Shadow Agen

Shadow Agen
Memulai lembaran baru


__ADS_3

Raile menghela nafas nya. Tangan nya mengepal mencoba menyembunyikan segala perasaan campur aduk dalam hati nya. Di dalam ruangan dokter Tadashi, dirinya hanya terdiam memperhatikan pria yang sedang sibuk melihat hasil pemeriksaan Revan.


"Jadi bagaimana dok?" Tanya Raile akhirnya.


Tadashi menghela nafas dan memandang pemuda bermanik gold itu. Ia menyandarkan punggung nya pada kursi dan menatap lekat manik gold pemuda itu.


"Seperti yang kau tau, Revan mengalami amnesia. Dia hanya mengingat kejadian kejadian yang belum lama terjadi, tapi tidak mengingat sama sekali mengenai masa lalu nya. Mungkin itu juga alasan nya Revan melupakan mu." Jelas dokter Tadashi.


Raile menundukkan kepala nya. Ia benar-benar tidak tau harus bagaimana sekarang. Namun ia sedikit terkejut saat merasakan sentuhan lembut di pucuk kepala nya.


"Dia pasti akan kembali mengingat mu. Perlahan, ingatan nya pasti akan kembali. Untuk sementara ini, jangan terlalu memaksakan ingatan nya. Mungkin kau bisa memulai nya dengan membuat lembaran baru dalam ingatan nya tentang mu. Itu mungkin bisa membantu mengingatkan nya dengan perlahan." Tadashi tersenyum hangat.


"Terimakasih... Aku hanya... Tidak tau harus bagaimana. Revan seperti ini juga karena ku. Karena salahku yang tidak waspada, Revan yang justru harus terluka. Padahal selama ini dia sudah cukup menderita... Mungkin semua ini memang pantas ku dapatkan... Setelah semua yang ku lakukan pada... Adik kandung ku sendiri..." Ucap Raile yang tanpa sadar mulai meneteskan air mata nya.


Tadashi yang melihat itu langsung memeluk Raile, memberikan kehangatan pada pemuda itu. Ia sadar semua yang Raile alami selama ini, terlalu berat untuk anak seusia nya.


"Sudahlah... Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri seperti itu. Masalah tak akan selesai hanya dengan menyalahkan diri. Semua pasti akan baik baik saja..."


Raile sedikit mengangguk. "Maaf... Hiks... Harusnya aku bisa lebih kuat..."


Tadashi menggeleng pelan. "Cuma karena kamu cowok, bukan berarti kamu gak boleh nangis. Dah... Luapin aja..."


Entah kapan terakhir kali Raile menangis seperti ini. Seakan kehilangan kontrol akan dirinya, Raile membiarkan semua sesak dan sakit yang ia rasakan luruh dalam tangisan. Ia tak tau kenapa bisa jadi se emosional ini, tapi sesekali meluahkan beban yang ia rasakan tak ada salahnya kan?


Perasaan tenang dan lega menghampiri nya setelah itu. Membuat nya lebih tenang dan bisa mengontrol diri.


"Sudah lebih baik?" Tanya Tadashi yang hanya di jawab dengan anggukan oleh pemuda itu. Ada rasa malu dalam diri nya karena menangis seperti itu di hadapan orang lain.


Tadashi tersenyum simpul dan memberikan daftar obat obatan yang harus Revan konsumsi untuk membantu pemilihan nya.


Raile sedikit berfikir, tidak mungkin jika Revan harus ada di markas Shadow Agen bukan? Apa membawa nya pulang bersama nya akan lebih baik? Mungkin itu akan membantu Revan untuk kembali mengingat masa lalu nya.


*****

__ADS_1


Tok tok tok...


Pintu di ketuk dan gak lama terdengar suara seseorang mempersilahkan nya masuk. Pemuda bermanik gold membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan, sambil tersenyum.


"Hai Rev, gimana kondisi mu sekarang?" Tanya Raile basa basi.


"Masih sama." Jawab nya singkat.


Dalam hati Raile merutuki dirinya karena menanyakan pertanyaan seperti itu.


Sementara Rei tampak memperhatikan Raile, menyadari sedikit kejanggalan pada pemuda itu. "Raile, kau habis menangis?"


Raile membeku seketika. "T-tidak... Hanya kelilipan." Bohongnya.


Ketahuilah, orang yang terlalu peka itu menyebalkan! Apalagi tidak tau situasi langsung mengatakan apa yang dipikirkan nya.


Rei menyipitkan mata nya, memasang ekspresi curiga. "Kau pas-"


Kring kring...


Raile menghembuskan nafas lega. Sungguh waktu yang tepat! Setidaknya ia selamat untuk saat ini.


"Ada misi... Bagaimana ini?" Gumam Raile sedikit berbisik.


"Kau jaga Revan, biar aku yang pergi."


"Eh tapi kalo agen Raka tau?"


"Biar aku yang urus. Kau jaga saja adik mu." Ucap Rei sambil menepuk pundak Raile.


Raile mengangguk. "Hati hati."


Rei hanya menjawab dengan acungan jempol nya dan melangkah keluar ruangan itu.

__ADS_1


Pintu tertutup dan kini hanya tinggal Raile dan Revan saja di dalam ruangan. Revan memejamkan mata nya sambil menghela nafas. Angin bertiup memasuki ruangan dari jendela yang terbuka. Kini hujan telah reda dan sinar matahari mulai menyinari bumi kembali.


Cahaya tampak menyorot pemuda bermanik ruby yang sedang terbaring di ranjang nya. Rambut nya sedikit bergoyang tertiup angin dari luar.


"Misi apa yang kalian maksud?" Tanya Revan tiba tiba, membuat Raile sedikit bingung untuk menjawab nya.


"Ah, itu... Hanya misi agensi. Ya... Begitulah..." Jawab Raile gugup.


Revan hanya terdiam dan mengalihkan pandangan nya. Jujur saja, situasi seperti ini membuatnya tidak nyaman.


"Revan... Kau sungguh tak mengingat apapun tentang ku?" Tanya Raile lagi. Walau ia tau jelas apa jawaban nya.


"Tidak."


Ada sesak di dada nya saat mendengar jawaban itu. Tapi ia terus mencoba untuk tersenyum. Ia gak boleh terlihat lemah dalam situasi seperti ini.


"Baiklah, gimana kalo kita mulai dari awal? Aku Raile, kakak mu. Kita.. Memang terpisah saat kecil tapi sekarang tidak lagi!"


'Karena mulai sekarang aku akan menebus semua kesalahan ku padamu.' lanjut Raile dalam hati


"Um... Baiklah, aku-"


'Mulai menerima nya hm?'


Ucapan Revan terpotong seketika saat mendengar suara itu yang juga bersamaan dengan rasa sakit yang muncul di kepala nya.


"Revan ada apa? Kau baik baik saja?" Tanya Raile panik.


Bagaikan tidak? Melihat seseorang yang mendadak kesakitan seperti itu tentu membuat panik bukan?


Namun, ia merasakan sedikit kejanggalan di sini.


"Kau yakin mengkhawatirkan nya?" Tanya Revan dengan nada suara datar. Ia menatap ke arah Raile, yang saat itu juga membuat pemuda ber netra gold itu terkejut.

__ADS_1


"Rev.. Kau... "


TBC


__ADS_2