuah pintu besi menuju ruangan di bawah yang sepertinya terkunci kuat.
"Jadi ada ruang rahasia... Tapi gimana cara buka nya?" Tanya Eden bingung. Pasalnya pintu ini harus di buka secara manual menggunakan kunci. Jika menggunakan peralatan teknologi pasti akan mudah, tapi jika ini jelas ia tak bisa menggunakan kemampuannya untuk membuka kunci.
"Tidak perlu." Ujar Revan tiba tiba. Pemuda ber mata merah itu meletakkan ujung jari telunjuknya di atas lubang kunci. Setelahnya listrik merah tampak mengalir ke dalam dan..
Klek
Pintu terbuka.
"Hebat juga. Ayo kita masuk." Ujar Eden dan kemudian di bantu oleh Revan membuka pintu itu. Terdapat sebuah tangga kebawah dengan kemiringan yang cukup curam.
__ADS_1
"Hati hati, jangan sampai terpeleset." Ucap Revan.
Perlahan, mereka mulai memasuki tempat itu. Beruntung ada beberapa lampu walau berukuran kecil yang bisa di jadikan sebagai penerangan agar mereka tak tersandung atau terpeleset karena salah melangkah.
"Lama lama ini jadi kaya pemburuan harta karun deh." Gumam Himaki.
"Lebih tepatnya pemburuan harta karun di dalam kastil tua berhantu." Balas Riz.
Bagaimana tidak? Samping kanan kiri mereka yang hanya terbuat dari dinding batu bata, begitu juga dengan lantai nya. Tak lupa lampu kecil berwarna kuning yang membuat mereka seakan berada di abad pertengahan.
"Ssst... Jangan berisik... Bisa saja kan mereka dengar." Ujar Raile.
Semakin dalam mereka masuk, jumlah lampu yang tergantung di dinding pun semakin berkurang membuat mereka harus semakin berhati hati.
"Sebenarnya siapa sih yang membuat tempat seperti ini?" Tanya Raile.
Revan tampak menggeleng. "Entahlah. Mungkin dulu nya di gunakan untuk persembunyian saat perang atau tempat berkumpul komplotan mafia."
"Bisa juga sebagai tempat perdagangan gelap." Sambung Himaki.
Sebagai mafia atau para kriminal tak jarang juga membuka pasar gelap di tempat-tempat seperti ini, yang tak banyak orang tau dan terjamin keamanan nya.
Itu yang terkadang menyulitkan pihak kepolisian untuk meringkus mereka.
__ADS_1
"Mereka terlalu cerdik ya..." Ucap Revan pelan, sampai akhirnya mereka sampai di ujung anak tangga. Terdapat sebuah pintu kayu yang sepertinya tidak di kunci. Sayup sayup dari dalam sana, mereka dapat mendengar suara Naru yang seperti berbicara dengan seseorang.
"Jadi dia tidak sendirian?" Bisik Revan sambil mempertajam pendengaran nya, mencoba mendengarkan apa yang Naru bicarakan.