
Sudah lewat dari tengah malam, tapi pemuda ber manik gold itu masih belum juga memejamkan mata nya. Ia duduk di meja belajar nya, memandang ke luar jendela yang menampakkan pemandangan kota dan langit gelap di penuhi bintang dan bulan. Wajah nya tersorot cahaya bulan, membuat iris mata nya terlihat berkilau.
Helaan nafas terdengar dari mulutnya. Hati nya di penuhi rasa khawatir dan segala perasaan lain yang jujur saja membuatnya tak nyaman.
Sejak kejadian saat itu, ia belum bertemu lagi dengan Ren. Entah bagaimana kondisi nya sekarang. Apa dia baik baik saja? Apa dia sudah sadar? Sebenarnya apa yang membuat Ren sampai seperti itu? Banyak pertanyaan yang tersimpan dalam pikiran nya, namun bahkan sedikit pun kabar tidak ia dapatkan.
Jantung nya berdegup kencang. Dirinya gelisah. Baru kali ini Raile merasakan kekhawatiran yang begitu besar pada orang lain. Jika itu orang terdekatnya wajar, tapi ini? Orang yang bahkan baru ia temui dan kenal belum lama ini. Yang bahkan ia tak tau jelas bagaimana wajahnya karena selalu tertutupi.
"Ren... Bagaimana kondisi mu sekarang?" Lirih Raile.
Ceklek
Suara pintu terbuka membuat Raile refleks menoleh. Seorang pemuda ber iris mata blue sky dengan ekspresi wajah mengantuk memasuki kamar nya.
Ah, sepertinya Riz terbangun.
"Belum tidur Ile? Dah mau pagi loh. Ingat, besok sekolah." Ucap Riz sambil berjalan dan duduk di kasur sepupu nya itu.
"Belum ngantuk. Gak pengin tidur aja." Jawab Raile. Ya, memang itu yang kini ia rasakan. Bahkan ia tak merasakan kantuk sama sekali. Namun, ia tersadar ada yang sedikit tidak biasa dari perkataan itu. "Ngomong ngomong tumben mikirin sekolah."
Riz mendengus kesal. Walau ia sering terlambat, bukan berarti ia tak peduli dengan sekolah. "Lagi males di hukum aja. Pengin jadi anak rajin sekali sekali."
Sekali sekali?
Raile sedikit terkekeh, lalu menghembuskan nafas dan kembali memandang ke luar jendela. Pemandangan di luar sana memang selalu bisa membuat nya lebih tenang.
"Masih mikirin Ren?" Tanya Riz. Raile hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Aku khawatir saja karena tak ada kabar tentang nya."
'Selain itu juga karena ikatan kalian.' jawab Riz dalam hati. Ia sedikit berfikir bagaimana jika seandainya Raile tau nanti jika Ren itu adalah Revan? Ditambah lagi hubungan darah di antara mereka.
__ADS_1
Brug
Riz menjatuhkan dirinya ke kasur sambil menghela nafas lelah. Ini benar-benar sulit. Ia berfikir dimana Revan sekarang? Semoga saja dia tak tertangkap lagi oleh para mafia itu. Di sisi lain, Rei juga menghilang. Belum lagi tentang percobaan itu.
"Arrghh!! Ribet amat sih!! " Keluh Riz frustasi dan mengacak acak rambut nya. Raile yang melihat itu mengernyitkan dahi.
"Kau kenapa Riz?"
"Gak apa. Cuma sebel aja mikirin beban hidup yang begitu berat nya. Dah ah mau tidur! Ngantuk. Kau juga tidur.. Jangan sampe sakit. Kalo kau sakit aku yang ribet nanti." Ucap Riz dan langsung menutupi dirinya dengan selimut. Mana mungkin ia memberitahu semua itu pada Raile sekarang?
Tapi bagaimanapun ia harus mencari cara untuk menyelamatkan Revan dan Rei.
Tapi pertanyaan nya, ia harus memulai nya dari mana?
*******
Di atas sebuah gedung, seorang pemuda berpakaian serba hitam berdiri. Ia membuka masker yang menutupi mulut dan hidung nya. Mata merah nya tampak menatap tajam di gelapnya malam. Ia adalah Revan, pemuda yang menjadi kelinci percobaan oleh mafia yang kejam.
Tekatnya sudah bulat. Lagipula, siapa juga yang mau terus menjadi bahan percobaan seperti itu?
Terus merasakan sakit dan penderitaan. Merenggut semua kebahagiaan dan kebebasan yang ada.
Dari atas sana, cukup mudah untuk nya mengamati apa yang terjadi di sekitarnya. Mata nya menangkap sosok tiga orang pria yang sedang berjalan di sebuah gang sempit. Salah satunya terlihat memainkan sebuah belati berwarna hitam.
Revan mengenali pria pria itu. Mereka juga anggota Dark Devil, walau masih kelas teri. Tapi bagaimanapun, walau sedikit, mungkin ia juga bisa mendapatkan informasi dari mereka.
Masker yang sebelumnya ia lepas kembali Revan kenakan. Ia menuruni gedung dan diam diam mendekati tiga pria itu. Mencari posisi dan lokasi yang tepat untuk nya menyerang.
Sementara, ketiga pria itu terlihat sedang sibuk mengobrol dan sedikit bergurau, tidak menyadari sama sekali kehadiran Revan yang langsung menggoreskan pisau pada lengan mereka.
"Akh!!" Jeritan kesakitan terdengar bersamaan dengan ketiga pria itu yang terjatuh.
__ADS_1
Walau Revan hanya menggoreskan sedikit luka pada tubuh mereka, tapi sengatan listrik yang ia salurkan bersamaan dengan goresan pisau nya, membuat ketiga pria itu kesakitan.
Revan melangkahkan kaki nya ke hadapan ketiga pria itu, kemudian berjongkok. Mata nya menatap tajam pada salah satu pria dan bertanya. "Apa kau tau tentang percobaan yang ketua mafia itu rencanakan?"
"T-tidak tahu." Jawab nya terbata bata, kemudian mengalihkan pandangan nya untuk tidak menatap pemuda di hadapan nya itu. Dari itu saja sudah membuat Revan mengetahui jika pria itu berbohong.
"Kau tak bisa membohongi ku." Revan mendekatkan pisau yang ia pegang ke dekat mata pria itu. "Jawab, atau ku congkel mata mu." Ancaman Revan dengan nada suara menekan. Tentu saja membuat ketiga pria itu merinding.
"B-baiklah. Yang ku dengar, tuan Avren akan membuat senjata penghancur yang tak lain adalah kau." Jawab nya.
"Lalu, apa hanya itu?"
"S-setahu ku, selain kau, Avren juga akan melakukan percobaan pada Rei. Dia sudah menahan nya di suatu tempat."
Revan membulatkan mata nya. Tangan nya mengepal kuat. "Dimana dia menahan Rei?"
"Aku... Aku tidak tahu!" Jawab pria itu ketakutan.
"Jawab atau akan ku bunuh kalian semua!!" Bentak Revan. Emosi nya sudah mulai meluap sekarang.
"Di ruangan khusus yang ketua buat. Ada di dalam tanah! Itu yang ku tau." Jawab pria di belakang nya.
"Apa ada lagi yang kalian tahu?"
"Tidak. Hanya itu."
Setelah jawaban yang diberikan pria itu, Revan berdiri. Menjauhkan pisau yang ia pegang dari leher sang pria. Sepertinya informasi yang ia dapat kali ini sudah cukup. Sekarang hanya tinggal memikirkan cara tentang bagaimana ia harus menyelamatkan Rei sekarang.
Revan berbalik dan mulai melangkahkan kaki nya pergi. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, langkah kaki nya terhenti. Ia melirik ke belakang. "Jika sampai ada orang lain yang tau tentang ini, akan ku incar dan ku bunuh kalian." Ucap Revan lalu pergi. Meninggalkan tiga pria yang masih terbaring di lantai.
Mereka tau jika pemuda itu tidak main main dengan ucapan nya. Ditambah lagi, pemuda itu bukanlah orang biasa yang bisa di remehkan.
__ADS_1
TBC