Shadow Agen

Shadow Agen
Pencurian Berlian


__ADS_3

Revan menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Nafasnya memburu karena tenaganya yang terkuras. Terlihat beberapa luka goresan senjata di tubuhnya.


Ia mencoba berdiri dari posisi awal yang terduduk sambil mencoba mengatur nafasnya. Ia menatap tajam pada sosok pria yang tak jauh darinya. Pria itu terlihat menyeringai dan menodongkan pistol padanya.


"Apa hanya itu kemampuanmu? Keluarkan semua kekuatan yang kau punya!! "


Dar!


Tring


Beruntung Revan berhasil menahan peluru itu dengan pedangnya. Ia pun langsung melesat kembali ke arah Avren yang juga siap meluncurkan serangan berikutnya.


Revan yang sebagai Assassin sedikit kesulitan melawan Avren yang menembak dengan pistolnya. Ia tak bisa menyerang dengan jarak sejauh ini. Setidaknya ia harus lebih dekat atau mencari cara lain.


Dengan kekuatan listrik nya, ia melesat dengan cepat ke arah Avren. Sedangkan Avren yang terlambat menyadari keberadaan Revan terkena sedikit serangan darinya. Walau hanya luka kecil di lengannya, itu sudah cukup membuatnya kesal. Atau... Senang?


Seringaian semakin mengembang dan menembakkan peluru ke segala arah. Revan yang menyadari itu segera berlari secepat mungkin untuk menghindari dan melakukan serangan di saat yang bersamaan.


Pemuda bermanik ruby itu tiba tiba menghilang dan kembali muncul di belakang Avren. Namun, Avren mengetahuinya lebih dulu dan melakukan tendangan berputar yang mengenai pemuda itu dengan telak.


Revan terpental dan menabrak dinding dengan keras. Tapi ia masih belum menyerah. Ia membuat pedang dengan warna merah yang lebih gelap dari sebelumnya. Sekali lagi ia bergerak dengan kecepatan tinggi ke adah Avren. Namun, saat sampai di hadapannya, Revan menghilang. Avren yang melihat itu sedikit terkejut, namun langsung memutar badannya dan menembak ke belakang.


Namun tak seperti yang dia pikirkan, Revan tak ada di sana. Pemuda itu bergerak dengan acak untuk memecahkan konsentrasinya dan menyerang Avren dari segala Arah. Sebelumnya pria itu berhasil bertahan walau mendapatkan beberapa luka. Tapi selanjutnya...


Terdengar suara gemuruh petir dan Revan muncul di atasnya dengan kilatan petir merah yang langsung menyambar Avren dengan telak. Setelah itu Revan melompat agak jauh dari lokasi serangan terakhirnya. Senyuman tipis terbentuk di wajahnya saat ia berpikir mungkin ia telah berhasil mengalahkan Avren. Namun, setelah petir itu berhenti menyambar, terlihat Avren berdiri tanpa luka sedikitpun membuat pemuda pengendali petir itu membelalakkan mata. "Tak mungkin.. " Gumamnya.


"Hahahaha... Kau pikir bisa semudah itu mengalahkan ku hah? Serangan mu itu tak ada apa apanya. " Avren berjalan menuju tempat Revan berdiri.


"Latihan cukup sampai sini. Kemampuanmu cukup bagus. "


Revan yang masih tak percaya hanya terdiam. Apa apaan itu? Kemampuan apa yang dimiliki mafia sialan itu? Bagaimana bisa serangan halilintar nya tak mempan padanya?


Itulah yang masih tak dia mengerti. Revan mengepalkan tangannya erat. Ia memunculkan sebuah pedang dan berbalik menghadap Avren yang kini berjalan mendekati pintu. Namun, baru saja ia ingin melakukannya, kalung di lehernya kembali mengalirkan listrik dengan tegangan yang lebih besar dari sebelumnya membuat Revan merintih kesakitan.

__ADS_1


"A.. Akh.. Hentikan!! " Serunya.


Avren hanya memandang Revan tanpa rasa iba sedikitpun. "Jangan pikir aku tak tau apa yang akan kau lakukan. Saran ku, jangan pernah berpikir melakukan itu atau aku akan memenggal kepalamu! " Ujarnya dan langsung pergi meninggalkan Revan yang masih mencoba menahan sakit.


Baru saja ia ingin melangkah pergi, seorang pria menggunakan pakaian berwarna putih dengan jaket biru muda menghampirinya.


"Ada apa Ice?" Tanya Avren pada pemuda yang dipanggil Ice itu.


"Akan ada pelelangan berlian di gedung Angel diamond tuan." Jawab Ice.


"Berlian? Hm... Kita akan mencuri berlian itu. " Avren memandang ke arah Revan. "Kau ikut denganku. " Setelah mengatakan itu, Avren pun langsung pergi. Sedangkan Revan hanya terdiam sambil menatap benci padanya.


Tak tau orang lagi kesakitan apa? Dasar mafia sialan!!


*****


Raile terlihat tergesa-gesa berlari menuju ruangan agen Raka. Ia melihat kearah jam tangannya yang menunjukkan waktu pukul 14.45. Ya, dia sedikit terlambat sampai ke markas.


Sesampainya di depan pintu, ia langsung memutar kenop dan memasuki ruangan itu. Di dalam sana terlihat Riz dan Rei yang memandangnya heran.


"Hai Ile-chan!!!! " Sapa Riz dengan senyuman lebarnya. Sedangkan Raile hanya mengangguk memberi jawaban.


"Sedang apa kau disini? " Tanya Agen Raka.


Pertanyaan macam apa itu? Bukannya sudah jelas untuk menjalankan misi? Jika tidak, untuk apa dia lari lari seperti itu  karena terlambat? Ya... Walau tak sepenuhnya terlambat, tapi jika bagi Raile itu sudah sangat terlambat.


"Umm... Bukannya ada misi? " Tanya Raile.


"Memang. Tapi Riz sudah mengizinkanmu untuk beristirahat hari ini." Ucap Agen Raka. Raile pun menatap ke arah Riz yang  nyengir kek kuda :v


"Aku baik baik saja laahh!!! Lagian kalo gitu bilang dari awal kek. Jadi aku kan gak perlu cape lari lari kaya dikejar anjing. " Gerutu Raile sambil cemberut dan memajukan sedikit bibirnya.


Riz menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Ehehe... Gomennasai Raile... Aku lupa tadi. Hehehe.. "

__ADS_1


"Jika kau masih lelah, kau bisa izin untuk hari ini Raile. " Ucap Raka. Raile pun menggelengkan kepalanya.


"Tidak tidak Agen Raka. Aku baik baik saja kok! Lagipula aku bosan di rumah."


'Apa bosan bisa dijadikan alasan? ' pikir Rei.


"Baiklah jika begitu. Akan ada pelelangan berlian di gedung Angel Diamond. Aku ingin kalian menyamar dan mengamankan tempat itu. Para mafia dan penjahat lainnya pasti akan mengincar berlian itu." Ucap Raka dan mengeluarkan 3 setel pakaian. Yang entah ia dapat dari mana. "Ini untuk penyamaran kalian. Jangan sampai ketahuan dan. Pastikan pelelangan berjalan lancar. " Lanjutnya sambil menyerahkan pakaian itu.


"Siap! " Jawab ketiga pemuda tersebut setelah menerimanya dan segera pergi untuk bersiap. Mereka pun menuju ruang. Ganti untuk berganti pakaian. Tapi... Entah mereka harus berkomentar apa tentang pakaian yang diberikan oleh Raka.


"Apa apaan ini? " Tanya Raile dengan mata yang berkedut memandang bayangannya sendiri di cermin.


"Hohohou... Keren juga! " Riz justru terlihat senang dengan pakaian penyamaran yang ia dapatkan.


"Haruskah kita memakai ini? " Tanya Rei sambil memandang ke arah rekan rekannya.


"Apa boleh buat... "


"Haahh... " Rei dan Raile menghela nafas bersamaan mengetahui mereka harus menjadi... Err.. Petugas kebersihan sedangkan Riz berpakaian formal seperti anak seorang pengusaha terkenal. Jika saja bukan misi, mereka tak akan mau memakainya. Ya... Setidaknya masih lebih baik daripada harus menggunakan pakaian badut atau semacamnya bukan?


Setelah itu, mereka pun langsung bergerak menuju lokasi yang sudah di tentukan.


Sesampainya di sana, terlihat beberapa orang yang sedang menjaga di depan gedung itu. Tak mungkin jika masuk lewat pintu utama. Yang jelas akan ditanyakan. Untuk Raile dan Rei sih kurasa tak terlalu masalah, tapi bagaimana dengan Riz? Yang ada dia ditanya anak siapa? Apa anak ilang dan nyasar ke sini? Ah entahlah.


Tapi.... Apa ada petugas kebersihan yang masih bocil kek mereka? Wah wah... Mempekerjakan anak dibawah umur itu... Siapakah orang yang tega melakukan hal seperti itu?


Oke lupakan.


"Bagaimana ini Raile? " Tanya Riz sambil menatap saudaranya.


Raile terlihat memasang pose berpikir dan memandang ke sekitar gedung itu. Dan melihat seorang mengantarkan paket melewati pintu samping gedung. "Aku dan Rei akan lewat samping. Kau lewat depan.. Kau kan cerdik, buat saja alasan. " Ucap Raile.


"He? Kenapa begitu? Kalo terjadi sesuatu bagaimana?"

__ADS_1


"Carilah alasan yang masuk akal. Dengan penyamaran mu yang sekarang, justru akan mencurigakan jika kau lewat samping. Masuk saja dan bilang menyusul ayahmu atau apalah. " Ucap Rei. Sekarang Riz justru menyesal memakai pakaian seperti ini. Kenapa tidak dijadikan pelayan seperti mereka saja? Bukannya lebih baik? Setidaknya dia tak perlu benar benar seperti orang hilang.


TBC


__ADS_2