
Sebagian orang memang tak bisa melepaskan rasa kehilangan begitu saja. Terlebih lagi jika orang itu begitu penting bagi nya.
Waktu yang telah di lalui nya bersama, dan kenangan yang telah mereka ukir tentu tak bisa di hilangkan begitu saja.
Terkadang begitu sulit untuk melepas dan merelakan. Terlebih lagi jika kepergian itu dengan cara yang tidak wajar. Tidak sempat mengucapkan perpisahan, pergi begitu saja menghadap Ilahi.
Tapi terus berlarut dalam kesedihan itu juga bukan pilihan. Terlebih lagi jika sampai membalas dendam atas kepergian orang yang di sayang nya.
Seakan kata maaf tak ada lagi bagi Farel dan Naru yang telah kehilangan salah satu keluarga mereka, rekan mereka.
Tapi... Di sisi lain seharusnya mereka pun tau, apa resiko dan harga yang harus di bayar dengan menjadi mafia dan melakukan tindak kejahatan.
Menjadi kriminal, pelaku kejahatan dan pembunuh bayaran seperti mereka seharusnya juga sudah memahami, bahwa suatu saat nanti, mungkin mereka pun akan merasakan kehilangan, atau justeru mengalami kematian itu sendiri.
Banyak nyawa yang sudah mereka renggut karena pekerjaan mereka sebagai pembunuh.
Banyak orang yang juga merasakan bagaimana sakitnya kehilangan. Tapi terkadang, membunuh lebih mudah daripada di bunuh. Melenyapkan akan lebih mudah dari kehilangan.
Di saat roda takdir berputar dan mereka merasakan apa yang orang lain rasakan karena mereka sekarang, akhirnya Farel dan Naru paham bagaimana rasanya kehilangan.
__ADS_1
Namun tidak semua orang bisa tabah dan menerima kepergian semudah itu. Bagi mereka, membalas dendam adalah jalan terbaik. Walau sebenarnya mereka tidak tahu, di balik sosok orang yang ingin mereka balas, jauh lebih banyak rasa sakit dan kehilangan yang dia rasakan daripada mereka.
Farel memperhatikan reaksi ketujuh remaja di depan nya. Di tambah lagi setelah dokter yang membantu nya mendapatkan hasil percobaan itu datang.
Terlihat jelas ekspresi terkejut di wajah Revan, Erano, Eden dan Aira. Mereka yang sudah pernah merasakan bagaimana penderitaan sebagai manusia percobaan tentu tidak asing lagi dengan nya.
Namun pandangan Farel seketika teralih pada Raile yang mengeluarkan pisau lipat dan berlari kencang ke arah nya. Dengan cepat, Farel langsung mengambil tingkat besi di bawah nya dan mengayunkan tongkat besi yang langsung berbenturan dengan pisau milik Raile.
"Tak akan ku biarkan... Kalian kembali menyakiti Revan!!" Teriak pemuda itu yang langsung kembali menyerang. Diluar dugaan nya, bukan para kelinci percobaan itu, tapi justru anggota Shadow Agen yang lebih dulu menyerang nya.
"Heh, lumayan juga." Farel kembali memblok serangan Raile dengan bantuan tongkat besi nya.
Terlihat jelas ekspresi Raile yang begitu marah dengan mata yang berkilat. Farel memang tau jika alasan Revan tetap bertahan sampai sekarang adalah Raile. Tapi ia tak menyangka, Raile sendiri pun begitu menyayangi adik nya itu. Tidak heran, jika sekarang mereka kembali di persatukan dan sama sama menjadi anggota Shadow Agen.
"Woy jangan cuma diam aja! Bantu dong!" Aira mendorong teman teman nya untuk maju. Namun belum sampai lima langkah mereka berjalan, listrik merah menyambar yang nyaris mengenai Raile dan Farel.
Lantas semua orang langsung memandang ke arah Revan yang terlihat menahan emosi. Tangan nya mengepal kuat, aliran listrik mengalir di tubuh nya nampak memercik membentuk kilatan merah.
"Kalian... Masih ingin menjadikan kami sebagai percobaan?" Tanya Revan dengan nada penuh penekanan.
__ADS_1
Farel yang melihat itu meneguk ludah paksa. Sepertinya ia salah ambil langkah kali ini.
Naru melangkah maju. "Memang. Kenapa? Tujuan kami sekarang untuk memusnahkan kalian. Agar tidak ada lagi yang mengganggu Dark Devil menguasai Delaria City!" Seru Naru. "Selain itu... Membalas dendam atas kematian Saki. Kau yang sudah membunuh nya kan! Apa kau gau bagaimana rasanya sakit kehilangan orang yang kau sayang hah?!"
Revan justru terkekeh. Ucapan itu terdengar seperti lelucon bagi nya. "Kau yakin menanyakan itu padaku? Orang yang seharusnya kalian tau jauh lebih menderita. Kalian yang terlalu bodoh. Sudah menjadi resiko untuk kalian sebagai mafia akan kehilangan nyawa saat menjalankan misi, seharusnya kalian sudah tau itu kan?"
"Lagipula... Setidaknya kalian masih memiliki satu sama lain sekarang. Bagaimana menurut kalian perasaan orang lain yang tidak bersalah yang sudah kalian bunuh selama ini? Berapa banyak orang yang merasakan kehilangan? Berapa banyak orang yang menderita karena kalian?!"
Ucapan Revan kali ini benar-benar menusuk Farel dan Naru. Tepatnya, mereka yang masih belum bisa melepaskan kepergian salah satu rekan mereka.
Naru mengepalkan tangan nya kuat. Ia tidak bisa terima dengan apa yang di katakan Revan. Dengan cepat ia berlari ke arah Revan yang juga sudah kembali mempersiapkan listrik nya. "Jangan banyak bicara kau!!!"
Namun...
"Sudah cukup!"
Klik
"Aakkhhh!!!!!"
__ADS_1
Teriak mereka kesakitan, kecuali Raile dan Riz. Kedua pemuda itu langsung menatap ke arah sang dokter yang membawa semacam alat di tangan nya.
"Kalian... Memang sampah tak berguna."